Pendahuluan:

Masalah Sosiologi Pengetahuan

Pernyataan-pernyataan pokok dari argumen buku ini sudah tersirat dalam judul dan anak judulnya, yakni bahwa kenyataan itu dibangun secara sosial dan bahwa sosiologi pengetahuan harus menganalisa proses terjadinya hal itu. Istilah-istilah kunci dalam pernyataan-pernyataan itu adalah “kenyataan” dan “pengetahuan”, istilah-istilah yang tidak hanya dipakai dalam pembicaraan sehari-hari, tetapi yang sudah melalui suatu sejarah penyelidikan filosofis yang panjang. Di sini kita tidak perlu memasuki suatu pembahasan mengenai seluk-beluk semantik penggunaan istilah itu, dalam kehidupan sehari-hari atau dari segi filsafat. Bagi tujuan kita sudah cukup kiranya jika “kenyataan” didefinisikan sebagai suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yang kita akui sebagai memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri (kita tidak dapat “meniadakannya dengan angan-angan”), sedangkan “pengetahuan” didefinisikan sebagai kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Dalam pengertian (yang diakui simplistis) inilah, istilah-istilah itu mempunyai relevansi, baik bagi orang biasa maupun bagi filsuf.

Orang awam menghuni suatu dunia yang baginya adalah “nyata”, meskipun dalam kadar-kadar yang berbeda, dan ia “tahu”, dengan kadar keyakinan yang berbeda-beda, bahwa dunia ini memiliki karakteristik-karakteristik begini dan begitu. Seorang filsuf, dengan sendirinya, akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai status paling dasar (ultimate status) dari “kenyataan” dan “pengetahuan” ini. Apa yang nyata itu? Bagaimana kita tahu? Ini merupakan dua di antara pertanyaan-pertanyaan yang paling tua, tidak hanya bagi penyelidikan yang sifatnya filosofis semata-mata, tetapi juga dalam pemikiran manusia itu sendiri. justru karena itulah maka ikut campurnya ahli sosiologi dalam wilayah intelektual yang secara tradisional dianggap terhormat ini agaknya akan membuat heran orang awam, dan malahan lebih besar kemungkinannya akan menimbulkan kemarahan sang filsuf. Karena itu, penting bagi kami untuk terlebih dulu menjelaskan dalam arti yang bagaimana kami menggunakan istilah-istilah itu dalam konteks sosiologi, dan bahwa kami serta-merta menolak setiap pretensi yang menyatakan bahwa sosiologi mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah sejak dulu menyibukkan pemikiran filosofis itu.

Seandainya kami ingin sangat cermat dalam argumen-argumen yang dikemukakan, kami tentunya harus menggunakan tanda kutip bagi kedua istilah tersebut setiap kali kami menggunakannya, namun dari segi gaya bahasa hal itu tentunya merikuhkan. Akan tetapi, berbicara tentang tanda kutip, ia dapat memberi petunjuk mengenai kekhasan di mana istilah-istilah ini muncul dalam konteks sosiologis. Kita dapat mengatakan bahwa pemahaman sosiologis mengenai “kenyataan” dan “pengetahuan” kira-kira terletak di tengah-tengah antara pemahaman orang awam dan pemahaman filsuf. Orang awam biasanya tidak berpusing-pusing memikirkan apa yang sudah “nyata” baginya dan mengenai apa yang ia “tahu”, kecuali jika secara tiba-tiba saja ia berhadapan dengan semacam masalah. Ia menerima begitu saja “kenyataan”-nya dan “pengetahuan”nya. seorang sosiolog tidak bisa berbuat seperti itu, justru karena ia mempunyai kesadaran yang sistematis mengenai fakta bahwa orang-orang awam menerima begitu saja “berbagai kenyataan” yang sangat berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Oleh logika disiplinnya itu seorang sosiolog dipaksa untuk bertanya, setidak-tidaknya, apa perbedaan-perbedaan antara kedua “kenyataan” itu mungkin dapat dipahami dalam kaitan dengan pelbagai perbedaan yang terdapat di antara kedua masyarakat. Di pihak lain, filsuf diwajibkan oleh profesinya untuk tidak menerima apa-apa begitu saja, dan untuk memperoleh kejelasan yang maksimal mengenai status paling dasar dari apa yang oleh orang awam dianggap sebagai “kenyataan” dan “pengetahuan” dengan kata lain, seorang filsuf didorong untuk memutuskan kapan orang harus menggunakan tanda kutip dan kapan tanda kutip itu bisa dihilangkan dengan aman; artinya, untuk membedakan antara pernyataan-pernyataan yang sahih—(valid) dan yang tidak sahih mengenai dunia. Ini tidak bisa dilakukan oleh seorang sosiolog. Dengan logika, jika tidak dari segi bahasa, ia harus menggunakan tanda kutip itu.

Sebagai contoh, orang awam mungkin berarnggapan bahwa ia mempunyai “kehendak bebas” dan karena itu ia “bertanggungjawab” atas tindakan-tindakannya, dan dalam pada itu menyangkal adanya “kebebasan” dan “tanggung jawab” ini pada anak kecil dan orang gila. Seorang filsuf, dengan metode apa pun, akan menyelidiki status ontologis dan epistemologis dari konsepsi-konsepsi itu. Apakah manusia itu bebas? Apa itu tanggung jawab? Di mana batas-batas tanggung jawab? Bagaimana orang bisa tahu akan hal-hal itu? Dan seterusnya. Sudah jelas kiranya bahwa sosiolog tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Akan tetapi apa yang dapat dan harus ia lakukan adalah bertanya: apa sebabnya paham tentang “kebebasan” diterima sebagai sudah sewajarnya dalam masyarakat yang satu dan tidak dalam masyarakat yang lain; bagaimana “kenyataan”-nya dipertahankan dalam masyarakat yang satu dan bagaimana—satu hal yang lebih menarik lagi—“kenyataan” ini bisa hilang lagi bagi seseorang atau bagi kolektivitas secara keseluruhan.
Dengan demikian, perhatian sosiologi terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai “kenyataan” dan “pengetahuan”, pada permulaannya dibenarkan oleh fakta relativitas sosialnya. Apa yang “nyata” bagi seorang biarawan Tibet mungkin saja tidak “nyata” bagi seorang pengusaha Amerika. “Pengetahuan” seorang penjahat berbeda dengan “pengetahuan” ahli kriminologi. Ini berarti bahwa kumpulan-kumpulan spesifik dari “kenyataan” dan “pengetahuan” berkaitan dengan konteks-konteks sosial yang spesifik, dan bahwa hubungan-hubungan itu harus dimasukkan ke dalam suatu analisa sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks itu. Dengan demikian maka kebutuhan akan “sosiologi pengetahuan” sudah muncul bersama adanya perbedaan-perbedaan yang bisa diamati di antara berbagai masyarakat dari segi apa yang sudah diterima begitu saja sebagai “pengetahuan” dalam masyarakat-masyarakat itu. Tetapi selain itu, sebuah disiplin yang memakai nama yang demikian akan harus mengarahkan perhatiannya kepada cara-cara umum dengan mana “berbagai kenyataan” dianggap sebagai “diketahui” dalam masyarakat manusia. Dengan kata lain suatu “sosiologi pengetahuan” akan harus menekuni tidak hanya variasi empiris dari “pengetahuan” akan harus menekuni tidak hanya variasi empiris dari “pengetahuan” dalam masyarakat-masyarakat manusia, tetapi juga proses-proses dengan mana setiap perangkat “pengetahuan” (body of “language”) pada akhirnya ditetapkan secara sosial sebagai “kenyataan”.

Maka kami berpendapat bahwa sosiologi pengetahuan harus menekuni apa saja yang dianggap sebagai “pengetahuan” dalam suatu masyarakat, terlepas dari persoalan, kesahihan atau ketidak-sahihan yang paling dasar (menurut kriteria apa pun) dari “pengetahuan” itu. Dan sejauh semua “pengetahuan” manusia itu dikembangkan, dialihkan, dan dipelihara dalam berbagai situasi sosial, maka sosiologi pengetahuan harus berusaha memahami bagaimana proses-proses itu dilakukan, sedemikian rupa sehingga pada akhirnya terbentuklah suatu “kenyataan” yang dianggap sudah sewajarnya oleh orang awam. Dengan kata lain, kami berpendapat bahwa sosiologi pengetahuan menekuni analisa pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

Pemahaman ini, mengenai apa yang merupakan bidang sesungguhnya dari sosiologi pengetahuan, berbeda dengan apa yang pada umumnya dimaksudkan dengan disiplin ini sejak ia diberi nama itu sekitar empatpuluh tahun yang lampau. Karena itu sebelum kami memulai dengan argumen kami yang sebenarnya, kiranya bermanfaat untuk memberikan gambaran singkat mengenai perkembangan yang telah dilalui oleh disiplin ini, dan untuk menjelaskan dengan cara bagaimana, dan apa sebabnya, kami merasa perlu untuk menyimpang darinya, istilah “sosiologi pengetahuan” (Wissenssoziologie) diciptakan oleh Max Scheler. Waktunya dasawarsa 1920an, tempatnya di Jerman, dan Scheler adalah seorang filsuf. Ketiga fakta itu sangat penting bagi pemahaman mengenai asal-mula dan perkembangan disiplin baru itu selanjutnya. Sosiologi pengetahuan lahir dalam suatu situasi khusus dalam sejarah intelektual Jerman dan dalam suatu konteks filosofis. Sementara disiplin baru itu kemudian dimasukkan ke dalam konteks sosiologi yang sudah ada, khususnya di dunia yang berbahasa Inggris, ia terus ditandai oleh masalah-masalah dari situasi intelektual khusus di mana ia dilahirkan. Akibatnya, sosiologi pengetahuan tetap hanya mendapat perhatian sampingan saja di kalangan sosiolog pada umumnya, yang tidak menghadapi masalah-masalah khusus yang sama seperti yang telah memusihngkan para pemikir Jerman dalam tahun 1920an. Hal ini terutama berlaku bagi para sosiolog Amerika, yang terutama memandang disiplin itu sebagai suatu spesialitas marjinal saja dengan bumbu Eropa yang pedas. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa terus dikaitkannya sosiologi pengetahuan kepada konstelasi permasalahan semula, telah merupakan suatu kelemahan teoritis, bahkan di mana sudah ada minat terhadap disiplin itu. Sebagai contoh, sosiologi pengetahuan telah dipandang—oleh para protagonisnya dan khalayak sosiologi pada umumnya yang sedikit-banyaknya bersikap masa bodoh—sebagai semacam catatan-catatan sosiologis mengenai sejarah pemikiran. Ini menyebabkan timbulnya pandangan yang sangat dangkal mengenai arti teoritis yang potensial dari sosiologi pengetahuan.

Ada berbagai definisi mengenai hakikat dan cakupan sosiologi pengetahuan. Sesungguhnya hampir-hampir dapat dikatakan bahwa sejarah subdisiplin itu hingga kini hanya merupakan sejarah berbagai definisinya. Namun demikian, ada suatu kesepakatan umum yang menyatakan bahwa sosiologi pengetahuan menekuni hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul. Dengan demikian—bisa dikatakan bahwa sosiologi pengetahuan merupakan fokus sosiologis dari suatu masalah yang jauh lebih umum, yakni masalah determinasi eksistensial (Seinsgebundenheit) dari pemikiran sebagai pemikiran. Meskipun dalam hal ini faktor sosial menjadi pusat perhatian, kesulitan-kesulitan teoritisnya serupa dengan yang telah timbul ketika faktor-faktor lain (seperti faktor-faktor historis, psikologis atau biologis) dianggap sebagai yang menentukan pemikiran manusia. Dalam semua kasus itu, masalah pada umumnya adalah sampai sejauh mana pemikiran mencerminkan, atau tidak, tergantung kepada faktor-faktor yang dianggap menentukan itu.

Agaknya, menonjolnya masalah umum ini dalam filsafat Jerman belakangan ini, berakar dalam akumulasi ilmu pengetahuan sejarah yang sangat besar, yang merupakan salah satu buah intelektual abad ke 19 di Jerman. Dengan cara yang tiada bandingannya dalam periode sejarah intelektual lain yang mana pun, masa lampau, dengan segala ragam bentuk pemikirannya yang menakjubkan, telah “dihadirkan” dalam alam pikiran kontemporer melalui upaya kesarjanaan ilmiah yang historis. Sulit untuk menyangkal hak para sarjana Jerman atas tempat pertama dalam upaya ini. Karena itu kita tidak perlu merasa heran bahwa masalah teoritis yang diketengahkan oleh yang disebut belakangan itu dirasakan paling tajam di Jerman. Masalah ini dapat dilukiskan sebagai vertigo (kepeningan) relativitas. Dimensi epistemologis masalah ini sudah jelas. Pada tingkat empiris, ia menuju kepada keprihatinan untuk menyelidiki seteliti mungkin hubungan-hubungan yang kongkrit antara pemikiran dan situasi historisnya. Jika interpretasi ini benar, maka sosiologi pengetahuan mengambil-alih masalah yang tadinya diketengahkan oleh sarjana sejarah—dengan fokus yang lebih sempit, memang, namun dengan perhatian kepada berbagai pertanyaan yang pada pokoknya sama.

Baik masalah yang umum maupun yang lebih sempit fokusnya, bukanlah hal-hal baru. Suatu kesadaran mengenai landasan sosial dari nilai-nilai dan pandangan mengenai dunia dapat kita jumpai di jaman purba. Setidak-tidaknya sudah sejak Jaman Pencerahan kesadaran itu sudah menghablur menjadi suatu tema penting dalam pemikiran Barat modern. Dengan demikian orang dapat mengemukakan landasan yang kuat bagi sejumlah genealogi untuk masalah sentral dari sosiologi pengetahuan. Bahkan dapat dikatakan bahwa masalah itu sudah terkandung in nuce dalam pernyataan Pascal yang terkenal bahwa apa yang merupakan kebenaran di sebelah sini pegunungan Pirena merupakan kekeliruan di sebelah sananya. Namun para pendahulu intelektual yang paling langsung dari sosiologi pengetahuan adalah tiga perkembangan dalam pemikiran Jerman abad ke 19—pemikiran gaya Marx, gaya Nietzsche dan gaya penganut historisme.

Sosiologi pengetahuan memperoleh proposisi akarnya dari Marx—yakni bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan sosialinya. Memang telah banyak perdebatan tentang macam determinasi yang bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan oleh Marx. kIranya tidak akan meleset untuk mengatakan bahwa sebagian besar dari “pertarungan besar dengan Marx” yang telah menandai tidak hanya bagian awal sosiologi pengetahuan melainkan juga “jaman klasik” sosiologi pada umumnya (khususnya sebagaimana yang dimanifestasikan dalam karya-karya Weber, Durkheim dan Pareto), sesungguhnya merupakan suatu pertarungan dengan interpretasi yang salah mengenai Marx yang dianut oleh orang-orang Marxis yang lebih kemudian. Proposisi ini menjadi lebih masuk akal apabila kita mengingat kembali bahwa baru di tahun 1932 orang menemukan kembali Economic and Philosophical Manuscripts of 1844 yang sangat penting itu, dan bahwa baru sesudah Perang Dunia Kedua implikasi-implikasi sepenuhnya dari penemuan kembali itu dapat dikembangkan dalam penelitian mengenai Marx. Bagaimana pun, sosiologi pengetahuan telah mewarisi dari Marx bukan hanya perumusan yang paling tajam dari masalah sentralnya, tetapi juga beberapa dari konsep-konsep kuncinya. Di antaranya perlu disebutkan secara khusus konsep-konsep tentang “ideologi” (ide-ide yang merupakan senjata bagi berbagai kepentingan sosial) dan tentang “kesadaran palsu” (alam pikiran yang teralienasi dari keberadaan sosial yang sebenarnya dari si pemikir).

Sosiologi pengetahuan sangat terpesona oleh konsep kembar Marx tentang “substrukstur/superstruktur” (Unterbau/Ueberbau). Khususnya mengenai istilah ini telah berkobar perdebatan mengenai interpretasi yang gencar mengenai pemikiran Marx sendiri. Marxisme yang lebih kemudian cenderung untuk mengidentifikasi “substruktur” iut dengan struktur ekonomi semata-mata, lalu “superstrukturnya” diandaikan sebagai suatu “refleksi” yang langsung darinya. (Begitulah, umpamanya, Lenin). Sekarang sudah cukup jelas bahwa hal itu merupakan penggambaran yang salah mengenai pemikiran Marx, karena sifat yang pada pokoknya mekanistis dan bukannya dialektis dari jenis determinisme ekonomis ini mestinya membuat orang menjadi curiga. Yang merupakan pokok perhatian Marx adalah bahwa pemikiran manusia didasarkan atas kegiatan manusia (“kerja” dalam arti yang seluas-luasnya) dan atas hubungan-hubungan sosial yang ditimbulkan oleh kegiatan itu. “Substruktur” dan “superstruktur” dapat dipahami paling baik jika kita memandangnya, berturut-turut, sebagai kegiatan manusia dan dunia yang dihasilkan oleh kegiatan itu. Bagaimanapun, skema “sub/superstruktur” yang mendasar itu telah diambil-alih dalam berbagai bentuknya oleh sosiologi pengetahuan, dimulai dengan Scheler, selalu dengan pengertian bahwa ada semacam hubungan antara pemikiran dan suatu “kenyataan” yang mendasarinya, yang lain dari pemikiran itu sendiri. dalam pesona skema itu dapat bertahan terus meskipun dalam kenyataannya sebagian besar dari sosiologi pengetahuan secara eksplisit telah dirumuskan dengan cara yang berlawanan dengan Marxisme, dan berbagai pendirian telah timbul di dalamnya mengenai sifat hubungan antara kedua komponen skema itu.

Gagasan-gagasan Nietzsche tidak begitu eksplisit kelanjutannya di dalam sosiologi pengetahuan, namun gagasannya itu sangat mewarnai latar belakang intelektual umumnya dan “suasana batin” di mana ia telah timbul. Anti-idealisme Nietzsche, yang meskipun berbeda dalam hal ini, tidak berbeda dalam hal bentuknya dengan anti-idealisme Marx, yang memberikan perspektif tambahan mengenai pemikiran manusia sebagai satu alat dalam perjuangan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan untuk berkuasa. Nietzsche telah mengembangkan teorinya sendiri mengenai “kesadaran palsu” di dalam analisa-analisanya mengenai arti sosial dari penipuan dan penipuan diri (deception and self-deception) dan mengenai ilusi sebagai suatu syarat hidup yang perlu. Konsep Nietzsche mengenai dendam sebagai suatu faktor generatif bagi tipe-tipe tertentu dari pemikiran manusia telah diambil-alih secara langsung oleh Scheler. Tetapi secara umum sekali orang dapat mengatakan bahwa sosiologi pengetahuan merupakan suatu penerapan yang spesifik dari apa yang oleh Nietzsche dengan tepat sekali dinamakan “seni mencurigai”.

Historisisme, terutama sebagaimana yang diekspresikan dalam karya Wilhelm Dilthey, secara langsung mendahului sosiologi pengetahuan. Temanya yang dominan adalah kesadaran yang sangat kuat mengenai relativitas semua perspektif mengenai berbagai peristiwa manusia; artinya mengenai historisitas yang tak terelakkan dari pemikiran manusia. Sikap penganut historisisme yang bersikeras bahwa tidak ada situasi historis yang dapat dimengerti kecuali atas dasar persyaratan-persyaratannya sendiri, dengan mudah bisa diterjemahkan ke dalam pemberian tekanan kepada situasi sosial dari pemikiran. Konsep-konsep historisisme tertentu—seperti “determinasi situasional” (Standortsgebundenheit) dan “kedudukan dalam kehidupan” (Sitz im Leben)—dapat diterjemahkan secara langsung sebagai mengacu kepada “lokasi sosial” dari pemikiran. Secara lebih umum lagi, warisan dari historisisme yang diperoleh sosiologi pengetahuan menyebabkan yang disebut belakangan itu memperoleh kecenderungan ke arah suatu minat yang kuat dalam sejarah dan penggunaan suatu metode yang pada pokoknya historis—suatu fakta yang, secara sambil lalu dapat dikemukakan di sini, juga menyebabkannya memperoleh tempat yang marjinal saja dalam lingkungan sosiologi Amerika.

Minat Scheler dalam sosiologi pengetahuan, dan dalam persoalan-persoalan sosiologis pada umumnya, pada pokoknya hanya merupakan satu episode yang sepintas saja dalam karir filosofisnya. Tujuan akhirnya adalah pembentukan suatu antropologi filosofis yang akan mengatasi relativitas sudut-sudut pandang yang berlokasi spesifik historis dan sosial. Sosiologi pengetahuan lalu akan menjadi alat untuk mencapai tujuan ini, dan tugas utamanya adalah untuk menembus kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh relativisme sehingga tugas filsafat yang sesungguhnya dapat dimulai. Dalam arti yang sangat nyata, sosiologi pengetahuan Scheler itu merupakan ancilla philosophiae (pembantu filsafat), dan malahan pembantu bagi filsafat yang sangat spesifik pula.

Sejalan dengan orientasi ini, sosiologi pengetahuan Scheler pada pokoknya merupakan sebuah metode negatif. Scheler mengemukakan argumen bahwa hubungan antara “faktor-faktor ideal” (Idealfaktoren) dan “faktor-faktor nyata” (Realfaktoren),—istilah-istilah yang jelas mengingatkan orang pada skema “sub/superstruktur” menurut Marx—hanya merupakan hubungan yang regulatif saja. Artinya, “faktor-faktor nyata” mengatur kondisi-kondisi di mana “faktor-faktor ideal” tertentu dapat tampil dalam sejarah, tetapi tidak dapat mempengaruhi isi dari yang disebut belakangan itu. Dengan kata lain, masyarakat menentukan kehadiran (Dasein) tetapi tidak menentukan hakikat (Sosein) ide-ide. Maka, sosiologi pengetahuan itu merupakan prosedur dengan mana seleksi sosio-historis dari isi ide-ide harus ditelaah, dengan pengertian bahwa isi itu sendiri tidak tergantung kepada sebab-musabab sosio-historis dan dengan demikian tertutup bagi analisa sosiologis. Sekiranya mungkin untuk memberikan suatu deskripsi yang gamblang mengenai metode Scheler itu, maka metodenya itu dapat diumpamakan melemparkan sepotong makanan yang besar kepada ular naga relativitas, tetapi hanya dengan cara yang begitu rupa sehingga orang dapat dengan lebih mudah memasuki puri kepastian ontologis, di dalam kerangka yang dengan sengaja (dan memang tak terelakkan) dibuat sederhana ini, Scheler menganalisa dengan sangat terinci cara pengetahuan manusia dibentuk oleh masyarakat. Ia menandaskan bahwa pengetahuan manusia diberikan dalam masyarakat sebagai suatu a priori bagi pengalaman individu dengan memberikan kepadanya tatanan maknanya. Tatanan ini, meskipun tergantung kepada suatu situasi sosio-historis tertentu, menampakkan diri kepada individu sebagai cara yang sudah sewajarnya untuk memandang dunia. Scheler menamakannya “pandangan dunia yang relatif-natural” (relativnaturliche Weltanschauung) dari suatu masyarakat—sebuah konsep yang mungkin masih dapat dianggap sebagai sentral bagi sosiologi pengetahuan.

Sesudah “penemuan” sosiologi pengetahuan oleh Scheler itu, berlangsung perdebatan yang luas di Jerman mengenai kesahihan, ruang lingkup dan penerapan disiplin baru itu. Dari perdebatan ini lahirlah sebuah rumusan yang menandai pengalihan letak sosiologi pengetahuan ke dalam suatu konteks sosiologi yang lebih sempit. Dengan rumusan itulah sosiologi pengetahuan sampai di dunia berbahasa Inggris. Rumusan itu adalah yang dibuat oleh Karl Mannheim. Kiranya tidak akan meleset untuk mengatakan bahwa apabila para ahli sosiologi sekarang berpikir tentang sosiologi pengetahuan, pro atau kontra, mereka biasanya menggunakan rumusan Mannheim. Dalam sosiologi Amerika hal itu mudah dimengerti apabila orang ingat bahwa boleh dikatakan semua karya Mannheim sudah dapat dibaca dalam bahasa Inggeris (dan beberapa di antaranya memang ditulis dalam bahasa Inggris, dalam periode ketika Mannheim mengajar di Inggeris sesudah bangkitnya Nazisme di Jerman, atau diterbitkan dalam versi-versi Inggris yang sudah direvisi), sedangkan karya Scheler mengenai sosiologi pengetahuan hingga kini masih belum diterjemahkan. Terlepas dari faktor “penyebaran” ini, karya Mannheim tidak begitu dibebani dengan “bagasi” filsafat dibandingkan dengan karya Scheler. Khususnya hal ini berlaku bagi tulisan-tulisan Mannheim yang lebih kemudian dan dapat dilihat apabila kita memperbandingkan versi Inggris dari karya utamanya, Ideology and Utopia, dengan karangan aslinya dalam bahasa Jerman. Dengan demikian Mannheim menjadi tokoh yang lebih “cocok” bagi para sarjana sosiologi, bahkan bagi mereka yang bersikap kritis atau tidak begitu saja berminat terhadap cara pendekatannya.

Pemahaman Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan jauh lebih besar jangkauannya dibandingkan dengan pemahaman Scheler, mungkin karena konfrontasi dengan Marxisme lebih menonjol dalam karyanya itu. Dalam karyanya itu, masyarakat dilihat sebagai menentukan, tidak hanya penampakan melainkan juga isi dari ideasi manusia, dengan mengecualikan matematika dan setidak-tidaknya bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu alam. Dengan demikian, sosiologi pengetahuan menjadi suatu metode yang positif bagi penelaahan hampir setiap faset pemikiran manusia, yang menarik adalah bahwa perhatian utama Mannheim tertuju kepada gejala ideologi. Ia membedakan antara konsep-konsep ideologi yang partikular, yang total dan yang umum—ideologi sebagai yang hanya merupakan satu bagian saja dari pemikiran seorang lawan (serupa dengan “kesadaran palsu” menurut Marx); dan (di sini Mannheim beranggapan bahwa ia melangkah lebih jauh dari Marx); ideologi sebagai karakteristik tidak hanya dari pemikiran lawan melainkan juga dari pemikiran sendiri. dengan konsep ideologi yang umum, dicapailah tingkat sosiologi pengetahuan—pehamanan bahwa tak ada pemikiran manusia (dengan mengecualikan hal-hal seperti yang telah disebutkan di atas) yang kebal terhadap pengaruh-pengaruh ideologisasi dari konteks sosialnya. Dengan perluasan teori ideologi ini, Mannheim berusaha untuk memisahkan masalahnya yang sentral dari konteks penggunaannya yang lazim dalam politik dan untuk memperlakukannya sebagai suatu masalah umum dari epistemologi dan sosiologi historis.

Meskipun Mannheim tidak mempunyai ambisi ontologis seperti pada Scheler, ia merasa canggung dengan kenyataan bahwa pemikirannya tampaknya menjuruskannya ke dalam pan-ideologisme. Ia menciptakan istilah “relasionisme” (relationism, yang berbeda dengan “relativisme”) untuk menunjukkan perspektif epistemologis dari sosiologi pengetahuan—yang bukan merupakan kapitulasi pemikiran di hadapan berbagai relativitas sosio-historis, melainkan suatu pengakuan yang bijaksana bahwa pengetahuan selalu merupakan pengetahuan dari segi suatu posisi tertentu. Pengaruh Dilthey mungkin sangat penting pada titik ini dalam pemikiran Mannheim—masalah Marxisme dipecahkan dengan alat-alat historisisme. Bagaimanapun, Mannheim berpendapat bahwa pengaruh-pengaruh ideologisasi, meski tidak bisa dihilangkan sama sekali, dapat diperlunak melalui analisa yang sistematis dari sebanyak mungkin posisi yang berbeda dan yang mempunyai landasan sosial. Dengan kata lain, objek pemikiran secara berangsur-angsur menjadi lebih jelas dengan adanya akumulasi berbagai perspektif mengenainya. Ini merupakan tugas sosiologi pengetahuan, yang dengan demikian merupakan alat pembantu yang penting dalam upaya memperoleh pemahaman yang benar mengenai peristiwa-peristiwa manusia.

Mannheim berpendapat bahwa kelompok-kelompok sosial yang berbeda sangat bervariasi dalam kemampuan mereka untuk mengatasi posisi mereka sendiri yang sempit. Ia menaruh harapan utamanya pada “kaum intelegensia yang secara sosial tidak terikat” (freischwebende Intelligenz, sebuah istilah yang berasal dari Alfred Weber), semacam tataran (stratum) yang berada di celah-celah kelas yang ia anggap relatif bebas dari kepentingan-kepentingan kelas. Mannheim juga menandaskan kekuatan pemikiran “utopis” yang—seperti ideologi—melahirkan suatu gambaran yang menyimpang mengenai kenyataan sosial, tetapi yang—berbeda dengan ideologi—memiliki dinamisme untuk mengubah kenyataan itu menjadi apa yang merupakan gambaran darinya.

Kiranya tak perlu dikatakan lagi bahwa catatan-catatan di atas itu bagaimanapun tidak dapat memberikan gambaran yang lengkap mengenai konsepsi Scheler maupun Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan. Dan itu bukan maksud kami di sini. Kami hanya sekedar menunjukkan beberapa ciri utama dari kedua konsepsi itu, yang dengan tepat sekali dinamakan masing-masing, konsepsi sosiologi pengetahuan yang “moderat” dan yang “radikal.” Yang luar biasa adalah bahwa perkembangan selanjutnya dari sosiologi pengetahuan, untuk sebagian besar, terdiri dari berbagai kritik dan modifikasi atas kedua konsepsi itu. Seperti telah kami kemukakan, rumusan Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan masih terus menentukan kerangka acuan (terms of reference) bagi disiplin itu dengan cara yang definitif, khususnya sosiologi di dunia yang berbahasa Inggris.

Sosiolog Amerika yang paling penting, yang telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada sosiologi pengetahuan, adalah Robert Merton. Pembahasannya mengenai disiplin itu, yang mencakup dua bab dalam karya utamanya, telah merupakan sebuah pengantar yang bermanfaat ke dalam bidang itu bagi sosiolog-sosiolog Amerika yang menaruh minat kepadanya. Merton telah menyusun sebuah paradigma bagi sosiologi pengetahuan, dengan merumuskan kembali tema-tema utamanya dalam bentuk yang padat dan koheren. Konstruksinya itu menarik, karena ia merupakan upaya untuk mengintegrasikan cara pendekatan sosiologi pengetahuan dengan cara pendekatan teori struktural-fungsional. Konsep-konsep Merton sendiri mengenai fungsi-fungsi yang “manifes” dan yang “laten” diterapkan pada bidang ideasi, di mana diadakan pembedaan antara fungsi-gungsi ide yang sengaja dan disadari dari dan fungsi-fungsinya yang tidak disengaja dan yang tidak disadari. Sementara Merton memusatkan perhatiannya kepada karya Mannheim, yang baginya merupakan ahli sosiologi pengetahuan par excellence, ia juga menandaskan pentingnya mazhab Durkheim dan karya Piritim Sorokin. Yang menarik adalah bahwa Merton rupa-rupanya tidak melihat relevansi perkembangan-perkembangan penting tertentu dalam psikologi sosial Amerika bagi sosiologi pengetahuan, seperti teori kelompok acuan, yang dbahasnya dalam bagian lain dari karya yang sama.

Talcott Parsons juga telah mengomentari sosiologi pengetahuan. Namun komentarnya itu hanya terbatas kepada suatu kritik terhadap Mannheim dan tidak berusaha mengintegrasikan disiplin itu ke dalam sistem teorinya sendiri. dalam sistem teori Parsons itu, “masalah penanan ide-ide” memang dianalisa secara panjang-lebar, tetapi dalam suatu kerangka referensi yang sangat berbeda dengan kerangka referensi sosiologi pengetahuan Scheler ataupun Mannheim. Karena itu kami dapat mengatakan bahwa baik Merton maupun Parsons tidak pernah melampaui—dengan suatu cara yang menentukan—sosiologi pengetahuan seperti yang telah dirumuskan Mannheim. Hal yang sama juga dapat dikatakan mengenai pengkritik-pengkritik mereka. Yang paling nyaring suaranya di antara mereka, yakin C. Wright Mills, telah membahas sosiologi pengetahuan dalam karyanya yang terdahulu, tetapi hanya bersifat penjelasan saja, tanpa memberi sumbangan kepada pengembangan teoritisnya.

Suatu upaya yang menarik untuk mengintegrasikan sosiologi pengetahuan dengan suatu pendekatan neo-positivis terhadap sosiologi pada umumnya adalah yang dilakukan oleh Theodor Geiger, yang besar pengaruhnya terhadap sosiologi Skandinavia sesudah ia beremigrasi dari Jerman. Geiger telah kembali pada suatu konsep ideologi yang lebih sempit sebagai pikiran yang menyimpang secara sosial dan ia tetap berpegang kepada kemungkinan untuk mengatasi ideologi dengan jalan berpegang teguh kepada norma-norma prosedur ilmu pengetahuan. Cara pendekatan neo-positivis terhadap analisa ideologi lebih belakangan ini telah dilanjutkan di dalam sosiologi di negara-negara yang berbahasa Jerman, yakni dalam karya Ernst Topitsche, yang menekankan akar-akar ideologis dari berbagai posisi filosofis.
Sejauh analisa sosiologis dari ideologi-ideologi merupakan satu bagian yang penting dari sosiologi pengetahuan seperti yang telah dirumuskan oleh Mannheim, terdapat perhatian yang besar terhadapnya dalam sosiologi Eropa maupun Amerika sejak Perang Dunia Kedua. Barangkali upaya yang mempunyai jangkauan yang paling jauh untuk melampaui Mannheim dalam pembangunan sebuah sosiologi pengetahuan yang komprehensif, adalah yang dilakukan olerh Werner Stark, seorang sarjana lainnya yang beremigrasi dari Daratan Eropa dan pernah mengajar di Inggris dan di Amerika Serikat. Stark telah melangkah lebih jauh dalam meninggalkan fokus Mannheim kepada masalah ideologi. Tugas sosiologi pengetahuan bukanlah untuk membersihkan dari prasangka atau menelanjangi distorsi-distorsi yang ditimbulkan secara sosial, melainkan untuk menelaah secara sistematis kondisi-kondisi sosial bagi pengetahuan sebagai pengetahuan. Secara sederhana, masalah sentral di sini adalah sosiologi kebenaran, bukan sosiologi kekeliruan. Meskipun cara pendekatannya berbeda, Stark barangkali lebih dekat ke Scheler daripada ke Mannheim dalam pemahamannya mengenai hubungan antara gagasan-gagasan dan konteks sosialnya.

Sekali lagi, kiranya sudah jelas bahwa kami tidak berusaha untuk memberikan suatu tinjauan umum historis yang memadai mengenai sejarah sosiologi pengetahuan. Selain itu, hingga di sini kami tidak menghiraukan perkembangan-perkembangan yang secara teoritis mungkin relevan bagi sosiologi pengetahuan, tetapi tidak dianggap demikian oleh protagonis-protagonisnya sendiri. dengan kata lain, kami telah membatasi pembahasan pada perkembangan-perkembangan yang, katakanlah, telah berlayar dengan mengibarkan bendera “sosiologi pengetahuan” (dengan menganggap teori ideologi sebagai bagian darinya). Ini telah membuat satu fakta menjadi sangat jelas. Terlepas dari keprihatinan epistemologis dari sejumlah sarjana sosiologi pengetahuan, pusat perhatian empirisnya hampir semata-mata ditujukan kepada bidang ide-ide: artinya, kepada pemikiran teoritis. Ini juga berlaku bagi Stark, yang karya utamanya mengenai sosiologi diberi anak judul An Essay in Aid of a Deeper Understanding of the History of Ideas (Sebuah esei untuk membantu memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah pemikiran). Dengan kata lain, perhatian sosiologi pengetahuan ditujukan kepada persoalan-persoalan epistemologis pada tingkat teoritis, pada persoalan-persoalan sejarah intelektual pada tingkat empiris.

Kami ingin menekankan bahwa kami tidak mempunyai keberatan-keberatan apa pun mengenai kesahihan dan pentingnya arti kedua perangkat persoalan itu. Namun demikian, kami menyayangkan bahwa konstelasi yang khusus ini telah mendominasi sosiologi pengetahuan hingga kini. Kami berpendapat bahwa, sebagai akibatnya, arti teoretis yang sepenuhnya dari sosiologi pengetahuan, telah menjadi kabur.
Memasukkan persoalan-persoalan epistemologis mengenai kesahihan pengetahuan sosiologis ke dalam sosiologi pengetahuan, agaknya bagaikan usaha seseorang untuk mendorong sebuah bis sambil duduk di dalamnya. Memang benar bahwa sosiologi pengetahuan—seperti semua disiplin empiris yang menghimpun bukti-bukti tentang relativitas dan mendeterminasi pemikiran manusia—menuju ke arah persoalan-persoalan epistemologis mengenai sosiologi itu sendiri dan setiap perangkat pengetahuan ilmiah lainnya. Seperti telah kami kemukakan di atas, dalam hal ini sosiologi pengetahuan memainkan peran yang serupa dengan sejarah, psikologi dan biologi, untuk hanya menyebutkan tiga disiplin yang paling penting yang telah menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi epistemologi. Struktur logis dari kesulitan ini pada dasarnya sama dalam semua kasus: Bagaimana saya bisa merasa pasti, katakanlah, mengenai analisa sosiologis saya tentang mores (adat-istiadat) kelas menengah Amerika, jika diingat bahwa kategori-kategori yang saya gunakan untuk analisa ini dikondisikan oleh bentuk-bentuk pemikiran yang historis relatif yakni bahwa saya sendiri dan segala hal yang saya pikirkan ditentukan oleh genes saya dan oleh rasa permusuhan yang telah tumbuh dalam batin saya terhadap sesama manusia, dan bahwa—diatas segala-galanya—saya sendiri adalah anggota kelas menengah Amerika?
Sekali-kali bukanlah maksud kami untuk mengesampingkan begitu saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Yang dapat kami kemukakan di sini hanyalah bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sendiri tidak merupakan bagian dari disiplin sosiologi yang empiris itu. Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya termasuk dalam metodologi ilmu-ilmu sosial, suatu bidang yang termasuk dalam filsafat dan menurut definisinya lain dari sosiologi, yang memang merupakan satu objek dari penyelidikan-penyelidikannya. Sosiologi pengetahuan, bersama-sama dengan berbagai disiplin lainnya di kalangan ilmu-ilmu empiris yang menimbulkan berbagai kesulitan bagi epistemologi, akan memberikan masalah-masalah sebagai “bahan” bagi penyelidikan metodologis ini. Ia tidak dapat memecahkan masalah-masalah itu di dalam kerangka referensinya sendiri.

karena itu kami mengeluarkan dari sosiologi pengetahuan masalah-masalah epistemologis dan metodologis yang telah memusingkan kedua peletak-dasarnya yang utama. Dengan mengeluarkan kedua jenis masalah itu, kami memisahkan diri dari konsepsi Scheler dan mannheim mengenai disiplin itu, dan dari sarjana-sarjana sosiologi pengetahuan yang lebih kemudian (khususnya mereka yang mempunyai orientasi neo-positivis) yang dalam hal ini menganut konsepsi itu. Dalam keseluruhan buku ini kami dengan tegas menempatkan di antara “tanda kurung” (yakni tidak mempersoalkan) setiap persoalan epistemologis atau metodologis mengenai kesahihan analisa sosiologis, dalam sosiologi pengetahuan itu sendiri atau dalam bidang-bidang lainnya. Kami menganggap sosiologi pengetahuan sebagai bagian dari disiplin sosiologi empiris. Sudah tentu, tujuan kami di sini adalah teoritis. Tetapi pembahasan teoretis kami mengacu pada disiplin empiris dalam masalah-masalahnya yang kongkrit, tidak kepada penyelidikan filosofis mengenai dasar-dasar disiplin empiris itu. Pendek kata, upaya kami di sini merupakan upaya dalam teori sosiologi, bukan dalam metodologi sosiologi. Hanya dalam satu bagian dari karangan kami ini (bagian sesudah Pendahuluan ini) kami memang melampaui bidang teori sosiologi yang sesungguhnya, tetapi ini kami lakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang tidak ada kaitannya dengan epistemologi, seperti yang akan kami jelaskan nanti.
Tetapi, kami juga harus mendefinisikan kembali tugas sosiologi pengetahuan pada tingkat empiris; artinya, sebagai teori yang disesuaikan dengan disiplin sosiologi empiris. Seperti telah kita lihat, pada tingkat ini sosiologi pengetahuan menekuni sejarah intelektual dalam arti sejarah gagasan-gagasan. Begitu pula kami ingin menandaskan bahwa hal ini benar-benar merupakan satu fokus yang sangat penting bagi penyelidikan sosiologis. Selain itu, sebagai kontras dengan sikap kami untuk tidak membahas masalah epistemologis/metodologis, kami mengakui bahwa fokus ini memang termasuk dalam sosiologi pengetahuan. Namun demikian, kami berpendapat bahawa masalah “ide-ide” termasuk masalah yang khusus mengenai ideologi, hanya merupakan satu bagian dari masalah sosiologi pengetahuan yang lebih luas, dan malahan tidak merupakan bagian yang sentral darinya.

Sosiologi pengetahuan harus menekuni segala-sesuatu yang dianggap sebagai “pengetahuan” dalam masyarakat. Apabila kita sudah menyatakan hal ini, kita akan menyadari bahwa fokus terhadap sejarah intelektual merupakan pilihan yang salah, atau lebih tepat, merupakan pilihan yang salah apabila ia menjadi fokus sentral dari sosiologi pengetahuan. Pemikiran teoritis, “gagasan-gagasan”, Weltanschauung, tidaklah begitu penting dalam masyarakat. Walaupun tiap masyarakat memiliki gejal-gejala itu, namun semua itu hanyalah merupakan bagian dari keseluruhan yang dianggap sebagai “pengetahuan”. Hanya satu kelompok oprang yang sangat terbatas saja—dalam tiap masyarakat—yang melakukan kegiatan dalam bidang teori, dalam urusan “gagasan-gagasan”, dan dalam penyusunan Weltanschauung. Tetapi tiap orang dalam masyarakat berpartisipasi dalam “pengetahuan”-nya, dengan cara tertentu. Dengan kata lain, hanya segelintir orang saja yang menekuni soal penafsiran teoritis atas dunia, tetapi setiap orang bagaimanapun hidup dalam suatu dunia, apa pun jenisnya. Tidak saja fokus yang ditujukan kepada pemikiran teoritis itu sifatnya terlalu membatasi sosiologi pengetahuan, tetapi ia juga tidak memuaskan karena bahkan bagian “pengetahuan” yang tersedia secara sosial ini pun bisa dimengerti sepenuhnya apabila ia tidak ditempatkan di dalam kerangka analisa “pengetahuan” yang lebih umum.
Melebih-lebihkan arti penting dari pemikiran teoritis dalam masyarakat dan sejarah merupakan kelemahan kodrati para ahli teori. Karena itu menjadi semakin perlu untuk meluruskan salah pengertian intelektualistis ini. Perumusan teoritis dari kenyataan, apakah itu ilmiah atau filosofis atau bahkan mitologis, tidak mencakup keseluruhan apa yang “nyata” bagi anggota-anggota suatu masyarakat. Karena itu, sosiologi pengetahuan pertama-tama harus menyibukkan diri dengan apa yang “diketahui” oleh masyarakat sebagai “kenyataan” dalam kehidupan mereka sehari-hari yang tidak teoritis atau yang pra-teoritis. Dengan kata lain, “pengetahuan” akal sehat (common sense), dan bukannya “gagasan-gagasan, yang harus merupakan pusat perhatian sosiologi pengetahuan. Justru “pengetahuan” inilah yang merupakan jaringan makna yang tanpa itu tak satu pun masyarakat dapat hidup.

Karena itu sosiologi pengetahuan harus mengarahkan perhatiannya pada pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality). Analisa atas artikulasi teoritis dari kenyataan ini tentunya akan terus merupakan bagian dari kegiatan itu, tapi bukan bagian yang paling penting. Akan jelas kiranya bahwa, walaupun masalah epistemologis/metodologis tidak diikutsertakan, apa yang kami sarankan di sini adalahsuatu pendefinisian kembali yang berjangkauan jauh mengenai lingkup sosiologi pengetahuan, yang jauh lebih luas dari apa yang hingga kini dipahami sebagai disiplin ini.

Lalu timbul persoalan-persoalan tentang ramuan teoritis yang bagaimanakah, yang seyogyanya ditambahkan kepada sosiologi pengetahuan untuk memungkinkan pendefinisian kembali sebagaimana dimaksudkan di atas. Kami berhutang budi kepada Alfred Schutz dalam hal pemahaman yang fundamental mengenai perlunya diadakan pendefinisian kembali itu. Dalam seluruh karyanya, baik sebagai filsuf maupun sebagai sosiolog, Schutz telah memusatkan perhatiannya kepada struktur dunia akal sehat (commonsense world) dari kehidupan sehari-hari. Meskipun ia sendiri tidak mengelaborasikan suatu sosiologi pengetahuan, ia jelas melihat ke mana disiplin ini harus difokuskan:

Semua tipifikasi cara berpikir akal sehat sesungguhnya merupakan unsur-unsur integral dari Lebenswelt sosio-kultural historis yang kongkrit di dalam mana mereka berlaku sebagai hal-hal yang dianggap sudah sewajarnya dan mendapat pengesahan masyarakat. Struktur mereka menentukan, antara lain, distribusi sosial pengetahuan dan relativitas serta relevansinya bagi lingkungan sosial yang kongkrit dalam situasi historis yang kongkrit. Di sini terdapat masalah-masalah yang sah mengenai relativisme, historisisme, dan apa yang dinamakan sosiologi pengetahuan.

Lebih lanjut:

Pengetahuan didistribusikan secara sosial dan mekanisme distribusi ini dapat dijadikan pokok bahasan suatu disiplin sosiologi. Memang benar bahwa kita mempunyai apa yang dinamakan sosiologi pengetahuan. Namun demikian, dengan sedikit sekali kekecualian, disiplin yang diberi nama secara salah itu telah mendekati maslah distribusi sosial pengetahuan hanya dari sudut landasan ideologis dari kebenaran, dalam ketergantungannya kepada kondisi-kondisi sosial dan, terutama, kepada kondisi-kondisi ekonomi, atau dari sudut implikasi-implikasi sosial pendidikan, atau dari sudut peranan sosial manusia yang berpengetahuan. Bukan ahli-ahli sosiologi, melainkan ahli-ahli ekonomi dan para filsuflah yang telah menelaah beberapa di antara sekian banyak aspek teoritis lainnya dari masalah ini.

Sementara kami tidak memberikan tempat yang sentral kepada distribusi sosial pengetahuan seperti yang dimaksudkan oleh Schutz di sini, kami setuju dengan kritiknya mengenai “disiplin yang telah diberi nama secara salah” itu dan telah mengambil dari ajarannya sebagai pengertian dasar kami mengenai cara bagaimana tugas sosiologi pengetahuan harus diulang-definisikan. Dalam pertimbangan-pertimbangan berikut ini kami sangat bergantung kepada Schutz dalam prolegomena (pengantar) mengenai landasan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dan kami sangat berhutang budi kepada karyanya di berbagai bagian yang penting dalam argumen utama kami sesudah itu.

Berbagai praandaian antropologis kami sangat dipengaruhi oleh Marx, terutama oleh tulisan-tulisan awalnya, dan oleh implikasi-implikasi antropologis yang telah ditarik dari biologi manusia oleh Helmuth Plessner, Arnold Gehlen dan yang lainnya. Dalam hal pandangan kami mengenai sifat kenyataan sosial, kami sangat berhutang budi kepada Durkheim dan mazhabnya dalam sosiologi Prancis, meskipun kami telah memodifikasi teori Durkheim tentang masyarakat dengan jalan memasukkan ke dalamnya suatu perspektif dialektis yang diambil dari Marx dan pemberian tekanan kepada konstitusi kenyataan sosial melalui makna-makna subjektif yang diambil dari Weber. Praandaian psikologi sosial kami, yang terutama penting bagi analisa mengenai internalisasi kenyataan sosial, sangat dipengaruhi oleh George Herbert Mead dan oleh beberapa pengembangan karyanya yang dilakukan oleh apa yang dinamakan mazhab interaksionis simbolik dari sosiologi Amerika. Dalam catatan kaki, kami akan menunjukkan bagaimana berbagai rumusan itu telah digunakan dalam pembentukan teori kami. Sudah tentu kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penggunaannya itu kami tidak—dan tidak dapat—berpegang sepenuhnya kepada maksud-maksud semula dari berbagai aliran teori sosial itu sendiri. tetapi seperti telah kami katakan, tujuan kami di sini bukanlah untuk memberikan tafsiran, bukan pula untuk mengadakan sintesa demi sintesa. Kami menyadari sepenuhnya, bahwa di berbagai tempat, kami memang berbuat tidak adil terhadap pemikir-pemikir tertentu dengan jalan mengintegrasikan pemikiran mereka ke dalam suatu formasi teoretis yang oleh beberapa di antara mereka mungkin akan dianggap sebagai sesuatu yang sangat asing. Sebagai pembelaan, kami ingin mengatakan bahwa sikap berterima kasih kepada sejarah pada dirinya bukanlah suatu kebajikan ilmiah. Dalam hal ini kiranya kami dapat mengutip beberapa pernyataan Talcott Parsons (yang teorinya telah menimbulkan perasaan waswas yang mendalam pada diri kami, tetapi yang tujuan integratifnya kami dukung sepenuhnya):

tujuan utama dari telaah ini bukanlah untuk memastikan dan menyatakan dalam bentuk yang ringkas apa kata atau pendapat penulis-penulis itu mengenai pokok-pokok persoalan yang telah mereka bahas dalam tulisan mereka. Bukan pula tujuan telaah ini untuk menyelidiki secara langsung, dengan mengacu kepada tiap proposisi dari “teori-teori” mereka, apakah yang telah mereka katakan itu bisa dipertahankan dari segi pengetahuan sosiologis yang sekarang serta pengetahuan yang berkaitan dengannya… Ini merupakan suatu telaah dalam teori—bukan teori-teori—sosial. Perhatiannya tidak ditujukan kepada proposisi-proposisi yang terpisah dan berlainan satu sama lain, yang dapat dijumpai dalam karya orang-orang itu, melainkan kepada perangkat tunggal dari penalaran teoritis yang sistematis.

Memang, tujuan kami adalah untuk melakukan “penalaran teoritis yang sistematis.

Kiranya sudah jelas bahaw pendefinisian kembali yang kami lakukan akan mengenai hakikat dan lingkupnya akan menggeser sosiologi pengetahuan dari periferi (pinggiran) ke pusat teori sosiologi itu sendiri. kiranya kami dapat meyakinkan pembaca bahwa kami tidak mempunyai sesuatu pamrih dalam label “sosiologi pengetahuan”. Yang benar, pemahaman kami mengenai teori sosiologi telah membawa kami kepada sosiologi pengetahuan dan membimbing cara kami dalam mendefiniskan kembali masalah-masalah dan tugas-tugasnya. Kami dapat melukiskan dengan cara yang paling tepat jalan yang akan kami tempuh dengan mengacu kepada dua di antara sejumlah “perintah maju” yang paling berpengaruh bagi sosiologi.

Satu di antaranya diberikan oleh Durkheim dalam The Rules of Sociological Method, yang lainnya diberikan oleh Weber dalam Wirtschaft und Gessellschaft. Durkheim menulis : “Kaidah yang pertama dan yang paling mendasar adalah : Anggaplah fakta-fakta sosial sebagai benda-benda.” Dan Weber berkata : “Baik bagi sosiologi dalam arti yang sekarang, maupun bagi sejarah, objek pemahaman adalah kompleks-makna yang subjektif dari tindakan.” Kedua pernyataan itu tidak bertentangan satu sama lain. Masyarakat memang memiliki faktisitas objektif. Dan masyarakat memang dibangun oleh kegiatan yang mengekspresikan makna subjektif. Dan, secara sambil lalu dapat dikatakan bahwa Durkheim mengetahui yang disebut belakangan itu, sebagaimana Weber mengetahui yang disebut lebih dulu. Justru watak ganda dari masyarakat inilah, yakni dari segi faktisitas objektif dan makna subjektif yang menjadikannya “kenyataan sui generis” untuk menggunakan sebuah istilah kunci lainnya dari Durkheim. Dengan demikian, pertanyaan sentral bagi teori sosiologi dapat dikemukakan sebagai berikut: Bagaimana mungkin terjadi bahwa makna-makna subjektif menjadi faktisitas-faktisitas objektif? Atau, dengan kata-kata yang cocok bagi posisi teoritis yang telah disebutkan di atas: Bagaimana mungkin bahwa kegiatan (Handeln) manusia menghasilkan satu dunia benda-benda (choses)? Dengan kata lain suatu pemahaman yang memadai mengenai “kenyataan sui generis” dari masyarakat memerlukan suatu penyelidikan mengenai caranya kenyataan ini dibangun. Kami berpendapat bahwa penyelidikan ini merupakan tugas sosiologi pengetahuan.

Cf. Max Scheler, Die Wissensformen und die Gesellschaft (Bern: Francke, 1960). Buku kumpulan esai-esai ini, pertama kali terbit tahun 1925, memuat rumusan-rumusan dasar sosiologi pengetahuan dalam sebuah esei berjudul “Probleme einer Soziologie des Wissens”, yang semuanya terbit setahun lebih dulu.
Cf. Wilhelm Windelband dan Heinz Heimsoeth,
Lehrbuch der Geschichte der Philosophie(Tubingen: Mohr, 1950), hal. 605 ff.
Cf. Albert Salomon,
In Praise of Enlightenment (New York: Meridian Books, 1963): Hans Barth,Wahrheit und Ideologie (Zurich: Manesse, 1945); Werner Stark, The Sociology of Knowledge(Chicago: Free Press of Glencoe, 1958), hal. 46 ff.; Kurt Lenk, ed., Ideologie (Neuwied/Rhein: Luchterhand, 1961), hal. 13 ff.
Pensèes v.294.
Cf Karl Marx,
Die Frühschriften (Stuttgart: Kröner, 1953). The Economic and Philosophical Manuscripts of 1844 terdapat di hal.225 ff.
Mengenai skema Marx
Unterbau/Ueberbau. Cf. Karl Kautsky, “Verhältnis von Unterbau und Ueberbau,” dalam Iring Fetscher, ed., Der Marxismus (Munich: Piper, 1962), hal. 160 ff.; Antonio Labriola, “Die Vermittlung zwischen Basis und Ueberbau,” ibid., hal. 167 ff.; Jean-Yves Calvez, La Pensèe de Karl Marx (Paris: Editions du Seuil, 1956), hal. 424 ff. Perumusan kembali yang paling penting mengenai masalah itu dalam abad ke 20 dibuat oleh György Lukács, dalamGeschichte und Klassenbewusstsein (Berlin, 1923), yang sekarang lebih mudah diperoleh dalam terjemahan Prancisnya, Historie et conscience de classe (Paris: Editions de Minuit, 1960). Pemahaman Lukács tentang konsep dialektika Marx menjadi lebih menarik lagi jika diingat bahwa ia mendahului hampir sepuluh tahun ditemukannya kembali Economic and Philosophical Manuscripts of 1844.
Karya-karya Nietzsche yang paling penting bagi sosiologi pengetahuan adalah
The Genealogy of Morals dan The Will to Power. Mengenai pembahasan-pembahasan sekunder, cf. Walter Kaufmann, Nietzsche (New York: Meridian Books, 1956): Karl Löwith, From Hegel to Nietzsche(New York: Holt, Rinehart and Winston, 1964).
Satu di antara penerapan-penerapan yang paling menarik dari pemikiran Nietzsche dalam sosiologi pengetahuan adalah yang dilakukan oleh Alfred Seidel dalam
Bewusstsein als Verhängnis (Bonn: Cohen, 1927). Seidel yang pernah belajar dari Weber, mencoba menggabungkan Nietzsche dan Freud dengan suatu kritik sosiologis yang radikal tentang kesadaran.
Salah satu pembahasan yang paling sugestif mengenai hubungan antara historisisme dan sosiologi adalah yang dilakukan oleh Carlo Antoni dalam
Dallo Storicismo alla sociologia(Florence, 1940). Juga, cf, H. Stuart Hughes, Consciousness and Society (New York: Knolf, 1958), hal. 183 ff. Karya Wilhelm Dilthey yang paling penting bagi pembahasan kita sekarang ini adalah Der Aufbau der Geschichtlichen Welt in den Geisteswissenschaften(Stuttgart: Teubner, 1958).
Pembahasan konsep Scheler yang baik sekali tentang sosiologi pengetahuan,
cf, Hans-Joachim Lieber, Wissen und Gessellschaft (Tubingen: Niemeyer, 1952), hal. 55 ff. Lihat juga Stark,op. Cit., passim.
Mengenai perkembangan umum sosiologi Jerman selama periode ini,
cf. Raymond Aron, La Sociologie allemande contemporaine (Paris: Presses Universitaires de Prance, 1950). Mengenai sumbangan-sumbangan yang penting dari periode ini yang menyangkut sosiologi pengetahuan,cf. Siegfried Landshut, Kritik der Soziologie (Munich, 1929); Hans Freyer,Soziologie als Wirklichkeitswissenschaft (Leipzig, 1930); Ernst Grunwald, Das Problem der Socziologie des Wissens (Vienna, 1934); Alexander von Schelting, Max Webers Wissenschaftslehre (Tübingen, 1934). Karya yang disebut paling akhir itu, yang masih merupakan pembahasan terpenting tentang metodologi Weber, harus dipahami dengan latar belakang perdebatan mengenai sosiologi pengetahuan, yang ketika itu berpusat pada rumusan-rumusan Sheler dan Mannheim.
Karl Mannheim,
Ideology and Utopia (London: Routledge & Kegan Paul, 1936): Essays on the Sociology of Knowledge (New York: Oxford University Press, 1952); Essays on Sociology and Social Psychology (New York: Oxford University Press, 1956). Suatu ikhtisar mengenai tulisan-tulisan Mannheim yang paling penting tentang sosiologi pengetahuan, yang disusun dan disertai suatu kata pengantar yang baik oleh Kurt Wolff, adalah Karl Mannheim, Wissenssoziologie(Neuwied/Rhein: Luchterhand, 1964). Pembahasan sekunder tentang konsepsi-konsepsi Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan, cf. Jacques J. Marquet, Sociologie de la connaissance Louvain ( nauwelaerts, 1949). Aron, op. cit.; Robert K. Merton, Social Theory and Social Structure (Chicago: Free Press of Glencoe, 1957), hal. 486 ff.; Stark, op. cit.; Lieber, op. cit.
Karakterisasi awal tentang kedua rumusan mengenai disiplin itu diberikan oleh Lieber, op. cit.
Cf. Merton, op. cit., hal. 439 ff.
Cf. Talcott Parsons, “An Approach to the Sociology of Knowledge”, dalam
Transaction of the Fourth World Congress of Sociologi (Louvain: International Sociological Association, 1959), vol. IV, hal. 25 ff.; “Culture and the Socil System”, dalam Parsons et al. (eds.), Theories of Society(New York: Free Press, 1961), vol. II, hal. 963 ff.
Cf. Talcott Parsons,
The Social System Glencoe, I11.: Free Press, 1951), hal. 326 ff.
Cf. C. Wright Mills,
Power, Politics, and People (New York: Ballantine Books, 1963), hal. 453 ff.
Cf. Theodor Geiger,
Ideologie und Wharheit (Stuttgart: Humboldt, 1953); Arbeiten zur Soziologie (Neuwied/Rhein: Luchterhand, 1962), hal. 412 ff.
Cf. Ernst Topitsch,
Vom Ursprung und Ende der Metaphysik (Vienna: Springer, 1958),Sozialphilosophie zwischen Ideologie und Wissenschaft (Neuwied/Rhein: Luchterhand, 1961). Suatu pengaruh yang penting terhadap Topitsch adalah mazhab positivisme hukum dari Kelsen. Mengenai implikasi dari yang disebut belakangan itu bagi sosiologi pengetahuan, cf. Hans Kelsen,Aufsatze zur Ideologiekritik (Neuwied/Rhein: Luchterhand, 1964).
Cf. Daniel Bell,
The End of Ideology (New York: Free Press of Glencoe, 1960), Kurt Lenk, (ed.) Ideologie: Norman Birnbaum, ed., The Sociological Study of Ideology (Oxford: Blackwell, 1962).
Cf. Stark, op. cit.
Alfred Schutz,
Collected Papers, vol. I (The Hague: Nijhoff, 1962), hal. 149. Cetak miring dari kami.
Ibid., vol. II (1964), hal. 121.
Pembahasan tentang implikasi sosiologi Durkheim bagi sosiologi pengetahuan, cf. Gerard L. DeGré,
Society and Ideology (New York: Columbia University Bookstore, 1943), hal. 54 ff.; Merton, op. cit.; George Gurvitch, “Problèmes de la sociologie de la connaissance”, Traité de sociologie (Paris: Presses Universitaires de France, 1960), vol. II, hal. 103 ff.
Sepengetahuan kami, pendekatan interaksionisme simbolis yang paling dekat pada masalah-masalah sosiologi pengetahuan terdapat dalam Tomatsu Shibutani “Reference Groups and Social Control”, dalam Arnold Rose, (ed.),
Human Behavior and Social Processes (Boston: Houghton Mifflin, 1962), hal. 128 ff. Kenyataan bahwa para penganut interaksionis simbolis tidak mengadakan hubungan antara psikologi sosial Mead dan sosiologi pengetahuan sudah tentu berkaitan dengan terbatasnya “penyebaran” sosiologi pengetahuan di Amerika, tetapi landasan teoritisnya yang lebih penting harus dicari dalam kenyataan bahwa baik Mead maupun para pengikutnya tidak mengembangkan suatu konsep yang memadai mengenai struktur sosial. Justru karena itulah, kami kira, pengintegrasian cara pendekatan Mead dengan cara pendekatan Durkheim begitu penting. Dapat dikemukakan bahwa, seperti halnya sikap masa bodoh terhadap sosiologi pengetahuan di pihak para psikolog sosial Amerika telah menyebabkan mereka tidak mengaitkan perspektif-perspektif mereka pada suatu teori sosiologi makro, demikian pula ketidaktahuan yang total mengenai Mead merupakan suatu kelemahan teoritis yang gawat dari pemikiran sosial neo-Marxis di Eropa sekarang. Merupakan suatu ironi yang besar ketika, belakangan ini, para ahli teori neo-Marxis berusaha mengadakan hubungan denganpsikologi Freud (yang secara mendasar dapat dipertemukan dengan perkiraan antropologis Marxisme), dan sama sekali tidak mengetahui adanya suatu teori Mead mengenai dialektika antara masyarakat dan individu yang kiranya akan jauh lebih cocok bagi cara pendekatan mereka. Suatu contoh yang belum lama berselang mengenai fenomena yang ironis ini, cf. Georges lapassade, L’Entrée dans la vie (Paris: Editions de Minuit, 1963), sebuah buku yang dalam banyak hal sangat sugestif dan, seolah-olah, menyerukan nama Mead di setiap halamannya. Ironi yang sama, meski dalam konteks pemisahan intelektual yang berbeda, berlaku bagi upaya-upaya yang dilakukan di Amerika baru-baru ini untuk melakukan saling pendekatan antara Marxisme dan Freudianisme. Seorang sosiolog Eropa yang banyak menimba dan berhasil membangun teori sosiologi dari Mead dan tradisi mazhab Mead adalah Friedrich Tenbruck. Cf. Bukunya, Geschichte und Gesselschaft (Habilitationschrift, Universitas Freiburg, terutama bab yang diberi judul “Realität”. Di dalam suatu konteks yang berbeda dengan konteks sistematis kami, tetapi dengan cara yang sangat cocok dengan cara pendekatan kami terhadap problematik Meadian, Tenbruck, membahas asal-usul sosial mengenai kenyataan dan dasar-dasar sosial-struktural untuk mempertahankan kenyataan.
Talcott Parsons,
The Structure of Social Action(Chicago: Free Press, 1949), hal. v.
Emile Durkheim,
The Rules of Sociological Method (Chicago: Free Press, 1949), hal. 14.
Max Weber,
The Theory of Social and Economic Organization (New York: Oxford University Press, 1947), hal. 101.

Menyingkap Misteri Manusia Sebagai Homo Faber

Pengantar Frans M. Parera

Usaha Peter Berger dan Thomas Luckmann pada tahun 1962 lewat penulisan buku ini adalah untuk menunjukkan peranan sentral sosiologi pengetahuan sebagai instrumen penting membangun teori sosiologi. Rencana semula, proyek penulisan tentang pentingnya peranan sosiologi pengetahuan itu merupakan hasil kerja sama antara ahli sosiologi dan ahli filsafat. Biarpun akhirnya buku ini ditulis hanya oleh dua orang ahli sosiologi, pengaruh teori pengetahuan dari filsafat—dalam hal itu terutama dari fenomenologi—dan ilmu-ilmu pengetahuan alam terutama biologi memang cukup besar. Proses penulisan naskah sampai terbitnya buku ini memakan waktu empat tahun, karena buku ini terbit pada tahun 1966. Ternyata sampai sekarang sambutan lingkungan akademis terhadap karya ini sungguh luar biasa. Komunitas ahli-ahli ilmu sosial menaruh perhatian besar terhadap buku ini, dan kini buku ini menjadi salah satu referensi penting bila mengulas sosiologi pengetahuan kontemporer. Boleh dibilang buku ini sudah menjadi buku klasik di bidang sosiologi pengetahuan, karena diakui sebagai tonggak penunjuk arah perkembangan teori sosiologi di masa-masa yang akan datang. Dengan demikian Peter Berger mendapat reputasi internasional sebagai ahli sosiologi pengetahuan terkemuka dewasa ini.

Minat Berger terhadap hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, berkembang dan dilembagakan, bertolak dari pemikirannya tentang masalah keagamaan. Dua buku perdananya, yaitu The Precarious Vision (1961) dan The Noise of Solemn Assemblies (1961), mengulas tentang fungsi atau posisi kritis sosiologi agama (sub-bidang sosiologi pengetahuan) berhadapan dengan perkembangan refleksi teologis dalam kalangan umat Kristen Barat. Berger berusaha menggambarkan bagaimana sekularisasi sebagai salah satu ciri peradaban modern tercermin dalam refleksi-refleksi teologis. Karena refleksi atas iman yang sudah melembaga seperti terjelma pada teologi-teologi formal juga berfungsi sebagai ideologi, maka tugas sosiologi agama antara lain menunjukkan bagaimana teologi sebagai ideologi juga memainkan peranan sebagai alat legitimasi kekuasaan politik yang dibangun oleh masyarakat untuk menertibkan kehidupan publik. Sekularisasi menunjukkan bahwa sektor publik kehidupan modern mengalami pluralisasi ideologi sehingga pengaruh dominan pemikiran keagamaan seperti pada masyarakat pra-modern semakin kecil, bahkan bergeser ke dalam kehidupan privat individu-individu (terjadi proses privatisasi kehidupan religius). Kedua karya di atas memberikan pijakan awal bagi Berger (sebelum tahun 1960 Berger mengajar Etika Sosial di Hartford Seminary Doundation) dalam pergumulan dengan masalah sosiologi pengetahuan pada periode berikut dalam perjalanan kariernya sebagai ahli sosiologi.

Periode kedua karirnya dimulai ketika Berger meninggalkan tugasnya sebagai profesor Etika Sosial di hartford Seminary dan diangkat sebagai guru besar sosiologi pada New School for Social Reseach New York, sebagai pusat gerakan fenomenologis di Amerika Serikat. Salah satu tokoh gerakan fenomenologis di bidang ilmu-ilmu sosial dan sekaligus guru Berger adalah Alfred Schutz. Alfred Schutz dipandang oleh kalangan ahli sosiologi Amerika sebagai murid Edmund Husserl, pendiri aliran fenomenologis di Jerman. Schutz berusaha memberi konteks sosial atas konsep “Lebenswelt” (dunia kehidupan) ciptaan Husserl. New School for Social Reseachmerupakan salah satu lembaga University of Buffalo, yang menerbitkan majalah Philosophy and phenomenological research. Tidak mengherankan kalau fenomenologi mempengaruhi alam pikiran Berger karena perguruan tinggi itu merupakan almamater dan sekaligus lingkungan kerja Berger.
Dalam periode ini Berger mengadakan observasi dan refleksi atas situasi sosiologi Amerika Serikat ketika itu. Pendekatan positivistis, yang sudah menjadi tradisi metodologi ilmu-ilmu alam, merupakan faktor dominan berkembangnya teori-teori sosiologi di sana. Perkembangan ilmu-ilmu sosial diresapi oleh pengaruh pemikiran model rasionalitas teknokratis, yang dianut oleh para teknokrat, politisi, birokrat, kelompok profesional lainnya serta ilmuwan dari disiplin-disiplin lainnya. Ilmu-ilmu sosial dikembangkan sejauh menjadi sarana teoritis untuk mencapai tujuan-tujuan praktis, yang tersirat dalam pelbagai perekayasaan sosial (social engineering). Dalam suasana intelektual semacam itu hampir tidak berkembang luas sosiologi alternatif seperti sosiologi interpretatif atau humanistis, yang menempatkan kegiatan sosial sebagai bagian dari kegiatan manusia konkrit yang multidimensional seperti yang dimengerti oleh filsafat manusia. Manusia-manusia konkrit dengan segala problematiknya, termasuk kebebasannya, menjadi titik tolak pencarian hakekat masyarakat sebagai tugas utama pengembangan sosiologi.
Karena penguasaannya terbadap bahasa-bahasa Eropa (terutama bahasa Jerman), Berger mempunyai akses ke sumber-sumber awal sosiologi di Eropa, terutama karya Max Weber dan Emile Durkheim. Di samping itu ia juga mempunyai akses pada sumber-sumber awal karya sosiologi pengetahuan seperti karya-karya Max Scheler, yang juga digunakan oleh Karl Mannheim (1893-1947), yang kemudian menulis karya-karyanya tentang sosiologi pengetahuan dalam bahasa Inggris dan digunakan di kalangan ahli sosiologi Amerika. Dengan bantuan literatur Eropa kontinental yang dikuasai oleh pakar-pakar di New School akhirnya Berger membangun penilaian atas situasi ilmu-ilmu sosial di Amerika. Ternyata sifuasi faktual ilmu-ilmu sosial di Amerika waktu itu memendam pertikaian problematika pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di lingkungan intelektual Eropa (khususnya di Jerman), ketika Max Weber tampil sebagai tokoh yang mempertahankan posisi humanistis dari sosiologi sebagai sub-disiplin humaniora. Dalam situasi konflik itu Max Weber berusaha mensintesa pendekatan positivistis dengan pendekatan idealistis untuk membangun pendekatan ilmu-ilmu sosial yang khas dan otonom.
Dari kenyataan itu Berger juga berusaha mengembalikan status otonomi sosiologi dari dominasi ilmu-ilmu alam dan ideologi politik. Sosiologi dikembalikan ke fungsi aslinya sebagaimana dikehendaki Weber sebagai sarana teoritis untuk memahami serta menafsir secara bertanggung jawab atas masalah-masalah kebudayaan dan peradaban umat mausia. Fungsi itu bisa dilaksanakan kalau sosiologi merupakan cara pandang dan bagian integral dari ilmu-ilmu kemanusiaan (humanities). Sementara itu sumbangan dari sumber-sumber asli fenomenologis, khususnya karya-karya Max Scheler dan Alfred Schutz, memberi bobot baru untuk sosiologi pengetahuan, yang menyimpang dari tradisi sosiologi pengetahuan selama ini. Dalam konsep teoritis “Lebenswelt” (terjemahan Inggris life-world sedang terjemahan Indonesia, ‘dunia kehidupan’) dalam tradisi fenomenologi mengandung pengertian ‘dunia’ atau ‘semesta’ yang kecil, rumit dan lengkap, terdiri atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, interaksi antarmanusia (intersubjektivitas) dan nilai-nilai yang dihayati. “Lebenswelt” itu merupakan realitas sosial orang-orang biasa (orang awam, “the man in the street”). Dalam cahaya fenomenologi dapat dikatakan bahaw dalam “Lebenswelt” terdapat gejala-gejala sosial yang mesti dideskripsikan. Tugas para pemikirlah (termasuk ahli sosiologi) untuk menemukan hakekat masyarakat di balik gejala-gejala sosial yang banyak itu. Berger kemudian yakin bahwa bersosiologi itu harus mengikuti proses berpikir seperti yang dituntut oleh fenomenologi, yakni dimulai dari kenyataan kehidupan sehari-hari sebagai realitas utama gejala kemasyarakatan. Usaha untuk memahami sosiologi pengetahuan secara teoritis dan sistematis melahirkan karya Berger yang mashur ini, The Socal Construction of Reality, A Treatise in the Sociology of Knowledge, yang dalam edisi bahasa Indonesia ini diberi judul Tafsir Sosial atas Kenyataan. Suatu Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan.


Beberapa catatan di bawah ini menjelaskan bagaimana usaha Berger untuk mendefinisi ulang tentang hakekat dan peranan sosiologi pengetahuan menarik perhatian para ahli sosiologi lain dalam usaha mereka mengembangkan teori-teori sosiologi. Pertama, usaha mendefinisikan kembali pengertian “kenyataan” dan “pengetahuan” dalam konteks sosial. Sebuah teori sosiologi harus mampu menjelaskan, sehingga kita memahami bagaimana kehidupan masyarakat itu terbentuk dalam proses-proses terus-menerus. Pemahaman itu ditemukan dalam gejala-gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan pengalaman bermasyarakat. Karena gejala-gejala sosial itu ditemukan dalam pengalaman bermasyarakat yang terus-menerus berproses, maka perhatian terarah pada bentuk-bentuk penghayatan (Erlebniss) kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh dengan segala aspeknya (kognitif, psikomotoris, emosional dan intuitif). Dengan kata lain, kenyataan sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial, yang diungkapkan secara sosial lewat belbagai tindakan sosial seperti berkomunikasi lewat bahasa’ bekerja sama lewat bentuk-bentuk organisasi sosial. Kenyataan sosial semacam ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas). Lewat intersubjektivitas itu dapat dijelaskan bagaimana kehidupan masyarakat tertentu dibentuk secara terus-menerus. Konsep intersubjektivitas menunjuk pada dimensi struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam suatu kelompok khusus yang sedang saling berintegrasi dan berinteraksi.


Kedua, timbul pertanyaan berikut: bagaimana cara meneliti pengalaman intersubjektif sehingga ditemukan bangunan atau konstruksi sosial dari kenyataan? Pertanyaan ini secara langsung mempersoalkan bagaimana cara mempersiapkan penelitian sosiologis agar mampu menemukan esensi masyarakat yang tersirat dalam gejala-gejala sosial itu. Persiapan di sini dimaksudkan dengan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial yang tepat untuk berhasil mencapai tujuan penelitian. Dalam metodologi ilmu-ilmu alam, unsur subjektif sejauh mungkin atau hampir tidak mendapat tempat dalam mendekati pelbagai masalah kealaman.


Kekeliruan pendekatan positivistis yang diterapkan dalam penelitian gejala-gejala sosial ialah bahwa gejala-gejala sosial diperlakukan kira-kira sama dengan gejala-gejala alam. Dan, yang dikejar oleh sosiologi positivistis adalah hukum-hukum perkembagan masyarakat yang pada gilirannya dapat dikuasai dan diarahkan menurut proyeksi-proyeksi perkembangan seperti model perencanaan di bidang sains dan teknologi. Padahal, gejala sosial itu bersifat intersubjektif, sehingga metodologi itu memberi tempat yang wajar pada unsur subjektif, karena apa yang dinamakan kenyataan sosial itu, selain menampilkan dimensi objektif (tradisi Durkhemian) juga sekaligus mempunyai dimensi subjektif—karena, apa yang kita namakan masyarakat itu adalah buatan kultural dari masyarakat tertentu; manusia sekaligus pencipta dari dunianya tersendiri (lingkungan fisik, organisasi sosial serta sistem nilainya). Diakui pula bahwa tidak semua gejala sosial mampu diamati secara leluasa.

Karena itu, dalam persiapan penelitian perlu diseleksi kenyataan yang penting-penting saja dan sikap-sikap subjektif yang wajar dan alamiah, seperti yang dilakukan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari—pada hari kerja, bukan pada hari-hari raya. Perhatian dipusatkan pada proses terbentuknya fakta sosial atau gejala sosial, di mana individu-individu ikut serta dalam proses pembentukan dan pemeliharaan fakta sosial yang memang mempunyai unsur paksaan pada mereka. Dalam kehidupan sehari-hari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat mikro tampak pada komunikasi tatap muka atau interaksi tatap muka. Pada situasi-situasi itu dapat ditemukan seluk-beluk kenyataan sosial yang paling penting. Sedangkan kenyataan sosial lainnya merupakan terjemahan atau perluasan dari kenyataan tatap-muka itu.
Dengan menyeleksi gejala-gejala sosial utama yang hendak diobservasi, maka yang diperhatikan dari kenyataan sosial itu adalah aspek perkembangan, perubahan serta proses tindakan sosial; aspek-aspek itu membantu si pengamat untuk memahami suatu tatanan-sosial atau orde sosial yang diciptakan sendiri oleh masyarakat dan dipelihara dalam pergaulan sehari-hari. Norma-norma dan aturan-aturan yang mengontrol tindakan manusia dan menstabilkan struktur sosial dinilai sebagai prestasi penelitian. Dengan temuan itu si peneliti mampu memberi tafsiran terhadap kejadian-kejadian dalam suatu masyarakat sebagai bukti konkrit pemahamannya atas seluk beluk suatu kehidupan masyarakat. Ternyata manusia-manusia konkrit bukanlah wadah penyimpaan dan pengawetan norma-norma sosial, sekurang-kurangnya itulah penemuan sosiologi sebagai salah satu bentuk kesadaran masyarakat modern yang penuh dinamika.

Dengan ini hendak dikatakan bahwa prestasi seorang sosiolog tampak pada kemampuannya membangun interpretasi objektif atas kejadian-kejadian yang dialami dalam masyarakat. Namun, ukuran yang menunjukkan objektivitas tafsirannya antara lain adalah interpretasinya itu dipahami pula oleh masyarakat yang ditelitinya, karena masyarakat itu sendiri sudah memiliki pengetahuan atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri. tuntutan relevansi dari suatu teori sosiologi mendapat tekanan baru di sini karena interpretasi sosiologis yang mempunyai kadar ilmiah, rasional dan sistematis dibangun di atas observasi kritis atas bangunan pengetahuan dan interpretasi masyarakat yang diteliti. Dengan kata lain tafsiran sosiologis memberikan dimensi baru atas tafsiran masyarakat yang dibentuk karena common-sense, sehingga muncul relevansi teori sosiologi atas kehidupan nyata. Sebaliknya akan sangat diragukan objektivitas suatu teori sosiologi kalau masyarakat biasa tidak mampu melihat bahaw teori sosiologi itu merupakan penyempurnaan pengetahuan sosial yang dibangun oleh common-sense, dan menjadi bahan baku analisa kegiatan ilmu-ilmu sosial selanjutnya.

Ketiga, selain persoalan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial untuk menyingkapkan hakekat realitas sosial, timbul juga masalah pilihan logika macam manakah yang perlu diterapkan dalam usaha memahami kenyataan sosial yang mempunyai ciri-ciri khas seperti bersifat pluralis, dinamis, dalam proses perubahan terus-menerus ini? Logika ilmu-ilmu sosial semacam apa yang perlu dikuasai agar interpretasi sosiologis itu relevan dengan struktur kesadaran umum dan struktur kesadaran individual yang mengacu ke struktur kesadaran umum itu? Pertanyaan ini menjadi kerisauan bagi sosiologi pengetahuan, karena sosiologi penetahuan harus menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai “pengetahuan” dalam masyarakat. Padahal, selama itu sosiologi pengetahuan lebih berupa sosiologi tentang sosiologi karena fokus perhatian selama ini pada sejarah intelektual dari golongan cendikiawan, yang menaruh minat besar pada masalah pandangan hidup masyarakat (Weltanschaung), sedangkan manusia awam tidak begitu menaruh perhatian pada kerisauan intelektual itu. Dengan kata lain, hanya segelintir orang saja yang bergumul dengan usaha menafsir secara teoritis atas dunia kehidupan, dan setiap individu dalam masyarakat berpartisipasi dengan caranya sendiri atas pandangan hidup masyarakat secara umum dan luas. Melebih-lebihkan arti penting dari pemikiran teoritis dalam masyarakat dan sejarah sudah menjadi pengalaman yang menggelikan bagi para mahasiswa dengan dosen-dosen pelbagai disiplin ilmiah di perguruan tinggi. Ini menunjukkan kelemahan kodrati para ahli teori, termasuk ahli sosiologi.

Sosiologi pengetahuan seharusnya memusatkan perhatian pada struktur dunia akal sehat (common-sense world) di mana kenyataan sosial didekati dari pelbagai pendekatan seperti pendekatan mitologis yang irasional, pendekatan filosofis yang bercorak moralistis, pendekatan praktis yang bersifat fungsional; semua jenis pengetahuan itu membangun struktur dunia akal sehat. Hal itu baru menyentuh aspek produksi pengetahuan sosial, belum pula diteliti bagaimana pendistribusian pengetahuan itu ke lembaga-lembaga sosial dan ke individu-individu. Dari perbendaharaan pengetahuan masyarakat yang dikumpulkan selama sejarah kehidupannya, ternyata pengetahuan masyarakat ini bersifat kompleks, selektif dan aspektual (indrawi, intelektif, perseptif, refleksif, diskursif, intuitif, induktif, deduktif, kontemplatif, spekulatif, praktis dan sinergis).
Mengingat kompleksitas pengetahuan masyarakat, maka lewat segi mana dia harus didekati? Sosiologi pengetahuan menyeleksi bentuk-bentuk pengetahuan yang mengisyaratkan adanya kenyataan sosial di sana. Sosiologi pengetahuan harus mampu melihat pengetahuan dalam struktur kesadaran individual dan bisa membedakan antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu kenyataan menjadi kurang lebih diungkapkan, sedangkan kesadaran menjadikan saya lebih mengenal diri sendiri yang sedang berhadapan dengan kenyataan tertentu itu. Pengetahuan lebih berurusan antara subjek dengan objek yang berbeda dengan dirinya sendiri, sedangkan kesadaran lebih berurusan dengan subjek yang sedang mengetahui dirinya sendiri. pengetahuan dalam dunia sehari-hari seringkali dikacaukan dengan kegiatan-kegiatan efektif yang menyertainya sehingga terjadi distorsi dan penyimpangan-penyimpangan. Berhadapan dengan pengetahuan sosial sehari-hari yang begitu berbeda-beda antara satu sama lain, maka ditemukan secara sah masalah relativisme, historisisme dari pengetahuan, yang akan menjadi objek penelitian sosiologi pengetahuan sesudahnya. Dengan usaha sosiologi pengetahuan semacam itu, maka sosiologi pengetahuan menjadi pintu masuk utama dalam kegiatan membangun teori sosiologi yang relevan dengan konteks sosialnya.
Karena dalam pengetahuan sosial terdapat prinsip-prinsip pemikiran yang bersifat kontradiktif dan kontratif maka logika yang berpijak di atas prinsip identitas (principium identitatis) jelas tidak memadai lagi (seperti diterapkan dalam logika ilmu-ilmu alam). Sekurang-kurangnya untuk memahami dunia akal-sehat maka digunakan prinsip logis dan sekaligus prinsip non-logis—dengan kata lain berpikir dengan berpijak pada prinsip kontradiksi. Itu berarti kemampuan berpikir dialektis (tesis-antitesis dan sintesis) merupakan persyaratan ilmiah awal atau elementer yang perlu dicapai oleh seorang ahli sosiologi, sehingga dia mampu mensintesakan gejala-gejala sosial yang kelihatan bersifat kontradiksi dan paradoksal ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan. Di atas bangunan sosial dari kenyataan yang paradoksal dan kontradiktif itu, boleh dikembangkan suatu teori sosiologi yang bersifat makro dan universal, sehingga sifat sosiologi modern akhirnya menampakkan ciri kosmopolitan (aspek makro-sosiologi).
Kemampuan berpikir dialektis ini dimiliki oleh Berger seperti juga dimiliki oleh Karl Marx, serta para filsuf eksistensial, yang menyadari hakekat manusia sebagai makhluk paradoksal. Ciri paradoksal dari hakekat manusia itu tercermin pula dalam dunia intersubjektivitas, malahan ciri paradoksal menjadi lebih kompleks lagi. Seperti sudah dijelaskan di atas, baru jaman sekaranglah sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik dirumuskan dan makin disadari. Kenyataan sosial lebih diterima sebagai kenyataan ganda daripada hanya suatu kenyataan tunggal. Kenyataan kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi objektif dan subjektif. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan objektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan subjektif). Dengan kemampuan berpikir dialektis, di mana terdapat tesa, antitesa dan sintesa, Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Karya Berger ini menjelajahi berbagai implikasi dimensi kenyataan objektif dan subjektif, maupun proses dialektis dari objektivasi, internalisasi dan eksternalisasi.
Salah satu tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan adanya dialektika antara diri (the self) dengan dunia sosio-kultural. Dialektika itu berlangsung dalam suatu proses dengan tiga “momen” simultan, yakni eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia), objektivasi (iteraksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan internalisasi (individu mengidentifikasi diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya). Kemandegan dari teori-teori sosiologi selama ini adalah hanya memperhatikan salah satu momen dialektis itu dan kurang melihat hubungan atau interplay antara ketiga momen dialektis itu. Dalam strategi pengembangan sosiologi di masa depan, harus diusahakan suatu sintesa antara ketiga momen dialektis yang selama ini belum diusahakan dengan berhasil.
Buku ini mencoba mengadakan sintesa antara fenomena-fenomena sosial yang tersirat dalam tiga momen dialektis itu dan memunculkan suatu konstruksi kenyataan sosial, yang dilihat dari segi asal-usulnya merupakan hasil ciptaan manusia, buatan interaksi intersubjektif. Dari tradisi Durkhemian dan tradisi fungsionalisme struktural (Parsonian), yang lebih memperhatikan momen objektivasi, Berger menerima asumsi mereka bahwa harus diakui adanya eksistensi kenyataan sosial objektif yang ditemukan dalam hubungan individu dengan lembaga-lembaga sosial (salah satu lembaga sosial yang besar adalah negara). Dan aturan sosial atau hukum-hukum yang melandasi lembaga-lembaga sosial bukanlah hakekat dari lembaga-lembaga itu, karena lembaga-lembaga itu ternyata hanya produk buatan manusia, produk dari kegiatan manusia. Ternyata ciri coersive dari struktur sosial yang objektif merupakan suatu perkembangan aktivitas manusia dalam proses eksternalisasi atau interaksi manusia dengan struktur-struktur sosial yang sudah ada. Aturan-aturan sosial yang bersifat memaksa secara dialektis bertujuan untuk memelihara (maintain) struktur-struktur sosial yang sudah berlaku, tetapi belum tentu menyelesaikan proses eksternalisasi individu-individu yang berada dalam struktur-struktur itu. Sebaliknya, dalam pengalaman sejarah umat manusia, kenyataan objektif dibangun untuk mengatur pengalaman-pengalaman individu yang berubah-ubah, sehingga masyarakat terhindar dari kekacauan dan dari situasi tanpa makna. Perubahan-perubahan sosial terjadi kalau proses eksternalisasi individu-individu menggerogoti tatanan sosial yang sudah mapan dan diganti dengan suatu orde yang baru, menuju keseimbangan-keseimbangan yang baru. Dalam masyarakat yang lebih menonjolkan stabilitas, maka individu-individu dalam proses eksternalisasinya mengidentifikasikan dirinya dengan peranan-peranan sosial yang sudah dilembagakan dalam institusi-institusi yang sudah ada. Peranan-peranan sudah dibangun polanya, dilengkapi dengan lambang-lambang yang mencerminkan pola-pola dari peranan-peranan. Dalam kehidupan sehari-hari individu-individu menyesuaikan dirinya dengan pola kegiatan peranannya serta ukuran-ukuran dari pelaksanaan atau performance dari peranan yang dipilih. Peranan menjadi unit dasar dari aturan-aturan yang terlembaga secara objektif.
Salah satu lembaga besar dalam masyarakat yang sangat mempengaruhi proses eksternalisasi individu-individu adalah negara. Negara dengan birokrasinya sangat mewarnai kehidupan publik dari individu-individu, bahkan dari pengalaman bernegara di beberapa tempat juga memasuki kehidupan privat individu-individu. Struktur-struktur objektif masyarakat dalam pandangan sosiologi pengetahuan Berger dan luckmann tidak pernah menjadi produk akhir dari suatu interaksi sosial, karena struktur berada dalam suatu proses objektivasi menuju suatu bentuk baru internalisasi yang akan melahirkan suatu proses eksternalisasi yang baru lagi. Itulah perjalanan sejarah perkembangan kehidupan sosial. Perubahan itu tidak akan cepat terjadi apabila ada rasa aman yang dialami individu-individu berhadapan dengan struktur objektif. Rasa aman di sini bukan dalam arti aman secara materia, tetapi aman secara rohani, antara lain karena makna kehidupannya dijamin dalam struktur objektif ini. Bila individu-individu kehilangan rasa aman atau mengalami alienasi, maka ancaman terhadap struktur objektif mulai muncul, biarpun hanya dalam taraf kesadaran subjektif. Karena itu, suatu sosiologi pengetahuan yang memiliki daya interpretasi sosial yang komprehensif dan relevan, harus berpaling pula pada struktur kesadaran subjektif, yang selama ini sudah diteliti dan diamati oleh prikologi sosial, yang menggugat kesadaran kita terhadap arti penting dunia subjektif manusia.
Tradisi Weberian serta psikologi sosial lebih memperhatikan momen internalisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Individu-individu dalam perjalanannya di dunia sosial mengalami proses sosialisasi untuk menjadi anggota organisasi sosial. Psikologi sosial membedakan sosialisasi primer, yang dialami individu pada masa kecil (masa pra-sekolah dan masa sekolah) dan sosialisasi sekunder (yang dialami individu pada usia dewasa dan memasuki dunia publik, dunia pekerjaan dalam lingkungan sosial yang lebih luas).
Pada umumnya, proses sosialisasi baik pada fase primer maupun sekunder berlangsung tidak sempurna, karena kenyataan sosial yang kompleks itu tidak dapat diserap dengan sempurna oleh setiap individu. Setiap individu menyerap satu bentuk tafsiran tentang kenyataan sosial secara terbatas, sebagai cermin dari dunia objektif. Diakui ada hubungan simetris antara kenyataan sosial objektif dan kenyataan sosial subjektif, namun keduanya tidak sama, tidak identik. Memandang masyarakat mirip seperti melihat bangunan rumah; ada bangunan luar dan interiornya, dua-duanya kita namakan rumah. Dalam proses internalisasi, tiap individu berbeda-beda dalam dimensi penyerapan, ada yang lebih menyerap aspek ekstern, ada juga yang lebih menyerap bagian intern. Tidak semua individu dapat menjaga keseimbangan dalam penyerapan dimensi objektif dan dimensi subjektif kenyataan sosial itu.
Aliran lain dalam sosiologi modern adalah yang memusatkan perhatian pada gejala perubaan sosial, gejala ketimpangan sosial atau gejala modernisasi. Berger memandang aliran-aliran itu memusatkan perhatian pada momen eksternalisasi di mana semua individu yang mengalami sosialisasi secara tidak sempurna, bersama-sama membentuk kenyataan sosial yang baru. Perubahan memang berlangsung lambat tetapi tak terelakkan, karena pasti akan terjadi. Tema modernitas yang menarik perhatian para sosiolog Dunia Ketiga sebenarnya melihat kenyataan sosial dalam proses eksternalisasinya. Teori sosiologi yang menaruh minat pada gejala kekuasaan dalam masyarakat (sosiologi politik) akan menyoroti masalah “legitimasi kekuasaan”.
Berger juga menerima adanya dunia institusional objektif yang membutuhkan cara penjelasan dan pembenaran atas kekuasaan yang sedang dipegang dan dipraktekkan. Tidak cukup menjelaskan proses legitimasi sebagai cara penjelasan dan pembenaran tentang asal-usul pengertian pranata sosial dan proses pembentukannya (seperti para ahli sejarah melihatnya); juga percobaan mengaitkan sistem makna yang melekat pada lembaga-lembaga atau praktek-praktek institusional dan penerimaan bersama (konsensus) seperti yang digarisbawahi oleh para ideolog dan ahli indoktrinasi tentang suatu ideologi. Usaha setiap masyarakat untuk melembagakan pandangan atau pengetahuan mereka tentang masyarakat akhirnya mencapai tingkat generalitas yang paling tinggi, di mana dibangun suatu dunia arti simbolik yang universal, yang kita namakan pandangan hidup atau ideologi. Pandangan hidup yang diterima umum itu dibentuk untuk menata dan memberi legitimasi pada konstruksi sosial yang sudah ada serta memberikan makna pada pelbagai bidang pengalaman mereka sehari-hari. Sosiologi pengetahuan akan melihat pandangan hidup atau ideologi atau dunia simbolik yang sarat dengan makna-makna sosial itu bukan hakekat suatu masyarakat, karena hanya golongan cendikiawan dan teoritikus sosial yang menaruh minat besar pada dunia simbolik itu, sedangkan anggota masyarakat yang lain hanya partisipan biasa dari dunia makna itu. Berpartisipasi dalam pandangan hidup tertentu hanyalah salah satu gejala objektivasi dari individu, yang menerima kenyataan objektif yang mempengaruhi hidupnya. Legitimasi di sini dilihat sebagai proses penjelasan dan pembenaran dari suatu interaksi antara individu. Legitimasi di satu pihak memberi nilai kognitif pada makna-makna dunia lembaga, sehingga aturan-aturan yang dikeluarkan dari lembaga-lembaga mendapat status norma. Dengan demikian legitimasi mempunyai komponen yang bersifat kognitif dan komponen yang bercorak normatif, sehingga tampak suatu sistem nilai dan sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan mendahului adanya sistem nilai dalam masyarakat (Knowledge precedes value in the legitimation of institutions).
Dengan memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan itu—eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi—serta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan normatif, maka yang kita namakan kenyataan sosial itu merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat sendiri dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, ke masa kini dan menuju masa depan. Usaha Berger untuk memadukan pelbagai perspektif dari pelbagai aliran teori sosiologi yang lebih memperhatikan satu aspek dan melalaikan aspek yang lain sehingga menjadi suatu konstruksi teoritis yang memadai, boleh dikatakan cukup berhasil, karena penjelasan ini mampu menampilkan hakikat masyarakat yang bercorak pluralistis, dinamis, serta kompleks. Dengan demikian, peranan sosiologi pengetahuan yang selama ini dianggap berisi sejarah pemikiran intelektual mendapat bobot baru sehingga tampil sebagai instrumen penting untuk menemukan hakekat masyarakat secara lebih jelas di masa yang akan datang.
Sampai sekarang banyak buku dan karangan telah ditulis oleh Berger, yang juga dikenal sebagai penulis yang produktif dan menggunakan bahasa penyajian yang enak dan mudah dicerna. Sudah hampir 30 tahun buku ini telah dikarang, yang melaporkan proses pemikirannya pada waktu itu tentang hubungan pengetahuan dan gejala masyarakat. Ironisnya edisi Indonesia dari karya klasik itu baru beredar di kalangan intelektual dan komunitas ilmuwan sosial Indonesia hampir 30 tahun kemudian. Meskipun begitu terlambatnya proses penerjemahan buku ini, kita sambut edisi Indonesianya dengan gembira, karena kontribusi buku ini diharapkan dapat membangun cara pandang alternatif atas masyarakat. Sosiologi pengetahuan ternyata mempunyai kemampuan subversif karena dapat mengganggu pandangan stabilitas suatu masyarakat—karena ternyata masyarakat itu buatan masyarakat itu sendiri, seperti kehidupan individual adalah buatan dirinya sendiri.
Judul edisi Indonesia yang berbunyi Tafsir Sosial atas Kenyataan ini merupakan usaha maksimal penerbit untuk menerjemahkan The Social Construction of Reality. Terjemahan ini barangkali tidak dapat diterima oleh mereka yang sudah membaca karya aselinya. Namun, menurut penerbit itulah pilihan terakhir dalam usaha menerjemahkan judul aslinya.
Dalam setiap cabang ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah memperoleh pengetahuan dan pengertian serta menerapkan pengetahuan itu pada masalah-masalah yang selalu saja timbul. Ini berlaku pula pada sosiologi pengetahuan yang menjadi tema sentral pembahasan buku ini. Lewat usaha menjelaskan dialektika antara diri manusia dan lingkungan sosio-kultural, Berger berhasil merumuskan dan menyadarkan kita tentang sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik. Bila Karl Marx telah berhasil menjelaskan bagaimana matter menciptakan mind, maka Berger dan Luckmann juga secara meyakinkan menjelaskan bagaimana mind menciptakan matter. Dua-duanya terlibat dalam usaha menyingkapkan misteri manusia sebagai Homo Faber, manusia tindakan dan aksi yang kini dalam kebingungan dalam memberi makna pada hasil karyanya sendiri.

Jakarta, 8 Januari 1990

Bahan Bacaan

Berger, Peter, Invitation to Sociology, A Humanistic Perspective, Garden City, Doubleday, 1963.
—— The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. Garden City: Doubleday, 1967
—— Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural. Garden City: Doubleday, 1969
—— Sociology : A Biographical Approach. New York: Basic Books, 1972
—— Sociology Reinterpreted. An Essay on Method and Vocation. Garden City: Doubleday, 1981
Cassirer, Ernst, An Essay on Man. An Introduction to A Philosophy of Human Culture. New Haven: Yale University, 1944
Dieter Evers, Hans, Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988
Drijarkara, N., Percikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan, 1964
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid I. Jakarta: Gramedia, 1985
Laeyendecker, I.., Tata, Perubahan dan Ketimpangan, Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta : Gramedia, 1963
Poloma, Margaret M., Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali, 1984
Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali 1985
Van Ufford, Philip Quarles, et al., Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan. Jakarta : Gramedia 1989
Veeger, K.J., Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia, 1985
Wuthnow, Robert, et al., Cultural Analysis. The Work of Peter L. Berger, Mary Douglas, Michel Foucault and Jurgen Habermas. Boston: Routledge & Kegan Paul, 1984

Peter L. Berger & Thomas Luckmann

Prakata

Buku ini dimaksudkan sebagai suatu pembahasan teoritis dan sistematis mengenai sosiologi pengetahuan. Oleh sebab itu ia tidak dimaksudkan untuk menyajikan suatu tinjauan historis mengenai perkembangan disiplin ini, atau untuk menjelaskan dan menafsirkan pelbagai tokoh dalam perkembangan ini atau itu dalam teori sosiologi, atau bahkan untuk menunjukkan bagaimana suatu sintesa bisa dicapai antara tokoh-tokoh dan perkembangan-perkembangan itu. Begitu pula tidak dikandung maksud untuk melibatkan diri dalam sesuatu polemik. Ulasan-ulasan kritis mengenai pendirian-pendirian teoritis lain hanya diberikan (tidak di dalam teks melainkan dalam catatan kaki) sejauh hal itu dapat memperjelas argumen buku ini.

Inti argumen itu akan dijumpai dalam Bagian-bagian Dua dan Tiga (“Masyarakat sebagai Kenyataan Objektif” dan “Masyarakat sebagai Kenyataan Subjektif”); yang pertama menyajikan pemahaman dasar kami mengenai berbagai masalah sosiologi pengetahuan, dan yang kedua menerapkan pemahaman ini kepada tingkat kesadaran subjektif dan dengan itu membangun sebuah jembatan teoritis ke masalah-masalah psikologi sosial. Bagian Satu memuat apa yang paling tepat dapat dilukiskan sebagai prolegomena filosofis bagi argumen inti, dari segi suatu analisa fenomenologis mengenai kenyataan kehidupan sehari-har (“Dasar-dasar Pengetahuan dalam Kehidupan Sehari-hari”). Pembaca yang hanya menaruh minat kepada argumen sosiologis semata mungkin akan tergoda untuk melompati saja bagian ini, akan tetapi ia kiranya perlu diingatkan bahwa konsep-konsep kunci tertentu yang digunakan dalam keseluruhan argumen itu didefinisikan dalam Bagian Satu ini.

Meskipun minat kami tidak terletak dalam segi historisnya, kami merasa berkewajiban untuk menjelaskan apa sebabnya dan dengan cara bagaimana konsepsi kami mengenai sosiologi pengetahuan berbeda dengan apa yang pada umumnya dipahami hingga kini oleh disiplin ini. Penjelasan ini terdapat dalam Pendahuluan. Di bagian akhir buku ini, kami sajikan beberapa catatan penutup untuk menunjukkan apa yang kami anggap sebagai “buah hasil” upaya kami ini bagi teori sosiologi pada umumnya dan bagi bidang-bidang tertentu dalam penelitian empiris.

Logika argumen kami menyebabkan bahwa sampai tingkat tertentu kami mau tak mau harus mengulang-ulang. Demikianlah, maka beberapa masalah ditinjau di dalam “tanda kurung” fenomenologis dalam Bagian Satu, kemudian masalah-masalah itu dibahas kembali dalam Bagian Dua, kali ini tanpa “tanda kurung”, dan dengan perhatian tertuju kepada asal-usul (genesis) empirisnya, lalu untuk ketiga kalinya masalah-masalah itu dibahas lagi dalam Bagian Tiga pada tingkat kesadaran subjektif. Kami telah berusaha agar buku ini bisa dibaca semudah mungkin, tetapi tanpa melanggar logika dalamnya, dan kami berharap bahwa pembaca akan memaklumi mengapa pengulangan-pengulangan tertentu tidak dapat dielakkan.

Ibn al ‘Arabi, mistikus besar Islam, berseru di dalam salah satu syairnya — “Selamatkan kami, ya Allah, dari lautan nama-nama!” Seruan ini sering kami ulangi selama kami sendiri belajar sosiologi. Karena itu kami telah memutuskan untuk meniadakan semua nama dari argumen kami yang di sini. Argumen itu lalu bisa dibaca sebagai suatu penyajian yang bersinambung dari pendirian kami sendiri, tanpa setiap saat diselingi dengan ungkapan-ungkapan -ungkapan seperti “Durkheim berkata begini”, “Weber berkata begitu”, “Dalam hal ini kami sependapat dengan Durkheim tapi tidak dengan Weber”, “Kami kira Durkheim telah disalahtafsirkan dalam hal ini”, dan sebagainya. Bahwa posisi kami tidaklah muncul dari keadaan kosong (ex nihilo) sudah jelas dalam setiap halaman; tetapi kami ingin agar posisi ini dinilai atas dasar baik-buruknya sendiri, tidak dari segi aspek-aspek penjelasan atau pensitesaannya. Karena itu, kami mencantumkan semua acuan dalam catatan kaki, dan demikian pula halnya (meskipun selalu secara singkat) dengan setiap perbedaan pendapat kami dengan sumber-sumber yang kepadanya kami berhutang budi. Hal ini dengan sendirinya menyebabkan karangan ini dilengkapi dengan banyak sekali catatan kaki. Itu tidak berarti bahwa kami sekadar menaati ritual Wissenschatlichkeit (keilmiahan), melainkan kami ingin setia kepada tuntutan-tuntutan untuk menyatakan rasa terima kasih kepada sejarah.

Proyek yang pada akhirnya melahirkan buku ini untuk pertama kalinya dibicarakan dalam musim panas 1962, dalam sejumlah percakapan yang santai di kaki dan—kadang-kadang—di puncak pegunungan Alpina di bagian barat Austria. Rencana pertama untuk menulis buku ini dibuat dalam awal 1963. Ketika itu rencana tersebut dimaksudkan sebagai suatu usaha yang melibatkan seorang sosiolog lagi dan dua orang filsuf. Karena berbagai alasan biografis, peserta-peserta lainnya terpaksa mengundurkan diri dari keterlibatan secara aktif di dalam proyek itu, namun kami ingin menyatakan penghargaan kami yang sebesar-besarnya atas komentar-komentar kritis yang terus menerus diberikan oleh Hansfried Kellner (saat ini di Universitas Frankfurt) dan Stanley Pullberg (saat ini di Ecole Pratique des Hautes Etudes).

Sampai sejauh mana hutang budi kami kepada mendiang Alfred Schutz akan menjadi jelas dalam berbagai bagian dari karangan ini. Namun demikian, kami di sini ingin menegaskan pengaruh ajaran dan tulisan Schutz atas pemikiran kami. Dalam upaya memahami Weber, kami telah memperoleh manfaat yang sangat besar dari ajaran Carl Meyer (
Graduate Faculty, New School for Social Research), demikian pula halnya dengan tafsiran-tafsiran Albert Salomon (juga dariGraduate Faculty) bagi pemahaman kami tentang Durkheim dan mazhabnya. Sambil mengenang kembali sekian banyaknya percakapan yang bermanfaat selama periode mengajar bersama-sama di Hobart College dan dalam kesempatan-kesempatan lain, Luckmann ingin menyatakan penghargaannya kepada pemikiran Friedrich Tenbruck (sekarang di universitas Frankfurt). Berger ingin menyatakan rasa terima kasihnya kepada Kurt Wolff (Universitas Brandeis) dan Anton Zilderveld (Universitas Leiden) atas perhatian kritis yang terus-menerus mereka berikan dalam perkembangan gagasan-gagasan yang terkandung dalam buku ini.

Dalam proyek seperti ini sudah merupakan satu kelaziman untuk menyatakan penghargaan atas berbagai sumbangan yang tak kentara, yang telah diberikan oleh istri, anak dan kawan-kawan pribadi yang status hukumnya lebih tidak jelas. Untuk sekedar menyalahi kelaziman ini kami ingin mempersembahkan buku ini kepada seorang Jodler (ahli nyanyi yodel) dari Brand/Vorarlberg. Namun demikian, kami ingin menyatakan rasa terima kasih kami kepada Brigette Berger (Hunter College) dan Benita Luckmann (Universitas Freiburg), bukan karena peranan pribadi yang tidak relevan dari segi ilmiah, melainkan karena pandangan-pandangan kritis mereka sebagai ilmuwan sosial dan karena kekerasan sikap mereka untuk tidak mudah terkesan.

Peter L. Berger

Graduate Faculty
New School for Social Research
New York

Thomas Luckmann
Universitas Frankfurt


1.0 Pengenalan

Setiap orang sarjana mentakrifkan istilah ‘penyelidikan’ mengikut pengertiannya tersendiri. Misalnya, ‘tatacara yang teratur yang digunakan oleh manusia untuk menambahkan ilmu pengetahuan baru, dan berbeza sekali dengan penemuan ilmu secara kebetulan atau spontan. Penyelidikan dilakukan mengikut langkah-langkah tertentu yang diatur khas untuk mengeluarkan maklumat baru’.

(Ahmad Mahzan Ayob, 1983)

‘Penyelidikan bertujuan mendapatkan kebenaran yang mempunyai logik mengenai sesuatu fenomena, tetapi ia tidak bererti bahawa kebenaran yang didapati itu merupakan kebenaran yang muktamad mengenai fenomena itu. Fakta-fakta baru atau fakta-fakta yang tidak didapati semasa penyelidikan dijalankan mungkin akan timbul dan ini akan mengubah keputusan penyelidikan dan dengan itu pengetahuan akan sentiasa berubah’.

(Mohd. Sheffie Abu Bakar, 1987)

‘…usaha mencari data yang akan dipergunakan untuk menguji sesuatu hipotesis, untuk memecahkan sesuatu persoalan tertentu, atau hanya sekadar ingin mengetahui samada wujudnya ataupun tidak sesuatu persoalan itu’.

(J. Supranto, 1986)

‘In carrying out research the purpose is to try to make some claim to knowledge; to try to show something that was not known before. However small, however modest the hoped for claim to knowledge is, provided it is carried out systematically, critically and self-critically, the search for knowledge is research’.

(Bassey, 1990)

‘Dari segi sejarah perkembangan penyelidikan, jelas membuktikan kajiselidik adalah satu langkah sistematik yang mengkaji perhubungan di antara pembolehubah. Langkah sistematik ini merupakan elemen yang terpenting didalam konsep asas penyelidikan. Seseorang mungkin melakukan sesuatu kajian ataupun pemerhatian, tetapi tindakan tersebut tidak akan membawa sebarang makna yang berkesan sekiranya proses langkah sistematik diabaikan’.

(Dr. Asaruddin Hj Ashaari, 1989)

Penyelidikan ialah satu kaedah yang tersusun, sistematik atau teratur dan bersifat objektif, bukan subjektif dan bebas dari pertimbangan nilai. Dengan lain perkataan, penyelidikan yang bersandarkan kepada pertimbangan fakta dan logik pemikiran manusia. Logik pemikiran manusia tentulah berdasarkan apa yang ditanggap oleh pancaindera manusia.

‘Pada amnya, kita dapat merumuskan penyelidikan sebagai satu tatacara teratur yang hasilnya membolehkan penambahan ilmu pengetahuan. Penyelidikan dilakukan mengikut langkah-langkah tertentu, khas bagi mendapatkan maklumat serta menjawab persoalan yang dibangkitkan.

(Syed Arabi Idid,1993)

2.0 Langkah-langkah Penyelidikan

2.1 Penyataan Masalah

Setiap kajian dimulakan dengan mengenalpasti masalah. Permasalahan merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk kepada perkara kajian yang kita akan lakukan. Kehidupan sosial memang dipenuhi oleh berbagai-bagai perkara yang boleh dijadikan topik kajian. Dalam bidang pendidikan umpamanya, guru-guru berhadapan dengan bermacam-macam permasalahan yang melibatkan murid-murid.

Penyelidik misalannya boleh mengemukakan kajian untuk mengetahui punca-punca masalah pembelajaran murid, meninjau pandangan murid mengenai kemudahan-kemudahan di sekolah, membandingkan pencapaian berasaskan latarbelakang keluarga murid-murid, melihat persepsi hubungan murid-murid dan sebagainya. Sebagai seorang yang berminat dalam sosiologi, kita akan melihat sesuatu masalah berdasarkan pemikiran yang sosiologikal. Contohnya dalam konteks modenisasi, kita melihat pelbagai bentuk pengaruh pemodenan telah mengubah murid-murid dari pemikiran dan tingkah laku. Antara perubahan-perubahan adalah seperti cara berpakaian, cara bertutur, cara berhubung, cara datang ke sekolah dan sebagainya. Dalam melaksanakan kajian, kita tidak dapat mengkaji dan menyelesaikan banyak masalah dalam satu penyelidikan.Oleh itu adalah kebiasaan setiap penyelidikan memfokuskan kajian kepada suatu penyataan masalah yang khusus.

Sebagai satu contoh penyelidikan mengenai kesan pemodenan ialah mengenai sekularisme. Penyelidikan mungkin ingin melihat bagaimana sekularisasi telah mengubah fikiran dan gaya hidup masyarakat Malaysia. Untuk melakukan penyelidikan di seluruh negara adalah sukar. Jadi kita mengecilkan skop kajian ke sebuah sekolah.

Di sekolah pula, untuk mengkaji kesan sekularisasi terhadap seluruh komuniti barangkali akan menghadapi masalah pengumpulan data. Justeru kita akan mengecilkan lagi skop kajian di kalangan murid-murid. Bilangan murid yang terlalu ramai pula menghadapi rintangan komunikasi dan kekangan masa. Jadi sebagai seorang yang baru hendak mula menyelidik kita akan menumpukan perhatian kepada murid-murid dalam satu bilik darjah sahaja. Dari segi perincian kajian kita perlu pula menetapkan aspek sekularisasi yang bagaimanakah perlu diketengahkan. Adakah kita melihat dari segi perubahan fizikal ataupun pemikiran. Misalnya, jika kita melihat kesan terhadap pandangan agama, kita mungkin akan mengemukakan masalah sejauh mana sekularisasi telah melemahkan amalan keagamaan murid-murid. Penyataan masalah boleh jadi masih lagi kabur kerana pada peringkat ini kita mungkin melihat wujud sekularisme tetapi belum mengenalpasti apakah sebenarnya sekularisme itu. Ringkasnya permasalahan yang dipilih perlu ditakrifkan. Oleh itu kita perlu membuat tinjauan melalui bahan-bahan bacaan yang berkaitan sekularisme.

2.2 Membuat Rujukan Bahan

Pengetahuan asas berkenaan perkara yang dikaji perlu sebelum melaksanakan kajian. Penyataan masalah tidak sempurna, tidak lengkap dan kabur tanpa membuat rujukan. Rujukan bahan atau sorotan literatur merupakan aktiviti-aktiviti mencari maklumat berkaitan perkara yang dikaji berdasarkan bahan-bahan sedia ada. Rujukan bahan boleh didapati daripada tulisan-tulisan, gambar-gambar, filem-filem, dan lain-lain bahan yang berkenaan. Sekiranya kajian kita mengenai sekularisme, kita mesti benar-benar faham sekularisasi. Untuk itu kita perlu ke perpustakaan mencari bahan-bahan mengenainya. Kemudian kita akan mencari hasil-hasil kajian atau tulisan-tulisan yang sedia ada mengenai kesan sekularisasi terhadap masyarakat. Berdasarkan rujukan, pemahaman kita dalam menyatakan permasalahan kajian akan menjadi lengkap dan dapat dipertahankan. Seterusnya rujukan awal akan membantu kita untuk merangka hipotesis.

2.3 Mengemukakan Hipotesis

Hipotesis merupakan andaian-andaian penyelidik terhadap hasil penyelidikannya. Andaian itulah yang akan dibuktikan oleh penyelidikan yang bakal dijalankan. Untuk menghasilkan suatu hipotesis yang baik ia perlulah mempunyai sifat-sifat seperti berfokus, jelas, logik, difahami dan dapat diuji. Dalam contoh sekularisasi, selepas mengadakan rujukan, penyelidik mungkin memahami sekularisasi sebagai proses di mana agama kehilangan pengaruh terhadap pelbagai situasi kehidupan sosial. Sekularisasi akan menyebabkan keruntuhan pengaruh-pengaruh organisasi dan nilai-nilai agama kepada idea-idea sains dan ilmu-ilmu pengetahuan duniawi yang dianggap moden. Oleh itu, berdasarkan pemodenan di negara kita, hipotesis penyelidikan mungkin mengandaikan bahawa sekularisasi telah berlaku di kalangan murid-murid sekolah. Perkara itulah yang akan dibuktikan oleh penyelidik melaui kajian yang dilaksanakannya.

2.4 Menentukan Kaedah

Kaedah merupakan cara atau jalan menyelesaikan permasalahan penyelidikan. ‘Kaedah penyelidikan merupakan segala langkah yang diambil untuk mencapai segala objektif penyelidikan’(Ahmad Mahdzan Ayob 1995:44). Selepas menetapkan masalah yang hendak dikaji, barulah difikirkan kaedah penyelidikan yang sesuai digunakan. Adalah salah sekiranya kita menentukan kadah sebelum ada persoalan.

Secara umum kaedah utama penyelidikan untuk mendapatkan data terbahagi kepada dua, iaitu dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Kita boleh memilih salah satu pendekatan ataupun menggabungkan kedua-duanya. Dihubungkan dengan teori-teori sosiologi, teori yang berbentuk makro selalu akan menggunakan pendekatan kuantitatif sementara yang berbentuk mikro kebiasaannya menggunakan pendekatan kualitatif.

Terdapat perbezaan antara penyelidikan kuantitatif dan penyelidikan kualitatif . Pendekatan kuantitatif mengutamakan ‘kuantiti’. Penyelidikan kuantitatif melibatkan angka-angka, data-data numerikal atau statistik. Statistik melibatkan pengiraan-pengiraan seperti min, median, mod, peratusan, sisihan piawai, skor-Z, skor-T, varian, dan sebagainya. Pendekatan kuantitatif dikatakan lebih berstruktur , mempunyai darjah kekaburan yang minima, makna yang jelas, bercorak linear, mempunyai penjadualan yang jelas, dan menumpukan kepada hasil. Dari segi skop kajian ia boleh melibatkan responden yang besar. Pendekatan kualitatif pula berasaskan ‘kualiti’. Ianya bersifat deskriptif yang lebih kepada penghuraian ‘makna’ perkara-perkara yang dikaji. Ia tidak mengutamakan data-data berbentuk numerikal. Ia kurang berstruktur, terbuka dan lebih menumpukan kepada proses. Skop kajiannya pula meliputi bilangan responden yang kecil .

Sungguhpun terdapat perbezaan-perbezaan kualitatif dan kuantitatif, kedua-duanya merupakan kaedah penyelidikan yang empirikal. Semua penyelidikan empirikal mempunyai persamaan-persamaan asas seperti mempunyai matlamat, sistematik dalam prosedur, membuat perbandingan, membuat deskripsi, menguji hipotesis, membuat penjelasan sebab dan akibat dan membuat analisa kritikal. Kita boleh memilih salah satu daripada pendekatan terutamanya berdasarkan masalah dan keluasan skop kajian yang akan kita laksanakan.

Sekiranya kajian kita melibatkan jumlah responden yang besar misalannya melebihi empat puluh orang, pendekatan kuantitatif lebih sesuai. Sekiranya kita cuma memilih bilangan responden yang kecil, misalnya lima orang, maka pendekatan kualitatif dipilih.

Dalam kajian ‘sekularisasi’, sekiranya kita ingin menyelidik seluruh komuniti sekolah, kita mungkin akan menggunakan kuantitatif kerana sampel yang besar diperlukan. Sekiranya kajian hanya melibatkan sebilangan kecil murid dalam sebuah bilik darjah yang mempunyai tiga puluh orang murid, kita mungkin lebih sesuai memilih pendekatan kualitatif. Kita juga boleh menggunakan kedua-dua pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu kajian yang sama. Kita harus ingat bahawa isu utama yang menjadi asas kepada kaedah penyelidikan adalah permasalahan, bukan kaedah menentukan penyelidikan. Dengan kata lain setiap penyelidikan bermula dengan masalah, bukan metodologi. Setelah ada permasalahan barulah data-data dicari melalui metodologi-metodologi dan strategi pilihan sesuai.

2.5 Menentukan Strategi dan Teknik

Maklumat dapat diperolehi daripada berbagai-bagai sumber. Strategi dan teknik merupakan cara-cara yang kita gunakan untuk mengumpul data-data atau maklumat dalam penyelidikan. Menurut Robson (1993) ‘strategi merujuk kepada gaya atau orientasi umum untuk menyelesaikan masalah penyelidikan’. Strategi yang dianggap tradisional ialah seperti eksperimen, tinjauan (survey) dan kajian kes. Tujuan kajian akan membantu menentukan strategi kajian. Teknik atau taktik pula merujuk kepada kaedah khusus dalam rekabentuk kajian. Contohnya seperti temubual, soal selidik, partisipasi, dan sebagainya. Setiap strategi dan teknik masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Penyelidikan boleh memilih strategi dan teknik tertentu ataupun menggabungkannya.

Apa yang penting ialah strategi dan teknik yang dipilih mempunyai ciri-ciri kredibiliti, keobjektifan, kebolehanpercayaan, keesahan dan kebolehan untuk generalisasi.

Penyelidikan yang empirikal akan memilih strategi dan teknik yang sesuai dan betul dalam mengumpul data. Secara amnya terdapat dua kategori data iaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data-data yang diperolehi secara langsung daripada ‘kejadian’ sosial sebenar. Antara teknik yang selalu digunakan untuk mendapatkan data primer adalh seperti soal selidik, temubual, dan partisipasi. Data sekunder pula merupakan maklumat-maklumat daripada bahan sedia ada dan boleh diperolehi melalui rujukan perpustakaan. Ia melibatkan kajian-kajian teks, dokumen, kertas kerja, mikro filem, media massa, dan sebagainya. Dalam contoh mengkaji kesan sekularisasi, data-data yang diperolehi hasil temubual dengan murid tersebut sebagai data primer. Data-data yang kita perolehi melalui bacaan di perpustakaan pula dianggap sebagai data sekunder.

Sungguhpun setiap penyelidikan akan menentukan teknik masing-masing, secara umumnya boleh dibezakan antara teknik yang dipilih oleh penyelidikan kualitatif dan penyelidikan kuantitatif. Teknik yang biasa dipilih oleh penyelidikan kualitatif ialah pemerhatian, temubual, soal selidik, kajian-kajian bahan seperti dokumen dan teks, visual seperti gambar dan video, laporan rasmi, bahan-bahan ephemera seperti iklan, poster, risalah, diari, karton, dan lain-lain. Bagi penyelidikan kuantitatif strategi asas ialah soal selidik, menganalisa maklumat-maklumat data-data numerikal yang sedia ada dan melakukan eksperimen statistik.

Dalam contoh kajian kesan sekularisasi, sekiranya kita mempunyai sampel yang besar, kita boleh memilih strategi menggunakan borang soal selidik yang diedarkan kepada responden. Sekiranya sampel yang dipilih cuma lima orang, kita boleh memilih strategi temubual. Kajian rintis atau praujian perlu dilakukan untuk melihat sejauh manakah strategi dan teknik yang telah dipilih sesuai dan mampu dilaksanakan. Sebagai contoh, jika kita menggunakan borang soal selidik, ianya perlu dicuba terlebih dahulu. Borang-borang diedarkan kepada responden terpilih. Hasilnya akan dikaji dan dimana perlu pengubahsuaian dilakukan terhadap kandungan borang soal selidik sebelum ianya diedarkan untuk penyelidikan sebenar.

2.6 Menjadualkan Kerja

Sesuatu penyelidikan perlulah dirancang dengan teliti. Perancangan atau pelan tindakan akan membantu seseorang penyelidik dalam mendapatkan maklumat dan memudahkan kerja-kerjanya. Perancangan hendaklah bersesuaian dengan skop kajian, kaedah yang dipilih, kemudahan-kemudahan fizikal dan situasi si pengkaji. Dari segi skop, skop yang luas memerlukan masa yang mungkin lebih panjang.

Kaedah kuantitatif memerlukan masa untuk menyediakan soal selidik, melakukan kajian rintis, mengedarkan borang dan menganalisa data-data numerikal. Bagi kaedah kualitatif masa yang panjang mungkin diperlukan mengaturkan temujanji, mengadakan perjumpaan dan menganalisa data-data selepas temubual. Kemungkinan pula seorang penyelidik sepenuh masa akan menjadualkan masa yang lebih singkat berbanding dengan penyelidik sambilan dalam meyempurnakan kerja-kerja penyelidikan yang serupa. Dari segi kemudahan fizikal penyelidik patut mengambil kira keperluan-keperluan logistik dan anggaran perbelanjaan. Oleh itu jadual kerja perlulah diselaraskan dengan peruntukan kewangan.

Sungguhpun sebahagian proses penyelidikan boleh dilakukan di dalam perpustakaan, menyelidik merupakan aktiviti turun ke padang. Maksudnya seorang ahli sosiologi sepatutnyalah melihat dan mengkaji kejadian sebenar dalam kehidupan sosial. Oleh itu penyelidikan sosial yang signifikan adalah berdasarkan data-data hasil daripada kerja lapangan seperti temubual, pemerhatian, penyertaan, dan soal selidik. Beberapa masalah mungkin dihadapi dalam melaksanakan kerja lapangan.Antaranya pelbagai isu etika perlu diselesaikan.

Pertamanya kita perlu mendapatkan kebenaran daripada autiroti berkenaan. Jika kita hendak membuat kerja lapangan di sekolah misalnya, kebenaran pengetua terlebih dahulu diperlukan. Keduanya penyelidikan melibatkan sensitiviti banyak pihak. Terdapat penyelidikan yang mungkin menyinggung perasaan pihak tertentu. Kajian mengenai persoalan sekularisme atau seks misalnya, dianggap sensitif oleh banyak pihak. Oleh itu pengkaji perlulah berhati-hati dalam menanganinya. Ketiganya penyelidik mesti menyedari akan hak responden. Responden tidak boleh dipaksa untuk diselidik. Segala jawapan mereka mestilah secara sukarela. Keempatnya, penyelidik sepatutnya tidak bersikap berat sebelah atau bias dalam kajiannya. Penyelidikan yang bersifat etnosentrik mungkin akan menjejaskan keobjektivitian kajian. Ringkasnya penyelidikan melibatkan persoalan etika, isu-isu sensitif dan politik yang tidak dapat dielakkan oleh penyelidik. Maka terpulanglah kepada si penyelidik untuk mendapatkan maklumat yang beretika, benar dan tepat.

2.7 Menganalisa dan Menginterpretasi Data

Menginterpretasi data merupakan perkara penting yang menarik minat penyelidik. Penganalisaan perlu dilakukan dengan teliti. Data-data akan membuktikan atau menafikan hipotesis penyelidikan. Bagi penyelidikan kuantitatif, data-data perlu diproses dengan pengiraan yang berhati-hati supaya tidak berlaku kesalahan statistik. Sekarang penganalisaan data adalah lebih mudah dengan bantuan program komputer. Dalam menganalisa statistik, kita harus akur dengan kenyataan ‘statistik tidak selalunya benar-benar membuat kenyataan yang tepat, ia hanya mencadangkan kenyataan yang betul, iaitu ada kemungkinan betul dan ada kemungkinan tidak betul’.Maklumat-maklumat hasil penyelidikan kualitatif pula perlu dicatatkan semasa atau sebaik sahaja kerja lapangan dijalankan. Ini terutamanya untuk mengelakkan penyelidik misalnya ‘terlupa’ akan maklumat-maklumat yang baru diperolehinya. Penganalisaan dapat dibantu dengan penggunaan carta, jadual, graf, rajah, transkrip, dan sebagainya.

2.8 Melaporkan Hasilan

Melaporkan hasil bermaksud menukarkan penyelidikan yang telah dijalankan kepada bentuk susunan teks bertulis. Ia merupakan peringkat akhir sesuatu penyelidikan. Penulisan laporan selalunya dibahagikan kepada beberapa tajuk kecil iaitu pengenalan dan latar belakang kajian, hipotesis dan kaedah kajian, analisa data-data, rumusan dan penutup, bibliografi dan lampiran-lampiran yang berkaitan.

Sebelum bahagian pengenalan, laporan selalunya mengandungi ruang untuk ‘halaman’ dan ringkasan atau abstrak kajian. Bahagian pengenalan menerangkan mengenai tajuk dan bidang kajian. Pada kebiasaannya sebahagian besar isinya adalah berdasarkan rujukan-rujukan sekunder. Bahagian hipotesis pula menyatakan harapan-harapan pengkaji terhadap hasil kajian. Ia juga menerangkan rasional di sebalik kaedah yang dipilih. Selepas itu barulah penulisan membincangkan hasil-hasil berdasarkan data-data yang diperolehi. Hujahan-hujahan yang kritikal disertakan. Dapatan-dapatan utama merupakan perkara-perkara yang berkaitan secara langsung dengan permasalahan penyelidikan. Mungkin juga terdapat dapatan-dapatan sampingan yang tidak secara langsung berkaitan dengan topik kajian. Akhirnya penyelidik akan membuat rumusan daripada hasil kajian dan membuat cadangan-cadangan yang berkaitan. Adalah menjadi kebiasaan setiap penyelidikan sosial mencadangkan kajian-kajian lanjut berdasarkan dapatan-dapatannya.

3.0 Penutup

‘Sungguhpun dari beberapa segi setiap projek penyelidikan adalah unik tetapi semua projek itu melibatkan kelima-lima peringkat asas yang sama. Peringkat-peringkat asas ini ialah memilih permasalahan ; merumuskan rekabentuk penyelidikan ; mengumpul data ; pengkodan dan menganalisis data dan mentafsirkan hasil kajian. Tiap-tiap peringkat itu saling bergantung antara satu sama lain dan keseluruhan proses penyelidikan itu seolah-olah membentuk suatu kelingkaran. Jika hipotesisnya ditolak, penyelidik mesti mengkaji semula kajian-kajian dan membuat kajian sekali lagi. Malah jika hipotesisnya betul, penyelidik selalu berhajat untuk membuat replikasi atau mengulang semula kajiannya untuk memastikan penemuan-penemuan adalah tepat’.

(Kenneth D. Bailey,1992)

Perbincangan setakat ini telah menggariskan langkah-langkah umum yamg dapat dijadikan sebagai panduan dalam melaksanakan penyelidikan sosiologi. Sayugia dijelaskan bahawa perbincangan di sini bukanlah merupakan suatu pembentangan yang lengkap mengenai penyelidikan. Sememangnya penyelidikan yang akademik sifatnya memerlukan perincian-perincian yang lebih mendalam. Namun begitu apa yang diharapkan adalah perbincangan ini dapat memberikan gambaran awal tentang penyelidikan dan mendorong mereka yang berminat untuk menyelidik.

Senarai Rujukan

Amir Hasan Dawi, 1999, Penteorian Sosiologi dan Pendidikan, Quantum Books, Tanjung Malim.

Alex Inkeles, 1982, Apa Itu Sosiologi ? Suatu Pengenalan Mengenai Disiplin dan Profesion, Universiti Harvard, DBP, Kuala Lumpur.

Kenneth D. Bailey, 1992, Kaedah Penyelidikan Sosial, DBP, Kuala Lumpur.

Mohd. Salleh Lebar, 1998, Pengenalan Ringkas Sosiologi Sekolah dan Pendidikan, Thinker’s Library Sdn.Bhd., Selangor.

Syed Arabi Idid, 1993, Kaedah Penyelidikan Komunikasi dan Sains Sosial, DBP, Kuala Lumpur.

Hasan Mustafa

Pengantar:

Tulisan ini disusun sebagai upaya membantu mahasiswa memahami isi mata kuliah Psikologi Sosial pada program studi Administrasi Negara Fisip Unpar. Acuan uraian ini adalah buku yang ditulis oleh James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, dan James Vander Zanden (1994), dilengkapi oleh sumber bacaan lain. Topik lain yang juga merupakan pokok bahasan dalam mata kuliah tersebut akan segera disusun. Semoga bermanfaat.

Akar awal Psikologi Sosial

Walau psikologi sosial merupakan disiplin yang telah lama ada ( sejak Plato dan Aristotle), namun secara resmi, disiplin ini menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908. Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu “Introduction to Social Psychology” ditulis oleh William McDougall – seorang psikolog – dan “Social Psychology: An Outline and Source Book, ditulis oleh E.A. Ross – seorang sosiolog.

Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat dipahami bahwa psikologi sosial bisa di”claim” sebagai bagian dari psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi. Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia. Di Amerika disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi – di American Sociological Association terdapat satu bagian yang dinamakan “social psychological section”, sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.

Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi?

Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial . Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal – persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya – sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Pertanyaan yang paling mendasar yang senantiasa menjadi kajian dalam psikologi sosial adalah: “Bagaimana kita dapat menjelaskan pengaruh orang lain terhadap perilaku kita?'”. Misalnya di Prancis, para analis sosial sering mengajukan pertanyaan mengapa pada saat revolusi Prancis, perilaku orang menjadi cenderung emosional ketimbang rasional? Demikian juga di Jerman dan Amerika Serikat dilakukan studi tentang kehadiran orang lain dalam memacu prestasi seseorang. Misalnya ketika seorang anak belajar seorang diri dan belajar dalam kelompok, bisa menunjukan prestasi lebih baik dibandingkan ketika mereka belajar sendiri. Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia “berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya”

Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis – lalu dikenal dengan penjelasan “nature” – dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka – dikenal dengan penjelasan “nurture”. Penjelasan “nature” dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).

Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan – yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan “nurture explanation”. Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain.

Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial – seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu: perilaku (behavioral perspectives), kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).

Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan: “Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?”. Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.

Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.

Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah: ” Sejauhmana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial?”. Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai “seorang ayah”. Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di bawah ini diuraikan satu persatu keempat prespektif dalam psikologi sosial.

Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)

Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941, 1919). Pendekatan ini cukup banyak mendapat perhatian dalam psikologi di antara tahun 1920-an s/d 1960-an. Ketika Watson memulai penelitiannya, dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun imajinasi. Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat “mistik”, “mentalistik”, dan “subyektif”. Dalam psikologi obyektif maka fokusnya harus pada sesuatu yang “dapat diamati” (observable), yaitu pada “apa yang dikatakan (sayings) dan apa yang dilakukan (doings)”. Dalam hal ini pandangan Watson berbeda dengan James dan Dewey, karena keduanya percaya bahwa proses mental dan juga perilaku yang teramati berperan dalam menyelaskan perilaku sosial.

Para “behaviorist” memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan “tanggapan” (responses), dan lingkungan ke dalam unit “rangsangan” (stimuli). Menurut penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu bisa berasosiasi satu sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk hubungan fungsional. Contohnya, sebuah rangsangan ” seorang teman datang “, lalu memunculkan tanggapan misalnya, “tersen-yum”. Jadi seseorang tersenyum, karena ada teman yang datang kepadanya. Para behavioris tadi percaya bahwa rangsangan dan tanggapan dapat dihubungkan tanpa mengacu pada pertimbangan mental yang ada dalam diri seseorang. Jadi tidak terlalu mengejutkan jika para behaviorisme tersebut dikategorikan sebagai pihak yang menggunakan pendekatan “kotak hitam (black-box)” . Rangsangan masuk ke sebuah kotak (box) dan menghasilkan tanggapan. Mekanisme di dalam kotak hitam tadi – srtuktur internal atau proses mental yang mengolah rangsangan dan tanggapan – karena tidak dapat dilihat secara langsung (not directly observable), bukanlah bidang kajian para behavioris tradisional.

Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah fokus behaviorisme melalui percobaan yang dinamakan “operant behavior” dan “reinforcement”. Yang dimaksud dengan “operant condition” adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi, lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini, tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan “operant behavior”. Yang dimaksud dengan “reinforcement” adalah proses di mana akibat atau perubahan yang terjadi dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang . Misalnya, jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang belum kita kenal sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada kita, maka muncul kemungkinan bahwa jika di kemudian hari kita bertemu orang asing maka kita akan tersenyum. Perlu diketahui, reinforcement atau penguat, bisa bersifat positif dan negatif. Contoh di atas merupakan penguat positif. Contoh penguat negatif, misalnya beberapa kali pada saat kita bertemu dengan orang asing lalu kita tersenyum dan orang asing tersebut diam saja atau bahkan menunjukan rasa tidak suka, maka dikemudian hari jika kita bertemu orang asing kembali, kita cenderung tidak tersenyum (diam saja).

Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).

Teori Pembelajaran Sosial.

Di tahun 1941, dua orang psikolog – Neil Miller dan John Dollard – dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan “social learning ” – “pembelajaran sosial”. Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan bakuyang telah ditetapkan oleh masyarakat maka “para individu harus dilatih, dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang orang lain lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.”, demikian saran yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.

Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama. Misalnya, anak-anak cenderung lebih suka meniru orang-orang yang mirip dengan orang yang sebelumnya memberikan imbalan. Jadi, kita mempelajari banyak perilaku “baru” melalui pengulangan perilaku orang lain yang kita lihat. Kita contoh perilaku orang-orang lain tertentu, karena kita mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain tertentu tadi dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di masa lampau.

Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963), mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” – pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film karton.

Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial seyogianya diperbaiki lebih jauh lagi. Dia mengatakan bahwa teori pembelajaran sosial yang benar-benar melulu menggunakan pendekatan perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan proses mental, perlu dipikirkan ulang. Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran sosial membahas tentang (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2) cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity – kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.

Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan – hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.

Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya “Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi:”Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi “. Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi: “Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali”. Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah “distributive justice” – aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi ” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya – makin tingghi pengorbanan, makin tinggi imbalannya – dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya – makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)

Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem – karena mengabaikan kegiatan mental manusia.

Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif .

Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia sosial”. Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Medan (Field Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.

Teori Medan (Field Theory)

Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui pendekatan konsep “medan”/”field” atau “ruang kehidupan” – life space. Untuk memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas – lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu merupakan fungsi dari “ruang kehidupan”- individu dan lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lainnya. Artinya “ruang kehidupan” merupakan juga merupakan determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang. Lewin memaknakan “ruang kehidupan” sebagai seluruh peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi tertentu.

Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan konteks – lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teorimedan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep “gestalt” dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya, kalau kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut berada.

Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution Theory)

Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.

Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam kerangka “sebab dan akibat”. Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan mencocokannya dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep “causal attribution” – proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono pindah ke kotalain?, Mengapa Ari keluar dari sekolah?. Kita bisa menjelaskan perilaku sosial dari Tono dan Ari jika kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi.

Teori Kognitif Kontemporer

Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah “kognisi” digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah “schema” (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.

Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.

Perspektif Struktural

Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara para ilmuwan sosial dalam hal menjelaskan perilaku sosial seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental. Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu. William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok – yaitu adat-istiadat masyarakat – atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas “diri” (self) – perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri – self.

Sosiolog lain Robert Park dari Universitas Chicagomemandang bahwa masyarakat mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu- individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi persektif strukturan adalah Teori Peran (Role Theory), Teori Pernyataan – Harapan (Expectation-States Theory), dan Posmodernisme (Postmodernism)

Teori Peran (Role Theory)

Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku kita dalam hubungannya dengan peran, namun jauh sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial

Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia tujuh belah tahun, mempunyai istri/suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun, pensiun usia limapuluh limatahun. Urutan tadi dinamakan “tahapan usia” (age grading). Dalam masyarakat kontemporer kehidupan kita dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam pembagian lagi.

b. Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)

Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gayainteraksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut memiliki motivasi dan ketrampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa ditampilkan sebaik mungkin.

Bagaimanapun juga, kita sering kekurangan informasi tentang kemampuan yang berkaitan dengan tugas yang relevan, dan bahkan ketika kita memiliki informasi, yang muncul adalah bahwa kita juga harus mendasarkan harapan kita pada atribut pribadi dan kelompok seperti: jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam beberapa masyarakat tertentu, beberapa atribut pribadi dinilai lebih penting daripada atribut lainnya. Untuk menjadi pemimpin, jenis kelamin kadang lebih diprioritaskan ketimbang kemampuan. Di Indonesia, untuk menjadi presiden, ras merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi. Berger menyebut gejala tersebut sebagai “difusi karakteristik status”; karakteristik status mempengaruhi harapan kelompok kerja. Status laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan dalam soal menjadi pemimpin, warganegara pribumi asli lebih diberi tempat menduduki jabatan presiden. Difusi karakteristik status tersebut ( jenis kelamin, ras, usia, dan lainnya) dengan demikian, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.

c. Posmodernisme (Postmodernism)

Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan.

Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya.

Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gayahidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontohgaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “ pilihan kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dalam struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap” menjadigaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”, dia bukan remaja. Perilaku seseorang ditentukan olehgaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya, bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”.

Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial – pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat – sebagian besarnya pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya.

4. Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)

Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead (1934) yang mengajar psiokologi sosial pada departemen filsafat Universitas Chicago, mengembangkan teori ini. Mead percaya bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengakui bahwa individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga memunculkan perilaku yang juga berbeda. Misalnya, perilaku pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus ini, Mead tampak juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang pandangan bahwa perilaku kita melulu dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau struktur sosial. Sebaliknya Mead percaya bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah membantu menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia memberi catatan bahwa walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam suatu kelompok/masyarakat, namun hal tersebut tidaklah berarti bahwa kita senantiasa berkompromi dengannya.

Mead juga tidak setuju pada pandangan yang mengatakan bahwa untuk bisa memahami perilaku sosial, maka yang harus dikaji adalah hanya aspek eksternal (perilaku yang teramati) saja. Dia menyarankan agar aspek internal (mental) sama pentingnya dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama “social behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada beberapa teori yang layak untuk dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory), dan Teori Identitas (Identity Theory).

a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)

Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji untuk bisa memahami perilaku sosial, namun hal tersebut bukanlah merupakan minat khususnya. Justru dia lebih tertarik pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat (gesture) tertentu dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-pihak yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi Mead, gerak-isyarat yang maknanya diberi bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu bentuk simbol yang mempunyai arti penting” ( a significant symbol”). Kata-kata dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik, bahasa tubuh (body langguage), baju, status, kesemuanya merupakan simbol yang bermakna.

Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang dikeluarkan orang lain, demikian pula perilaku orang lain tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan orang lain, kita menangkap pikiran, perasaan orang lain tersebut. Teori ini mirip dengan teori pertukaran sosial.

Interaksi di antara beberapa pihak tersebut akan tetap berjalan lancar tanpa gangguan apa pun manakala simbol yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dimaknakan bersama sehingga semua pihak mampu mengartikannya dengan baik. Hal ini mungkin terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam interaksi tersebut berasal dari budaya yang sama, atau sebelumnya telah berhasil memecahkan perbedaan makna di antara mereka. Namun tidak selamanya interaksi berjalan mulus. Ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan simbol yang tidak signifikan – simbol yang tidak bermakna bagi pihak lain. Akibatnya orang-orang tersebut harus secara terus menerus mencocokan makna dan merencanakan cara tindakan mereka.

Banyak kualitas perilaku manusia yang belum pasti dan senantiasa berkembang: orang-orang membuat peta, menguji, merencanakan, menunda, dan memperbaiki tindakan-tindakan mereka, dalam upaya menanggapi tindakan-tindakan pihak lain. Sesuai dengan pandangan ini, individu-individu menegosiasikan perilakunya agar cocok dengan perilaku orang lain.

b. Teori Identitas (Identity Theory)

Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker (1980). Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu dan masyarakat dipandang sebagai dua sisi dari satu mata uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker tampaknya setuju dengan perspektif struktural, khususnya teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak peka terhadap kreativitas individu.

Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri/self (dari teori interaksi simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.

Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas mendudukan individu sebagai pihak yang aktif dalam menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal tersebut kurang memadai.

RANGKUMAN

Telah kita bahas empat perspektif dalam psikologi sosial. Yang dimaksud dengan perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental (pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang psikologi.

Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro) sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri.

Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka seringkali muncul pertanyaan: “Teori mana yang paling benar?” atau “teori mana yang terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya perilaku agresif – pada bagaimana orang tua, guru, dan pihak-pihak lain yang memberi perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teorimedan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan.Para teoritisi pertukaran sosial bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat pada posisi sosialnya harus dipenuhi.

Demikianlah, setiap teori bisa digunakan untuk menjadi pendekatan yang efektif tidak untuk semua aspek perilaku. Teori peran lebih efektif untuk menjelaskan perilaku X dibanding dengan teori yang berperspektif kognitif, misalnya.

Buku Acuan:

Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition, 1985, McGraw-Hill, Inc.

Thinking Sociologically, Sheldon Goldenberg, 1987, Wadsworth, Inc.

Social Psychology, James A. Wiggins, Beverly B. Wiggins, James Vander Zanden, Fifth Edition, 1994, McGraw-Hill, Inc.

Sociology, Concepts and Uses, Jonathan H. Tuner, 1994. McGraw-Hill Inc.

Social Psychology, Kay Deaux,Lawrence S. Wrightsman, Fifth Edition, 1988, Wadsworth, Inc.

I. PENGANTAR

Tulisan ini telah menyita perhatian karena telah merubah cara kita berpikir tentang teori-teori sosial dan kita berharap bahwa kita akan berlaku sama untuk yang lain. Tulisan ini menjelaskan dan membantu mengatasi apa yang kiranya menjadi sumber utama kebingungan dalam ilmu-ilmu sosial pada saat sekarang. Pada awalnya tulisan ini hanya bermaksud menghubungkan teori-teori organisasi dalam konteks kemasyarakatan yang lebih luas. Tetapi, dalam wacana yang lebih luas, tulisan ini sekaligus juga mencakup banyak aspek dari filsafat dan teori sosial secar umum.

Dalil kami adalah bahwa teori sosial dapat secara mudah dipahami dari empat kunci paradigma, yang didasarkan atas perbedaan anggapan metteori tentang sifat dasdar ilmu sosial dan sifat dasar dari masyarakat. Empat paradigma itu dibangun atas pandangan-pandangan yang berbda mengenai dunia soisal. Masing-masing pendirian menghasilkan (melahirkan) analisanya sendiri-sendiri mengenai kehidupan sosial. Masing-masing paradigma melahirkan teori-teori dan pandangan-pandangan yang didalamnya terdapat pertentangan fundamental yang ditimbulkan dalam paradigma lainnya.

Sejumlah analisa-analisa teori sosial telah membawa kita berhadap-hadapan langsung dengan sifat dari asumsi-asumsi yang mengandung perbedaan pendekatan pada ilmu sosial.


II. ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU SOSIAL

Tesis utama dalam tulisan ini adalah bahwa semua teori tentang masyarakat didasarkan pada (atas) filsafat ilmu dan teori sosial tertentu. Filsafat dan teori ilmu sosial selalu mengandung empat anggapan dasar (asumsi): ontologis, epistemologis, pandangan tentang manusia (human nature), dan metodologi. Semua pakar ilmu sosial mendekati pokok kajian mereka dengan asumsi-asumsi (baik eksplisit maupun implisit) mengenai dunia sosial dan cara dimana dunia sosial diteliti.

Asumsi Ontologis / Hakekat sesuatu

Asumsi ini memperhatikan inti dari fenomena yang diamati. Para pakar ilmu sosial misalnya dihadapkan pada pertanyaan dasar ontologis: apakah realitas diteliti sebagai suatu yang berada di luar diri manusia yang merasuk ke dalam alam kesadaran seseorang; ataukah merupakan hasil dari kesadaran seseorang? Apakah realitas itu merupakan keadaan yang obyektif atau hasil dari pengetahuan seseorang (subyektif)? Apakah realitas itu memang sesuatu yang sudah ada (given) di luar pikiran seseorang atau hasil dari pikiran seseorang.

Asumsi Epistemologis / Memperoleh kebenaran

Ini berkaitan dengan anggapan-anggapan dasar mengenai landasan ilmu pengetahuan, yaitu bagaimana seseorang mulai memahami dunia sosial dan mengkomunikasikannya sebagai pengetahuan kepada orang lain. Anggapan dasar ini berkaitan juga dengan bentuk-bentuk pengetahuan apa saja yang bisa didapat dan bagaimana seseorang memilah-milah mana yang dikatakan “benar” dan “salah”. Dikotomi benar dan salah itu sendiri menunjukkan pendirian atau sikap epistemologi tertentu. Didasarkan atas pandangan tentang sifat ilmu pengetahuan itu sendiri: apakah misalnya mungkin mengenal dan mengkomunikasikan sifat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang wujud nyata dan dapat disebarkan atau diteruskan dalam bentuk nyata; atu apakah ilmu pengetahuan itu merupakan sesuatu yang lebih halus (tidak berujud), lebih mempribadi, bersifat rohaniah dan bahkan mengatasi kenyataan (transendental) yang lebih didasarkan pengalaman dan pengetahuan pribadi yang unuk dan hakiki? Di sini epistemologi menentukan posisi yang ekstrim: apakah pengetahuan itu sesuatu yang dapat diperoleh (dipelajari) dari orang lain atau sesuatu yang dimiliki atas dasar pengalaman pribadi.

Asumsi Hakekat Manusia

Ini terutama mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Semua ilmu sosial secara jelas harus didasarkan pada asumsi ini, karena kehidupan manusia hakekatnya adalah subyek sekaligus obyek dari pencarian dan penemuan pengetahuan. Kita dapat mengindentifikasi pandanngan ilmu sosial, yang mengandung pandangan manusia dalam menanggapi keadaan-keadaan di luar dirinya secara mekanistik atau deterministik. Pandangan ini mengarahkan manusia bahwa manusia dan pengalamnnya dihasilkan oleh lingkungan, manusia dibentuk oleh keadaan sekitar di luar dirinya. Pandangan ini dipertentangkan dengan anggapan bahwa manusia memiliki peran penciptaan yang lebih besar, memiliki kemauan bebas (free will), menduduki peran kunci, bahwa seseorang adalah pencipta lingkungan sekitarnya, pengendali dan bukan dikendalikan, sebagai dalang (master) bukan wayang (marionette). Dalam dua pandangan ekstrim ini.

Asumsi Metodologis

Anggapan-anggapan dasar tersebut memiliki konsekuensi penting dalam hal cara seseorang menemukan pengetahuan tentang dunoia sosial. Perbedaan asumsi ontologis, epistemologis, dan asumsi kecenderungan manusia akan membawa ahli ilmu sosial ke arah perbedaan metodologis, bahlkan di kalangan ahli ilmu alam tradisional sekalipun yang jurang perbedaan mereka sangat tipis. Menelusuri metodologi yang digunakan kedua kubu itu sangatlah mungkin. Penganut paham ekstrim pertama, analisisnya akan dipusatkan pada hubungan-hubunhan dan tatanan-tatanan antara berbagai unsur yang membentuk masyarakat dan menemukan cara yang dapat menjelaskan hubungan (relationship) dan keteraturan (regularity). Cara ini merupakan upaya mencari hukum-hukum yang dapat diberlakukan secara umum untuk menjelaskan kenyataan sosial. Penganut pandangan kedua, upayanya terarah pada berbagai masalah masayarakat yang berbeda dan dipahami dengan cara berbeda pula. Upayanya terpusat memahami cara seseorang menafsirkan, merubah dan membentuk dunia di mana ia berada. Tekanannya pada pemahaman dan pengertian khas dan unik setiap orang pada kenyataa yang umum. Menekankan sifat kenisbian kenyataan sosial. Pendekatan ini sering dianggap “tidak ilmiah” oleh penganut kaidah-kaidah ilmu pengetahuan sosial.


III. BAGAN ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU SOSIAL (DIMENSI SUBYEKTIF-OBYEKTIF)

Nominalisme – Realisme : Debat Ontologis

Kaum nominalis beranggapan bahwa realitas sosial yang dianggap merupakan sesuatu yang berada di luar diri seseorang hanyalah sekedar nama-nama (names), konsep atau label yang digunakan menjelaskan realitas sosial. Mereka tidak menerima adanya kenyataan masyarakat di manapun yang benar-benar dapat dijelaskan oleh konsep semacam itu. Penamaan itu hanyalah rekaan saja untuk menjelaskan, emberi pengertian dan memahami realitas. Nominalisme sering disejajarkan dengan paham konvensionalisme. Keduanya sulit dibedakan.

Realisme beranggapan bawa realita sosial sebagai sesuatu di luar diri seseorang, merupakan kenyataan yang berujud, dapat diserap, dan merupakan tatanan nisbi yang tetap. Realitas itu ada, berwujud sebagai keutuhan yang dapat dialami (empirical entities). Mungkin kita saja yang belum menyadari dan belum memiliki penamaan atau konsep untuk menjelaskannya. Kenyataan sosial ada terpisah (independen) dari pemahaman seseorang terhadapnya. Orang dilahirkan dan kenyataan sudah ada di luar dirinya, bukan berarti orang itu yang menciptakannya. Realitas ada mendahului keberadaan dan kesadaran seseorang terhadapnya.

Anti-positivisme – Positivisme: Debat Epistemologis

Sebutan “kaum positivis” sama seperti “kaum Borjuis” berkesan sentimen dari suatu pandangan tertentu. Istilah itu digunakan di sini untuk mengidentifikasi sikap atau pendirian epistemologis tertentu. Istilah positivisme sering dicampuradukkan dengan “empirisme”, ini mengeruhkan beberapa pengertian pokok dan bernada olok-olok.

Pendirian epistemologis kaum positivis didasarkan pada pendekatan tradisional yang digunakan dalam ilmu alam. Perbedaannya hanya dalam istilah yang digunakan. Hipotesa mengenai tatanan sosial dapat dibuktikan kebenarannya melalui penelitian eksperimental; tetapi sering juga jipotesa itu keliru dan tak pernah dapat dibuktikan kebenarannya. Kaum verifikasionis (ingin membuktikan kebenaran) dan falsisikasionis (ingin membuktikan kekeliruan) hipotesa tentang tatanan sosial sependapat bahwa pengetahuan hakekatnya merupakan proses kumulatif dimana pemahaman-pemahaman baru diperoleh sebagai tambahan atas kumpulan pengetahuan atau penghapusan atas hipotesa salah yang pernah ada.

Pendirian epistemologis kaum anti-positivis beragam jenisnya, yang semuanya tidak menerima berlakunya kaidah-kaidah atau menegasdkan tatanan sosial tertentu terhadap semua peristiwa sosial. Realitas sosial adalah nisbi, hanya dapat dipahami dari pandangan orang-perorang yang langsung terlibat dalam peristiwa sosial tertentu. Mereka menolak kedudukan sebagai “pengamat” seperti layaknya kedudukan kaum positivis. Seseorang hanya bisa “mengerti” melalui kerangka berpikir orang yang terlibat langsung atau diri mereka sendiri sebagai peserta atau pelaku dalam tindakan. Seseorang hanya bisa mengerti dari sisi dalam, bukan dari luar realitas sosial. Karena itu, ilmu sosial bersifat subyektif dan menolak anggapan bahwa ilmu pengetahuan dapat ditemukan sebagai pengaetahuan tentang apa saja.

Volunterisme – Determinisme : Debat Hakekat Manusia

Kaum determinis menganggap bahwa manusia ditentukan oleh keadaan lingkungan sekitar dimana ia berada. Kaum volunteris beranggapan manusia sepenuhnya pencipta dan berkemauan bebas. Kedua anggapan ini merupakan unsur paling hakiki dalam teori ilmu sosial.

Ideografis – Nomotetis: Debat Metodologis

Pendekatan ideografis mengatakan bahwa seseorang hanya dapat memahami kenyataan sosial melalui pencapaian pengetahuan langsung dari pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa sosial. Pendekatan ini menekankan analisisnya secara subyektif dengan cara masuk ke dalam keadaan dan melibatkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan langsung sedelkat mungkan dengan memahami sejarah hidup dan latar belakang para pelaku sangat penting dalam pendekatan ini. Masalah yang diteliti dibirkan muncul apa adanya.

Pendekatan nomotetis mementingkan adanya seperangkat teknik dan tata cara sistematik dalam penelitian, seperti metode ilmu alam dengan mengutamakan proses pengujian hipotesa dengan dalil-dalil yang baku. Cara ini juga mengutamakan teknik-teknik kuantitatif untuk menganalisis data. Survei, angket, tes kepribadian dan alat-alat baku yang sering digunakan dalam metodologi nomotetis.


IV. ANGGAPAN-ANGGAPAN DASAR MENGENAI SIFAT ILMU SOSIAL

Ada dua tradisi pemikiran besar yang mewarnai perkembangan ilmu sosial selama lebih duaratus tahun terakhir. Pertama adalah sosiologi positivisme. Aliran ini mewakili pandangan yang berusaha menerapkan cara dan bentuk penelitian ilmu alam ke dalam pengkajian peristiwa sosial atau kemanusia. Realitas sosial disamakan dengan realitas alam. Meniru kaum realis dalam ontologinya, kaum positivis dalam epistemologinya, pandangan deterministik mengenai sifat manusia dan nomotetis dalam metodologinya.

Tradisi kedua adalah idealisme Jerman, berlawanan dengan yang pertama. Aliran ini menyatakan bahwa realitas tertinggi bukan kenyataan lahir yang dapat dilihat oleh indera, tetapi “ruh” atau “gagasan”. Karena itu, ontologinya nominalis, epistemologinya anti-positivis damana sifat subyektifitas dari peristiwa kemanusiaan lebih penting dan menolak cara dan bentuk penelitian ilmu alam, berpandangan volunteris terhadap fitrah manusia, dan menggunakan pendekatan ideografis dalam analisis sosialnya.

Sejak 70 tahun terakhir telah mulai bersentuhan antara kedua tradisi besar terutama di bidang filsafat sosial. Jalan tangan dari kedua kutub memunculkan bebrapa pemikiran baru seperti fenomenologis, etnometodologi dan terori-teori aksi. Aliran tengah ini sealin menyatakan pendiriannya sendiri sering juga menentang aliran sosiologi positivisme. Aliran-aliran ini dapat dipahami dengna baik dengan mengenali perbedaan-perbedaan anggapan dasarnya masing-masing.


V. ANGGAPAN-ANGGAPAN DASAR TENTANG HAKEKAT MASYARAKAT

Semua pendekatan dalam mengkaji masyarakat didasarkan pada kerangka berpikir, pandangan dan anggapan-anggapan dasar tertentu.

Debat Ketertiban – Pertentangan (Order-Conflict Debate)

Dahrendorf (1959) dan Lockwood (1956) mengadakan pembedaan pendekatan sosiologi dalam dua pandangan: pandangan tentang sifat keseimbangan dan ketertiban sosial dan pandangan mengenai perubahan, pertentangan dan pemaksaan suatu tatanan masyarakat. Yang pertama penganutnya jauh lebih banyak dari kedua. Menurut Dawe, yanhg pertama merupaka teori sosial. Cohen (1968), Silverman (1970), Van den Bergh (1969) mwnganggap perdebatan itu semu dan tidak ada gunanya. Coser (1956) memandang pertentangan sosial berfungsi penting untuk mnenjelaskan ketertiban sosial sehingga perlu dijadikan ragam dalam teori sosial.

Cohen (1968), berdasarkan anggapan dasarnya mengenai corak sistem sosial, menyebutkan bahwa corak sistem sosial yang tertib ditandai oleh: perjanjian bersama (commitment), kerapatan (cohesion), kesetiakawanan (solidarity), kesepakatan (consensus), imbal balik (reciprocity), kerjasama (coorperation), keterpaduan (integration), ketetapan (stability), dan kekukuhan (persitence). Corak pertentangan sosial ditandai pemaksaan (coercion), pemisahan (division), percekcokan (hostility), ketidaksepakatan (dissensus), pertentangan (conflict), ketidakpaduan (malintegration) dan perubahan (change).

Ketertiban dan Pertentangan

Selanjutnya ia mengatakan bahwa Dahrendorf keliru karena membuat pemisahan antara ketertiban dan pertentangan, padahal sangat mungkin teori sosial menggabungkan unsur-unsur kedua corak masyarakat, sehingga tidk perlu diperdebatkan.

Tahun 1960-an lahir gerakan budaya penentang (counter-culture movement). Tahun 1968 revolusi Perancis gagal, maka sosiolog kemudian beralih dari kajian-kajian tentang tatanan (struktur) masyarakat ke kajian-kajian perseorangan. Gerakan kaum subyektivis dan teori aksi semakin diminati sehingga perdebatan ketertiban dan pertentangsan sosial terbenam kalah, debat fisafat dan metode ilmu sosial kian marak. Dengan tenggelamnya perdebatan itu maka pakar sosial merupakan karya Marx dan cenderung melirik Weber, Durkheim dan Pareto yang cenderung mengkaji satu sisi dari masyarakat, yaitu ketertiban sosial. Karena itu sangatlah penting menghidupkan kembali debat ketertiban sosial. Karena itu sangatlah penting menghidupkan kembali debat ketertiban dan pertentangan karena apa yang disebut “kesepakatan sosial” bisa jadi hasil penggunaan kekuatan yang memaksa.

Wright Mills (1959) menyatakan bahwa apa yang dikatakan Parson tentang “orientasi nilai” (value orientation) dan “tatanan nilai” (normative structure) hanyalah perlambangan untuk legitimasi kekuasaaan. Dahrendorf menyebutnya kesepakatan sebagai sistem mengesahkan tatanan kekuasaan, sedang Mills menyebutnya “penguasaan” (domination).

Analisa ketertiban sosial diwakili oleh teori-teori fungsional yang cenderung meladeni kepentingan kekuasaan, bersifat statis dalam arti ingin melanggengkan kemapanan (status quo). Teori pertentangan justru bertujuan menjelaskan proses dan sifat perubahan struktural paling mendasar dalam masyarakat. Yang ingin dituju adalah terjadinya transformasi masyarakat secara radikal.

Banyak analisis tentang ketertiban dan pertentangan ini sering salah tafsir, terjebak dan membuat pengertian menjadi suram tentang perbedaan mendadsar keduanya. Oleh karena diusulkan adanya perubahan-perubahan tertentu yang lebih tegas dan radikal dalam menganalisis keduanya, maka digantilah peristilahan yang lain sama sekali yakni: keteraturan (regul;ation) dan perubahan radikal (radical change).


VI. KETERATURAN VS PERUBAHAN RADIKAL

Istilah ini diusulkan karena telah terjadi banyak ketidakjelasan dalam membedakan corak ketertiban dan pertentangan sosial. Istilah keteraturan menunjuk pada teori sosial yang menekankan pentingnya kesatuan (unity) dan kerapatan (cohesiveness). Teori ini mendambakan adanya keteraturan dalam peristiwa kemanusiaan. Istilah perubahan radikal sarat dengan keinginan menjelaskan tentang perubahan-perubahan radikal dalam masyarakat, pertentangan-pertentangan yang mendasar dalam masyarakat, bentuk-bentuk penguasaan yang menandai masyarakat modern. Pandangan ini bertujuan membebaskan manusia dari berbagai struktur (tatanan) masyarakat yang membatasi dan menghalangi potensinya untuk berkembang. Pertanyaan-pertanyaan dasarnya adalah masalah harkat manusia, baik fisik maupun kejiwaan. Pandangan ini utopis, memandang ke depan, menanyakan apa yang mungkin dan bukan sekadar apanya saja, melihat kemungkinan berbeda dari sekadar kemapanan.

VII. DUA DIMENSI, EMPAT PARADIGMA

Sejak 1960-an telah terjadi banyak aliran pemikiran sosiologi bermunculan. Dalam perkembangannya berbagai pemikiran dasar sosiologi justru menjadi kabur. Pada awal 1970-1n telah terjadi kebuntuan dalam perdebatan sosiologi baik mengenai sifat ilmu sosial dan sifat masyarakat seperti halnya terjadi pada 1960-1n. Untuk menembus kebuntuan itu diusulkan untuk menampilkan kembali beberapa unsur penting dari perdebatan yang terjadi pada 1960-an dan cara baru dalam menganalisis empat paradigma sosiologi yang berbeda. Empat paradigma itu ialah: humanis radikal, strukturalis radikal, interpretatif, fungsionalis.

Paradigma Teori Sosial

Keempat paradigma tampak berhampiran satu sama lain tetapi tetap pada pendirian masing-masing, karena memang dasar pemikirannya berbeda secara mendasar.

Sifat dan Kegunaan Empat Paradigma

Paradigma diartikan sebagai anggapan-anggapan meta-teoretis yang paling mendasar yang menentukan kerangka berpikir, cara mengandaikan dan cara bekerjanya para penganut teori sosial yang menggunakannya. Di dalamnya tersirat adanya kesamaan pandangan yang mengikat sekelompok penganut teori dalam cara pandang dan cara kerja yang sama dalam batas-batas pengertian yang sama pula. Jika ilmuwan sosial telah menggunakan paradigma tertentu, maka berarti memandang dunia dalam satu cara yang tertentu pula. Sehingga di sini ada empat pandangan yang berbeda mengenai sifat ilmu pengetahuan dan sifat masyarakat yang didasarkan pada anggapan-anggapan meta-teoretis.

Empat paradigma itu merupakan cara mengelompokkan cara berpikir seseorang dalam suatu teori sosial dan merupakan alat untuk memahami mengapa pandangan-pandangan dan teori-teori tertentu dapat lebih menampilkan setuhan pribadi di banding yang lain. Demikian juga alat untuk memetakan perjalanan pemikiran teori sosial seseorang terhadap persoalan sosial. Perpindahan paradigma sangat dimungkinkan terjadi, dan ini revolusi yang sama bobotnya dengan pindah agama. Hal ini pernah terjadi pada Marx yang dikenal Marx tua dan Marx muda, perpindahan dari humanis radikal ke strukturalis radikal. Ini disebut “perpecahan epistemologi” (epistemological break). Juga terjadi pada diri Silverman, dari fungsionalis ke interpretatif.

Paradigma Fungsionalis

Paling banyak dianut di dunia. Pandangannya berakar kuat pada tradisi sosiologi keteraturan. Pendekatannya terhadap permasalahan berakar dari pemikiran kaum obyektivis. Memusatkan perhatian pada kemapanan, ketertiban sosial, kesepakatan, keterpaduan sosial, kesetiakawanan, pemuasan kebutuhan dan hal-hal yang nyata (empirik). Condong realis dalam pendekatannya, positivis, determinis dan nomotetis. Rasionalitas diutamakan dalam menjelaskan peristiwa sosial, berorientasi pragmatis artinya berusaha melahirkan pengetahuan yang diterapkan, berorientasi pada pemecahan masalah yakni langka-langkah praktis untuk pemecahan masalah praktis juga. Mendasarkan pada filsafat rekayasa sosial untuk dasar bagi perubahan sosial, menekankan pentingnya cara-cara memelihara dan mengendalikan keteraturan sosial. Berusaha menerapkan metode ilmu alam dalam pengkajian masalah kemanusiaan.

Paradigma ini mulai di Perancis pada dasawarsa pertama abad ke-19 dibentuk karena pengaruh karya August Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim dan Wilfredo Pareto. Aliran ini mengatakan: realitas sosial terbentuk oleh sejumlah unsur empirik nyata yang hubungan semua unsurnya dapat dikenali, dikaji, diukur dengan cara dan menggunakan alat seperti dalam ilmu alam. Menggunakan kias ilmu mekanikan dan biologi untuk menjelaskan realitas sosial sangan biasa dalam aliran ini.

Sejak awal abad ke-20, mulai dipengaruhi oleh tradisi pemikiran idealisme Jerman seperti karya Max Weber, George Smmel dan George Herbert Mead. Banyak kaum fungsionalis mulai meninggalkan rumusan teoretis dari kaum obyektivitas dan memulai persentuhan dengan paradigma interpretatif. Kias mekanika dan biologi mulai bergeser ke pandangan para pelaku langsung dalam proses kegiatan sosial. Pada 1940-an, pemikiran sosiologi perubahan radikal mulai menyusupi kubu kaum fungsionalis untuk meradikalisasi teori-teori fungsionalis. Sungguh pun telah terjadi persentuhan dengan paradigma lain, paradigma fungsionalis tetap saja secara mendasar menekankan pemikiran obyektivitas tentang realitas sosial untuk menjelaskan keteraturan sosial. Karena persentuhan dengan paradigma lain itu maka sebenarnya telah lahir beragam pemikiran yang berbeda dalam paham fungsionalis.

Paradigma Interpretatif

Kubu ini sebenarnya menganut ajaran-ajaran sosiologi keteraturan, tetapi mereka menggunakan pendekatan subyektivitas dalam analisa sosialnya, sehingga hubungan mereka dengan sosiologi keteraturan bersifat tersirat. Mereka ingin memahami kenyataan sosial menurut apa adanya, mencari sifat yang paling dasar dari kenyataan sosial menurut pandangan subyektif dan kesadaran seseorang yang langsung terlibat dalam peristiwa sosial bukan menurut orang lain yang mengamati.

Pendekatannya cenderung nominalis, anti-positivis dan ideografis. Kenyataan sosial muncul karena dibentuk oleh kesadaran dan tindakan seseorang. Karenanya mereka berusaha menyelami jauh ke dalam kesadaran dan subyektifitas pribadi manusia untuk menemukan pengertian apa yang ada di balik kehidupan sosial.

Sungguhpun demikian, anggapan-anggapan dasar mereka masih tetap didasarkan pada pandangan bahwa manusia hidup serba tertib, terpadu dan rapat, kamapanan, kesepakatan, kesetiakawanan. Pertentangan, penguasaan, benturan sama sekali tidak menjadi agenda kerja mereka. Mereka ini terpengaruh langsung oleh pemikiran sosial kaum idealis Jerman, yang berasal dari pemikiran Kant yang lebih menekankan sifat hakekat rohaniah daripada kenyataan sosial. Perumus teori ini antara lain Dilthey, Weber, Husserl, dan Schutz.

Paradigma Humanis Radikal

Para penganutnya berminat mengembangkan sosiologi perubahan radikal dari pandangan subyektifis. Pendekatan terhadap ilmu sosial sama dengan kaum interpretatif yaitu nominalis, anti-positivis, volunteris dan ideografis. Arahnya berbeda, yaitu cenderung menekankan perlunya menghilangkan atau mengatasi berbagai pembatasan tatanan sosial yang ada.

Pandangan dasarnya yang penting adalah bahwa kesadaran manusia telah dikuasai atau dibelenggu oleh suprastruktur ideologis yang ada di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya dengan kesadarannya yang murni (aliensi), atau membuatnya dalam kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati. Karena itu agenda utamanya adalah memahami kesulitan manusia dalam membebaskan dirinya dari semua bentuk tatanan sosial yang menghambat perkembangan manusia sebagai manusia. Penganutnya mengecam kemapanan habis-habisan. Proses-proses sosial dilihat sebagai tidak manusiawi. Untuk itu mereka ingin memecahkan masalah bagaiman manusia bisa memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat mereka dalam pola-pola sosial yang mapan utnuk mencapai harkat kemanusiaannya. Meskipun demikian masalah-masalah pertentangan struktural belum menjadi perhatian mereka.

Paradigma Strukturalis Radikal

Penganutnya juga memeprjuangkan sosiologi perubahan radikal tetapi dari sudut pandang obyektifitas. Pendekatan ilmiahnya memeiliki beberapa persamaan dengan kaum fungsionalis, namun mempunyai tujuan akhir yang saling berlawanan. Analisanya lebih menekankan pada pertentangan struktural, bentuk-bentuk penguasaan dan pemerosotan harkat kemanusiaan. Karenanya pendekatannya cendserung realis, positivis, determinis dan nomotetis.

Kesadaran manusia dianggap tidak penting. Hal yang lebih penting adalah hubungan-hubungan struktural yang terdapat dalam kenyataan sosial yang nyata. Mereka menekuni dasar-dasar hubungan sosial dalam rangka menciptakan tatanan sosial baru secara menyeluruh. Penganu paradigma ini terpecah dalam dua perhatian, pertma lebih tertarik untuk menjelaskan bahwa kekuatan sosial yang berbeda-beda serta hubungan antar kekuatan sosial merupakan kunci untuk menjelaskan perubahan sosial. Sebagian mereka lebihbtertarik padaa keadaan penuh pertentangan dalam suatu masyarakat. Paradigma ini diilhami oleh pemikiran Marx tua setelah terjadinya perpecahan epistemologi dalam sejarah pemikiran Marx, selain pengaruh Weber. Paradigma inilah yang menjadi bibit lahirnya teori sosiologi radikal. Penganutnya antara lain Althusser, Polantzas, Colletti, dan beberapa penganut kelompok kiri baru.

Selamat datang di blog pengumpul tulisan.

Pengumpulan adalah suatu kegiatan yang mengasyikan bagi pengumpul. Dengan melakukan pengumpulan, si pengumpul sebenarnya belajar dari orang yang telah memproduksi kumpulannya. Si pengumpul memproduksi kembali dalam wadah yang dapat dijangkau orang yang membutuhkan dalam kondisi apa adanya. Dan orang yang tertarik untuk memanfaatkannya adalah: pengumpul akhir yang mengkonsumsi bagi dirinya sendiri atau pengumpul distribusi yang akan mendistribusikan kembali kumpulannya dalam wadah yang lain.

Pengumpul bukanlah seorang plagiat. Ia tidak memproduksi karya orang lain yang ditempeli namanya sendiri. Tetapi sebagai pengumpul bisa saja  ia menciptakan karyanya sendiri secara orisinal dari berbagai kumpulan yang dimilikinya.

Mari mengumpulkan…