Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (2)

Menyingkap Misteri Manusia Sebagai Homo Faber

Pengantar Frans M. Parera

Usaha Peter Berger dan Thomas Luckmann pada tahun 1962 lewat penulisan buku ini adalah untuk menunjukkan peranan sentral sosiologi pengetahuan sebagai instrumen penting membangun teori sosiologi. Rencana semula, proyek penulisan tentang pentingnya peranan sosiologi pengetahuan itu merupakan hasil kerja sama antara ahli sosiologi dan ahli filsafat. Biarpun akhirnya buku ini ditulis hanya oleh dua orang ahli sosiologi, pengaruh teori pengetahuan dari filsafat—dalam hal itu terutama dari fenomenologi—dan ilmu-ilmu pengetahuan alam terutama biologi memang cukup besar. Proses penulisan naskah sampai terbitnya buku ini memakan waktu empat tahun, karena buku ini terbit pada tahun 1966. Ternyata sampai sekarang sambutan lingkungan akademis terhadap karya ini sungguh luar biasa. Komunitas ahli-ahli ilmu sosial menaruh perhatian besar terhadap buku ini, dan kini buku ini menjadi salah satu referensi penting bila mengulas sosiologi pengetahuan kontemporer. Boleh dibilang buku ini sudah menjadi buku klasik di bidang sosiologi pengetahuan, karena diakui sebagai tonggak penunjuk arah perkembangan teori sosiologi di masa-masa yang akan datang. Dengan demikian Peter Berger mendapat reputasi internasional sebagai ahli sosiologi pengetahuan terkemuka dewasa ini.

Minat Berger terhadap hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, berkembang dan dilembagakan, bertolak dari pemikirannya tentang masalah keagamaan. Dua buku perdananya, yaitu The Precarious Vision (1961) dan The Noise of Solemn Assemblies (1961), mengulas tentang fungsi atau posisi kritis sosiologi agama (sub-bidang sosiologi pengetahuan) berhadapan dengan perkembangan refleksi teologis dalam kalangan umat Kristen Barat. Berger berusaha menggambarkan bagaimana sekularisasi sebagai salah satu ciri peradaban modern tercermin dalam refleksi-refleksi teologis. Karena refleksi atas iman yang sudah melembaga seperti terjelma pada teologi-teologi formal juga berfungsi sebagai ideologi, maka tugas sosiologi agama antara lain menunjukkan bagaimana teologi sebagai ideologi juga memainkan peranan sebagai alat legitimasi kekuasaan politik yang dibangun oleh masyarakat untuk menertibkan kehidupan publik. Sekularisasi menunjukkan bahwa sektor publik kehidupan modern mengalami pluralisasi ideologi sehingga pengaruh dominan pemikiran keagamaan seperti pada masyarakat pra-modern semakin kecil, bahkan bergeser ke dalam kehidupan privat individu-individu (terjadi proses privatisasi kehidupan religius). Kedua karya di atas memberikan pijakan awal bagi Berger (sebelum tahun 1960 Berger mengajar Etika Sosial di Hartford Seminary Doundation) dalam pergumulan dengan masalah sosiologi pengetahuan pada periode berikut dalam perjalanan kariernya sebagai ahli sosiologi.

Periode kedua karirnya dimulai ketika Berger meninggalkan tugasnya sebagai profesor Etika Sosial di hartford Seminary dan diangkat sebagai guru besar sosiologi pada New School for Social Reseach New York, sebagai pusat gerakan fenomenologis di Amerika Serikat. Salah satu tokoh gerakan fenomenologis di bidang ilmu-ilmu sosial dan sekaligus guru Berger adalah Alfred Schutz. Alfred Schutz dipandang oleh kalangan ahli sosiologi Amerika sebagai murid Edmund Husserl, pendiri aliran fenomenologis di Jerman. Schutz berusaha memberi konteks sosial atas konsep “Lebenswelt” (dunia kehidupan) ciptaan Husserl. New School for Social Reseachmerupakan salah satu lembaga University of Buffalo, yang menerbitkan majalah Philosophy and phenomenological research. Tidak mengherankan kalau fenomenologi mempengaruhi alam pikiran Berger karena perguruan tinggi itu merupakan almamater dan sekaligus lingkungan kerja Berger.
Dalam periode ini Berger mengadakan observasi dan refleksi atas situasi sosiologi Amerika Serikat ketika itu. Pendekatan positivistis, yang sudah menjadi tradisi metodologi ilmu-ilmu alam, merupakan faktor dominan berkembangnya teori-teori sosiologi di sana. Perkembangan ilmu-ilmu sosial diresapi oleh pengaruh pemikiran model rasionalitas teknokratis, yang dianut oleh para teknokrat, politisi, birokrat, kelompok profesional lainnya serta ilmuwan dari disiplin-disiplin lainnya. Ilmu-ilmu sosial dikembangkan sejauh menjadi sarana teoritis untuk mencapai tujuan-tujuan praktis, yang tersirat dalam pelbagai perekayasaan sosial (social engineering). Dalam suasana intelektual semacam itu hampir tidak berkembang luas sosiologi alternatif seperti sosiologi interpretatif atau humanistis, yang menempatkan kegiatan sosial sebagai bagian dari kegiatan manusia konkrit yang multidimensional seperti yang dimengerti oleh filsafat manusia. Manusia-manusia konkrit dengan segala problematiknya, termasuk kebebasannya, menjadi titik tolak pencarian hakekat masyarakat sebagai tugas utama pengembangan sosiologi.
Karena penguasaannya terbadap bahasa-bahasa Eropa (terutama bahasa Jerman), Berger mempunyai akses ke sumber-sumber awal sosiologi di Eropa, terutama karya Max Weber dan Emile Durkheim. Di samping itu ia juga mempunyai akses pada sumber-sumber awal karya sosiologi pengetahuan seperti karya-karya Max Scheler, yang juga digunakan oleh Karl Mannheim (1893-1947), yang kemudian menulis karya-karyanya tentang sosiologi pengetahuan dalam bahasa Inggris dan digunakan di kalangan ahli sosiologi Amerika. Dengan bantuan literatur Eropa kontinental yang dikuasai oleh pakar-pakar di New School akhirnya Berger membangun penilaian atas situasi ilmu-ilmu sosial di Amerika. Ternyata sifuasi faktual ilmu-ilmu sosial di Amerika waktu itu memendam pertikaian problematika pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di lingkungan intelektual Eropa (khususnya di Jerman), ketika Max Weber tampil sebagai tokoh yang mempertahankan posisi humanistis dari sosiologi sebagai sub-disiplin humaniora. Dalam situasi konflik itu Max Weber berusaha mensintesa pendekatan positivistis dengan pendekatan idealistis untuk membangun pendekatan ilmu-ilmu sosial yang khas dan otonom.
Dari kenyataan itu Berger juga berusaha mengembalikan status otonomi sosiologi dari dominasi ilmu-ilmu alam dan ideologi politik. Sosiologi dikembalikan ke fungsi aslinya sebagaimana dikehendaki Weber sebagai sarana teoritis untuk memahami serta menafsir secara bertanggung jawab atas masalah-masalah kebudayaan dan peradaban umat mausia. Fungsi itu bisa dilaksanakan kalau sosiologi merupakan cara pandang dan bagian integral dari ilmu-ilmu kemanusiaan (humanities). Sementara itu sumbangan dari sumber-sumber asli fenomenologis, khususnya karya-karya Max Scheler dan Alfred Schutz, memberi bobot baru untuk sosiologi pengetahuan, yang menyimpang dari tradisi sosiologi pengetahuan selama ini. Dalam konsep teoritis “Lebenswelt” (terjemahan Inggris life-world sedang terjemahan Indonesia, ‘dunia kehidupan’) dalam tradisi fenomenologi mengandung pengertian ‘dunia’ atau ‘semesta’ yang kecil, rumit dan lengkap, terdiri atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, interaksi antarmanusia (intersubjektivitas) dan nilai-nilai yang dihayati. “Lebenswelt” itu merupakan realitas sosial orang-orang biasa (orang awam, “the man in the street”). Dalam cahaya fenomenologi dapat dikatakan bahaw dalam “Lebenswelt” terdapat gejala-gejala sosial yang mesti dideskripsikan. Tugas para pemikirlah (termasuk ahli sosiologi) untuk menemukan hakekat masyarakat di balik gejala-gejala sosial yang banyak itu. Berger kemudian yakin bahwa bersosiologi itu harus mengikuti proses berpikir seperti yang dituntut oleh fenomenologi, yakni dimulai dari kenyataan kehidupan sehari-hari sebagai realitas utama gejala kemasyarakatan. Usaha untuk memahami sosiologi pengetahuan secara teoritis dan sistematis melahirkan karya Berger yang mashur ini, The Socal Construction of Reality, A Treatise in the Sociology of Knowledge, yang dalam edisi bahasa Indonesia ini diberi judul Tafsir Sosial atas Kenyataan. Suatu Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan.


Beberapa catatan di bawah ini menjelaskan bagaimana usaha Berger untuk mendefinisi ulang tentang hakekat dan peranan sosiologi pengetahuan menarik perhatian para ahli sosiologi lain dalam usaha mereka mengembangkan teori-teori sosiologi. Pertama, usaha mendefinisikan kembali pengertian “kenyataan” dan “pengetahuan” dalam konteks sosial. Sebuah teori sosiologi harus mampu menjelaskan, sehingga kita memahami bagaimana kehidupan masyarakat itu terbentuk dalam proses-proses terus-menerus. Pemahaman itu ditemukan dalam gejala-gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan pengalaman bermasyarakat. Karena gejala-gejala sosial itu ditemukan dalam pengalaman bermasyarakat yang terus-menerus berproses, maka perhatian terarah pada bentuk-bentuk penghayatan (Erlebniss) kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh dengan segala aspeknya (kognitif, psikomotoris, emosional dan intuitif). Dengan kata lain, kenyataan sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial, yang diungkapkan secara sosial lewat belbagai tindakan sosial seperti berkomunikasi lewat bahasa’ bekerja sama lewat bentuk-bentuk organisasi sosial. Kenyataan sosial semacam ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas). Lewat intersubjektivitas itu dapat dijelaskan bagaimana kehidupan masyarakat tertentu dibentuk secara terus-menerus. Konsep intersubjektivitas menunjuk pada dimensi struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam suatu kelompok khusus yang sedang saling berintegrasi dan berinteraksi.


Kedua, timbul pertanyaan berikut: bagaimana cara meneliti pengalaman intersubjektif sehingga ditemukan bangunan atau konstruksi sosial dari kenyataan? Pertanyaan ini secara langsung mempersoalkan bagaimana cara mempersiapkan penelitian sosiologis agar mampu menemukan esensi masyarakat yang tersirat dalam gejala-gejala sosial itu. Persiapan di sini dimaksudkan dengan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial yang tepat untuk berhasil mencapai tujuan penelitian. Dalam metodologi ilmu-ilmu alam, unsur subjektif sejauh mungkin atau hampir tidak mendapat tempat dalam mendekati pelbagai masalah kealaman.


Kekeliruan pendekatan positivistis yang diterapkan dalam penelitian gejala-gejala sosial ialah bahwa gejala-gejala sosial diperlakukan kira-kira sama dengan gejala-gejala alam. Dan, yang dikejar oleh sosiologi positivistis adalah hukum-hukum perkembagan masyarakat yang pada gilirannya dapat dikuasai dan diarahkan menurut proyeksi-proyeksi perkembangan seperti model perencanaan di bidang sains dan teknologi. Padahal, gejala sosial itu bersifat intersubjektif, sehingga metodologi itu memberi tempat yang wajar pada unsur subjektif, karena apa yang dinamakan kenyataan sosial itu, selain menampilkan dimensi objektif (tradisi Durkhemian) juga sekaligus mempunyai dimensi subjektif—karena, apa yang kita namakan masyarakat itu adalah buatan kultural dari masyarakat tertentu; manusia sekaligus pencipta dari dunianya tersendiri (lingkungan fisik, organisasi sosial serta sistem nilainya). Diakui pula bahwa tidak semua gejala sosial mampu diamati secara leluasa.

Karena itu, dalam persiapan penelitian perlu diseleksi kenyataan yang penting-penting saja dan sikap-sikap subjektif yang wajar dan alamiah, seperti yang dilakukan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari—pada hari kerja, bukan pada hari-hari raya. Perhatian dipusatkan pada proses terbentuknya fakta sosial atau gejala sosial, di mana individu-individu ikut serta dalam proses pembentukan dan pemeliharaan fakta sosial yang memang mempunyai unsur paksaan pada mereka. Dalam kehidupan sehari-hari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat mikro tampak pada komunikasi tatap muka atau interaksi tatap muka. Pada situasi-situasi itu dapat ditemukan seluk-beluk kenyataan sosial yang paling penting. Sedangkan kenyataan sosial lainnya merupakan terjemahan atau perluasan dari kenyataan tatap-muka itu.
Dengan menyeleksi gejala-gejala sosial utama yang hendak diobservasi, maka yang diperhatikan dari kenyataan sosial itu adalah aspek perkembangan, perubahan serta proses tindakan sosial; aspek-aspek itu membantu si pengamat untuk memahami suatu tatanan-sosial atau orde sosial yang diciptakan sendiri oleh masyarakat dan dipelihara dalam pergaulan sehari-hari. Norma-norma dan aturan-aturan yang mengontrol tindakan manusia dan menstabilkan struktur sosial dinilai sebagai prestasi penelitian. Dengan temuan itu si peneliti mampu memberi tafsiran terhadap kejadian-kejadian dalam suatu masyarakat sebagai bukti konkrit pemahamannya atas seluk beluk suatu kehidupan masyarakat. Ternyata manusia-manusia konkrit bukanlah wadah penyimpaan dan pengawetan norma-norma sosial, sekurang-kurangnya itulah penemuan sosiologi sebagai salah satu bentuk kesadaran masyarakat modern yang penuh dinamika.

Dengan ini hendak dikatakan bahwa prestasi seorang sosiolog tampak pada kemampuannya membangun interpretasi objektif atas kejadian-kejadian yang dialami dalam masyarakat. Namun, ukuran yang menunjukkan objektivitas tafsirannya antara lain adalah interpretasinya itu dipahami pula oleh masyarakat yang ditelitinya, karena masyarakat itu sendiri sudah memiliki pengetahuan atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri. tuntutan relevansi dari suatu teori sosiologi mendapat tekanan baru di sini karena interpretasi sosiologis yang mempunyai kadar ilmiah, rasional dan sistematis dibangun di atas observasi kritis atas bangunan pengetahuan dan interpretasi masyarakat yang diteliti. Dengan kata lain tafsiran sosiologis memberikan dimensi baru atas tafsiran masyarakat yang dibentuk karena common-sense, sehingga muncul relevansi teori sosiologi atas kehidupan nyata. Sebaliknya akan sangat diragukan objektivitas suatu teori sosiologi kalau masyarakat biasa tidak mampu melihat bahaw teori sosiologi itu merupakan penyempurnaan pengetahuan sosial yang dibangun oleh common-sense, dan menjadi bahan baku analisa kegiatan ilmu-ilmu sosial selanjutnya.

Ketiga, selain persoalan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial untuk menyingkapkan hakekat realitas sosial, timbul juga masalah pilihan logika macam manakah yang perlu diterapkan dalam usaha memahami kenyataan sosial yang mempunyai ciri-ciri khas seperti bersifat pluralis, dinamis, dalam proses perubahan terus-menerus ini? Logika ilmu-ilmu sosial semacam apa yang perlu dikuasai agar interpretasi sosiologis itu relevan dengan struktur kesadaran umum dan struktur kesadaran individual yang mengacu ke struktur kesadaran umum itu? Pertanyaan ini menjadi kerisauan bagi sosiologi pengetahuan, karena sosiologi penetahuan harus menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai “pengetahuan” dalam masyarakat. Padahal, selama itu sosiologi pengetahuan lebih berupa sosiologi tentang sosiologi karena fokus perhatian selama ini pada sejarah intelektual dari golongan cendikiawan, yang menaruh minat besar pada masalah pandangan hidup masyarakat (Weltanschaung), sedangkan manusia awam tidak begitu menaruh perhatian pada kerisauan intelektual itu. Dengan kata lain, hanya segelintir orang saja yang bergumul dengan usaha menafsir secara teoritis atas dunia kehidupan, dan setiap individu dalam masyarakat berpartisipasi dengan caranya sendiri atas pandangan hidup masyarakat secara umum dan luas. Melebih-lebihkan arti penting dari pemikiran teoritis dalam masyarakat dan sejarah sudah menjadi pengalaman yang menggelikan bagi para mahasiswa dengan dosen-dosen pelbagai disiplin ilmiah di perguruan tinggi. Ini menunjukkan kelemahan kodrati para ahli teori, termasuk ahli sosiologi.

Sosiologi pengetahuan seharusnya memusatkan perhatian pada struktur dunia akal sehat (common-sense world) di mana kenyataan sosial didekati dari pelbagai pendekatan seperti pendekatan mitologis yang irasional, pendekatan filosofis yang bercorak moralistis, pendekatan praktis yang bersifat fungsional; semua jenis pengetahuan itu membangun struktur dunia akal sehat. Hal itu baru menyentuh aspek produksi pengetahuan sosial, belum pula diteliti bagaimana pendistribusian pengetahuan itu ke lembaga-lembaga sosial dan ke individu-individu. Dari perbendaharaan pengetahuan masyarakat yang dikumpulkan selama sejarah kehidupannya, ternyata pengetahuan masyarakat ini bersifat kompleks, selektif dan aspektual (indrawi, intelektif, perseptif, refleksif, diskursif, intuitif, induktif, deduktif, kontemplatif, spekulatif, praktis dan sinergis).
Mengingat kompleksitas pengetahuan masyarakat, maka lewat segi mana dia harus didekati? Sosiologi pengetahuan menyeleksi bentuk-bentuk pengetahuan yang mengisyaratkan adanya kenyataan sosial di sana. Sosiologi pengetahuan harus mampu melihat pengetahuan dalam struktur kesadaran individual dan bisa membedakan antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu kenyataan menjadi kurang lebih diungkapkan, sedangkan kesadaran menjadikan saya lebih mengenal diri sendiri yang sedang berhadapan dengan kenyataan tertentu itu. Pengetahuan lebih berurusan antara subjek dengan objek yang berbeda dengan dirinya sendiri, sedangkan kesadaran lebih berurusan dengan subjek yang sedang mengetahui dirinya sendiri. pengetahuan dalam dunia sehari-hari seringkali dikacaukan dengan kegiatan-kegiatan efektif yang menyertainya sehingga terjadi distorsi dan penyimpangan-penyimpangan. Berhadapan dengan pengetahuan sosial sehari-hari yang begitu berbeda-beda antara satu sama lain, maka ditemukan secara sah masalah relativisme, historisisme dari pengetahuan, yang akan menjadi objek penelitian sosiologi pengetahuan sesudahnya. Dengan usaha sosiologi pengetahuan semacam itu, maka sosiologi pengetahuan menjadi pintu masuk utama dalam kegiatan membangun teori sosiologi yang relevan dengan konteks sosialnya.
Karena dalam pengetahuan sosial terdapat prinsip-prinsip pemikiran yang bersifat kontradiktif dan kontratif maka logika yang berpijak di atas prinsip identitas (principium identitatis) jelas tidak memadai lagi (seperti diterapkan dalam logika ilmu-ilmu alam). Sekurang-kurangnya untuk memahami dunia akal-sehat maka digunakan prinsip logis dan sekaligus prinsip non-logis—dengan kata lain berpikir dengan berpijak pada prinsip kontradiksi. Itu berarti kemampuan berpikir dialektis (tesis-antitesis dan sintesis) merupakan persyaratan ilmiah awal atau elementer yang perlu dicapai oleh seorang ahli sosiologi, sehingga dia mampu mensintesakan gejala-gejala sosial yang kelihatan bersifat kontradiksi dan paradoksal ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan. Di atas bangunan sosial dari kenyataan yang paradoksal dan kontradiktif itu, boleh dikembangkan suatu teori sosiologi yang bersifat makro dan universal, sehingga sifat sosiologi modern akhirnya menampakkan ciri kosmopolitan (aspek makro-sosiologi).
Kemampuan berpikir dialektis ini dimiliki oleh Berger seperti juga dimiliki oleh Karl Marx, serta para filsuf eksistensial, yang menyadari hakekat manusia sebagai makhluk paradoksal. Ciri paradoksal dari hakekat manusia itu tercermin pula dalam dunia intersubjektivitas, malahan ciri paradoksal menjadi lebih kompleks lagi. Seperti sudah dijelaskan di atas, baru jaman sekaranglah sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik dirumuskan dan makin disadari. Kenyataan sosial lebih diterima sebagai kenyataan ganda daripada hanya suatu kenyataan tunggal. Kenyataan kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi objektif dan subjektif. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan objektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan subjektif). Dengan kemampuan berpikir dialektis, di mana terdapat tesa, antitesa dan sintesa, Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Karya Berger ini menjelajahi berbagai implikasi dimensi kenyataan objektif dan subjektif, maupun proses dialektis dari objektivasi, internalisasi dan eksternalisasi.
Salah satu tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan adanya dialektika antara diri (the self) dengan dunia sosio-kultural. Dialektika itu berlangsung dalam suatu proses dengan tiga “momen” simultan, yakni eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia), objektivasi (iteraksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan internalisasi (individu mengidentifikasi diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya). Kemandegan dari teori-teori sosiologi selama ini adalah hanya memperhatikan salah satu momen dialektis itu dan kurang melihat hubungan atau interplay antara ketiga momen dialektis itu. Dalam strategi pengembangan sosiologi di masa depan, harus diusahakan suatu sintesa antara ketiga momen dialektis yang selama ini belum diusahakan dengan berhasil.
Buku ini mencoba mengadakan sintesa antara fenomena-fenomena sosial yang tersirat dalam tiga momen dialektis itu dan memunculkan suatu konstruksi kenyataan sosial, yang dilihat dari segi asal-usulnya merupakan hasil ciptaan manusia, buatan interaksi intersubjektif. Dari tradisi Durkhemian dan tradisi fungsionalisme struktural (Parsonian), yang lebih memperhatikan momen objektivasi, Berger menerima asumsi mereka bahwa harus diakui adanya eksistensi kenyataan sosial objektif yang ditemukan dalam hubungan individu dengan lembaga-lembaga sosial (salah satu lembaga sosial yang besar adalah negara). Dan aturan sosial atau hukum-hukum yang melandasi lembaga-lembaga sosial bukanlah hakekat dari lembaga-lembaga itu, karena lembaga-lembaga itu ternyata hanya produk buatan manusia, produk dari kegiatan manusia. Ternyata ciri coersive dari struktur sosial yang objektif merupakan suatu perkembangan aktivitas manusia dalam proses eksternalisasi atau interaksi manusia dengan struktur-struktur sosial yang sudah ada. Aturan-aturan sosial yang bersifat memaksa secara dialektis bertujuan untuk memelihara (maintain) struktur-struktur sosial yang sudah berlaku, tetapi belum tentu menyelesaikan proses eksternalisasi individu-individu yang berada dalam struktur-struktur itu. Sebaliknya, dalam pengalaman sejarah umat manusia, kenyataan objektif dibangun untuk mengatur pengalaman-pengalaman individu yang berubah-ubah, sehingga masyarakat terhindar dari kekacauan dan dari situasi tanpa makna. Perubahan-perubahan sosial terjadi kalau proses eksternalisasi individu-individu menggerogoti tatanan sosial yang sudah mapan dan diganti dengan suatu orde yang baru, menuju keseimbangan-keseimbangan yang baru. Dalam masyarakat yang lebih menonjolkan stabilitas, maka individu-individu dalam proses eksternalisasinya mengidentifikasikan dirinya dengan peranan-peranan sosial yang sudah dilembagakan dalam institusi-institusi yang sudah ada. Peranan-peranan sudah dibangun polanya, dilengkapi dengan lambang-lambang yang mencerminkan pola-pola dari peranan-peranan. Dalam kehidupan sehari-hari individu-individu menyesuaikan dirinya dengan pola kegiatan peranannya serta ukuran-ukuran dari pelaksanaan atau performance dari peranan yang dipilih. Peranan menjadi unit dasar dari aturan-aturan yang terlembaga secara objektif.
Salah satu lembaga besar dalam masyarakat yang sangat mempengaruhi proses eksternalisasi individu-individu adalah negara. Negara dengan birokrasinya sangat mewarnai kehidupan publik dari individu-individu, bahkan dari pengalaman bernegara di beberapa tempat juga memasuki kehidupan privat individu-individu. Struktur-struktur objektif masyarakat dalam pandangan sosiologi pengetahuan Berger dan luckmann tidak pernah menjadi produk akhir dari suatu interaksi sosial, karena struktur berada dalam suatu proses objektivasi menuju suatu bentuk baru internalisasi yang akan melahirkan suatu proses eksternalisasi yang baru lagi. Itulah perjalanan sejarah perkembangan kehidupan sosial. Perubahan itu tidak akan cepat terjadi apabila ada rasa aman yang dialami individu-individu berhadapan dengan struktur objektif. Rasa aman di sini bukan dalam arti aman secara materia, tetapi aman secara rohani, antara lain karena makna kehidupannya dijamin dalam struktur objektif ini. Bila individu-individu kehilangan rasa aman atau mengalami alienasi, maka ancaman terhadap struktur objektif mulai muncul, biarpun hanya dalam taraf kesadaran subjektif. Karena itu, suatu sosiologi pengetahuan yang memiliki daya interpretasi sosial yang komprehensif dan relevan, harus berpaling pula pada struktur kesadaran subjektif, yang selama ini sudah diteliti dan diamati oleh prikologi sosial, yang menggugat kesadaran kita terhadap arti penting dunia subjektif manusia.
Tradisi Weberian serta psikologi sosial lebih memperhatikan momen internalisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Individu-individu dalam perjalanannya di dunia sosial mengalami proses sosialisasi untuk menjadi anggota organisasi sosial. Psikologi sosial membedakan sosialisasi primer, yang dialami individu pada masa kecil (masa pra-sekolah dan masa sekolah) dan sosialisasi sekunder (yang dialami individu pada usia dewasa dan memasuki dunia publik, dunia pekerjaan dalam lingkungan sosial yang lebih luas).
Pada umumnya, proses sosialisasi baik pada fase primer maupun sekunder berlangsung tidak sempurna, karena kenyataan sosial yang kompleks itu tidak dapat diserap dengan sempurna oleh setiap individu. Setiap individu menyerap satu bentuk tafsiran tentang kenyataan sosial secara terbatas, sebagai cermin dari dunia objektif. Diakui ada hubungan simetris antara kenyataan sosial objektif dan kenyataan sosial subjektif, namun keduanya tidak sama, tidak identik. Memandang masyarakat mirip seperti melihat bangunan rumah; ada bangunan luar dan interiornya, dua-duanya kita namakan rumah. Dalam proses internalisasi, tiap individu berbeda-beda dalam dimensi penyerapan, ada yang lebih menyerap aspek ekstern, ada juga yang lebih menyerap bagian intern. Tidak semua individu dapat menjaga keseimbangan dalam penyerapan dimensi objektif dan dimensi subjektif kenyataan sosial itu.
Aliran lain dalam sosiologi modern adalah yang memusatkan perhatian pada gejala perubaan sosial, gejala ketimpangan sosial atau gejala modernisasi. Berger memandang aliran-aliran itu memusatkan perhatian pada momen eksternalisasi di mana semua individu yang mengalami sosialisasi secara tidak sempurna, bersama-sama membentuk kenyataan sosial yang baru. Perubahan memang berlangsung lambat tetapi tak terelakkan, karena pasti akan terjadi. Tema modernitas yang menarik perhatian para sosiolog Dunia Ketiga sebenarnya melihat kenyataan sosial dalam proses eksternalisasinya. Teori sosiologi yang menaruh minat pada gejala kekuasaan dalam masyarakat (sosiologi politik) akan menyoroti masalah “legitimasi kekuasaan”.
Berger juga menerima adanya dunia institusional objektif yang membutuhkan cara penjelasan dan pembenaran atas kekuasaan yang sedang dipegang dan dipraktekkan. Tidak cukup menjelaskan proses legitimasi sebagai cara penjelasan dan pembenaran tentang asal-usul pengertian pranata sosial dan proses pembentukannya (seperti para ahli sejarah melihatnya); juga percobaan mengaitkan sistem makna yang melekat pada lembaga-lembaga atau praktek-praktek institusional dan penerimaan bersama (konsensus) seperti yang digarisbawahi oleh para ideolog dan ahli indoktrinasi tentang suatu ideologi. Usaha setiap masyarakat untuk melembagakan pandangan atau pengetahuan mereka tentang masyarakat akhirnya mencapai tingkat generalitas yang paling tinggi, di mana dibangun suatu dunia arti simbolik yang universal, yang kita namakan pandangan hidup atau ideologi. Pandangan hidup yang diterima umum itu dibentuk untuk menata dan memberi legitimasi pada konstruksi sosial yang sudah ada serta memberikan makna pada pelbagai bidang pengalaman mereka sehari-hari. Sosiologi pengetahuan akan melihat pandangan hidup atau ideologi atau dunia simbolik yang sarat dengan makna-makna sosial itu bukan hakekat suatu masyarakat, karena hanya golongan cendikiawan dan teoritikus sosial yang menaruh minat besar pada dunia simbolik itu, sedangkan anggota masyarakat yang lain hanya partisipan biasa dari dunia makna itu. Berpartisipasi dalam pandangan hidup tertentu hanyalah salah satu gejala objektivasi dari individu, yang menerima kenyataan objektif yang mempengaruhi hidupnya. Legitimasi di sini dilihat sebagai proses penjelasan dan pembenaran dari suatu interaksi antara individu. Legitimasi di satu pihak memberi nilai kognitif pada makna-makna dunia lembaga, sehingga aturan-aturan yang dikeluarkan dari lembaga-lembaga mendapat status norma. Dengan demikian legitimasi mempunyai komponen yang bersifat kognitif dan komponen yang bercorak normatif, sehingga tampak suatu sistem nilai dan sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan mendahului adanya sistem nilai dalam masyarakat (Knowledge precedes value in the legitimation of institutions).
Dengan memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan itu—eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi—serta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan normatif, maka yang kita namakan kenyataan sosial itu merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat sendiri dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, ke masa kini dan menuju masa depan. Usaha Berger untuk memadukan pelbagai perspektif dari pelbagai aliran teori sosiologi yang lebih memperhatikan satu aspek dan melalaikan aspek yang lain sehingga menjadi suatu konstruksi teoritis yang memadai, boleh dikatakan cukup berhasil, karena penjelasan ini mampu menampilkan hakikat masyarakat yang bercorak pluralistis, dinamis, serta kompleks. Dengan demikian, peranan sosiologi pengetahuan yang selama ini dianggap berisi sejarah pemikiran intelektual mendapat bobot baru sehingga tampil sebagai instrumen penting untuk menemukan hakekat masyarakat secara lebih jelas di masa yang akan datang.
Sampai sekarang banyak buku dan karangan telah ditulis oleh Berger, yang juga dikenal sebagai penulis yang produktif dan menggunakan bahasa penyajian yang enak dan mudah dicerna. Sudah hampir 30 tahun buku ini telah dikarang, yang melaporkan proses pemikirannya pada waktu itu tentang hubungan pengetahuan dan gejala masyarakat. Ironisnya edisi Indonesia dari karya klasik itu baru beredar di kalangan intelektual dan komunitas ilmuwan sosial Indonesia hampir 30 tahun kemudian. Meskipun begitu terlambatnya proses penerjemahan buku ini, kita sambut edisi Indonesianya dengan gembira, karena kontribusi buku ini diharapkan dapat membangun cara pandang alternatif atas masyarakat. Sosiologi pengetahuan ternyata mempunyai kemampuan subversif karena dapat mengganggu pandangan stabilitas suatu masyarakat—karena ternyata masyarakat itu buatan masyarakat itu sendiri, seperti kehidupan individual adalah buatan dirinya sendiri.
Judul edisi Indonesia yang berbunyi Tafsir Sosial atas Kenyataan ini merupakan usaha maksimal penerbit untuk menerjemahkan The Social Construction of Reality. Terjemahan ini barangkali tidak dapat diterima oleh mereka yang sudah membaca karya aselinya. Namun, menurut penerbit itulah pilihan terakhir dalam usaha menerjemahkan judul aslinya.
Dalam setiap cabang ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah memperoleh pengetahuan dan pengertian serta menerapkan pengetahuan itu pada masalah-masalah yang selalu saja timbul. Ini berlaku pula pada sosiologi pengetahuan yang menjadi tema sentral pembahasan buku ini. Lewat usaha menjelaskan dialektika antara diri manusia dan lingkungan sosio-kultural, Berger berhasil merumuskan dan menyadarkan kita tentang sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik. Bila Karl Marx telah berhasil menjelaskan bagaimana matter menciptakan mind, maka Berger dan Luckmann juga secara meyakinkan menjelaskan bagaimana mind menciptakan matter. Dua-duanya terlibat dalam usaha menyingkapkan misteri manusia sebagai Homo Faber, manusia tindakan dan aksi yang kini dalam kebingungan dalam memberi makna pada hasil karyanya sendiri.

Jakarta, 8 Januari 1990

Bahan Bacaan

Berger, Peter, Invitation to Sociology, A Humanistic Perspective, Garden City, Doubleday, 1963.
—— The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. Garden City: Doubleday, 1967
—— Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural. Garden City: Doubleday, 1969
—— Sociology : A Biographical Approach. New York: Basic Books, 1972
—— Sociology Reinterpreted. An Essay on Method and Vocation. Garden City: Doubleday, 1981
Cassirer, Ernst, An Essay on Man. An Introduction to A Philosophy of Human Culture. New Haven: Yale University, 1944
Dieter Evers, Hans, Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1988
Drijarkara, N., Percikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan, 1964
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid I. Jakarta: Gramedia, 1985
Laeyendecker, I.., Tata, Perubahan dan Ketimpangan, Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta : Gramedia, 1963
Poloma, Margaret M., Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali, 1984
Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali 1985
Van Ufford, Philip Quarles, et al., Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan. Jakarta : Gramedia 1989
Veeger, K.J., Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia, 1985
Wuthnow, Robert, et al., Cultural Analysis. The Work of Peter L. Berger, Mary Douglas, Michel Foucault and Jurgen Habermas. Boston: Routledge & Kegan Paul, 1984




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: